Jakarta, Itech- Sekedar diketahui, mayoritas penambangan emas skala kecil atau rakyat masih menggunakan teknik amalgamasi menggunakan merkuri. Padahal, untuk penambangan skala besar atau industri, teknik amalgamasi telah ditinggalkan karena berbahaya dan tidak efisien. Karena itu, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) mengembangkan teknologi pengelolaan penambangan emas tanpa merkuri bagi pertambangan skala kecil.
Saat ini tercatat 850 lokasi penambangan emas skala kecil dan terus menerus memakai teknik merkuri. Karenanya BPPT terus mendorong agar pengolahan tambang emas tidak memakai merkuri. ” BPPT selama dua tahun, telah melakukan kajian, inovasi teknologi pengelolaan emas yang bebas merkuri, dan akan diterapkan kepada pertambangan skala kecil,” kata Direktur Pusat Teknologi Sumberdaya Mineral BPPT Dadan M Nurjaman di Jakarta, Rabu (5/4).
Menurut Dadan, BPPT akan memberikan rekomendasi teknologi pengolahan berdasarkan karakteristik dari tipe emas yang dihasilkan tambang rakyat. Menurutnya kita harus bisa membedakan tipe edapan emasnya, ada tipe sekunder dan tipe primer ini sangat penting untuk memilih teknologi yang tepat dan itu harus disadari pengolahan dengan merkuri efesiensinya hanya 50% dengan metode yang BPPT kembangkan bisa diatas 80% dari sisi ekonominya nanti akan menjadi lebih tinggi. Rekomendasi lain adalah tata kelola atau tata niaga harus diawasi dengan ketat.
Tahun 2017 ini, BPPT akan melakukan uji coba pengelolaan penambangan emas tanpa merkuri di Pacitan, dan Banyumas, bekerjasama dengan Kementerian ESDM. “Dengan adanya teknologi tersebut diharapkan tambang rakyat tidak lagi menggunakan merkuri dan penggunaan merkuri sudah bisa terukur. Selain itu, dampak lingkungan dan kesehatan bisa dikurangi karena itu yang penting dalam pengembangan teknologi tersebut,” tambahnya. (red)