
Jakarta, Itech- Menandai HUT ke-1 Newton UK-Indonesia Science & Technology Fund di 2017, Pemerintah Indonesia dan Inggris mengumumkan 10 proyek penelitian kolaboratif baru dalam berbagai topik. Menteri Ristekdikti M. Nasir mengatakan, para peneliti dan inovator, merupakan aktor kunci dalam menggali potensi yang dimiliki negara. Hasil penelitian tidak dapat dikategorikan inovasi apabila belum berguna bagi masyarakat.
“Untuk mencapai hal tersebut, kolaborasi dengan Inggris ini sangat dibutuhkan sehingga kita tidak perlu memulai dari nol. Kita berusaha menemukan cara yang lebih baik untuk memajukan masyarakat global” ujar M. Nasir disela Peringatan HUT Ke- 1 Newton UK-Indonesia Science & Technology Fund di Jakarta (5/4). Ditambahkan, ‘Indonesia bergerak maju untuk membangun ‘masyarakat ekonomi berbasis pengetahuan (knowledge based society) . Iptek dan inovasi akan memainkan peran kunci dalam mencapai ambisi itu’.
Akhir tahun 2016, tiga penyandang dana penelitian dan inovasi Indonesia, meliputi Kemenristekdikti, LIPI dan Dana Ilmu Pengetahuan Indonesia (DIPI), telah bekerjasama dengan 4 mitra pelaksana Inggris. Tahun ini, mitra pelaksana Inggris dan penyandang dana Indonesia, tengah mendiskusikan kemungkinan kerjasama di bidang ‘hydro-meteorological hazard’, dengan fokus khusus pada daerah perkotaan, serta penelitian unik terkait ‘geografis wilayah Wallacea’.
Sementara itu, Kantor Meteorologi Inggris Met Office dan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) telah melakukan pembicaraan awal untuk penelitian bersama mengenai layanan cuaca dan iklim. British Council dan Pemerintah Indonesia juga akan melakukan finalisasi kerjasama beasiswa doktoral. Program ini merupakan program beasiswa pertama yang didanai bersama Pemerintah Indonesia dan Inggris Raya.
Pada kesempatan yang sama, Dubes Inggris untuk Indonesia, ASEAN dan Timor Leste Moazzam Malik mengatakan “Inggris dan Indonesia telah sepakat untuk mengalokasikan dana komitmen bersama sebesar £ 8 juta untuk mendanai proyek terbaik penelitian kolaboratif Inggris-Indonesia”. Newton Fund juga telah meningkatkan alokasi dana tahunan dari hingga £ 2 juta untuk sampai £ 3 juta untuk dapat memberikan inisiatif bersama baru. Saat ini Inggris terus memprioritaskan kemajuan Iptek dan inovasi karena kami menyadari bahwa ilmu pengetahuan dan inovasi akan memberikan solusi untuk tantangan global saat ini.
Sementara itu, Muhammad Dimyati mengatakan bahwa Pemerintah Indonesia terbuka terhadap berbagai bentuk kerjasama internasional. Kementerian Ristekdikti memahami pentingnya bekerja bergandengan tangan dengan mitra Internasional untuk memajukan ilmu pengetahuan, teknologi dan inovasi, karena penelitian tidak mengenal batas.
Newton Fund merupakan program nyata buah dari ‘Memorandum of Understanding (MoU) antara Pemerintah Indonesia dan Inggris mengenai Riset dan Teknologi’, yang penandatanganannya disaksikan oleh Presiden Joko Widodo dan Perdana Menteri David Cameron pada tahun 2015. “Hari ini kita akan mendengarkan langsung dari peneliti terpilih betapa pentingnya penelitian mereka bagi kepentingan masyarakat, dan dengan kerjasama riset dan inovasi internasional kita akan memperoleh hasil yang lebih baik ” ujar Dimyati.
Ditempat yang sama, Country Director British Council Indonesia Paul Smith mengatakan penguatan kapasitas ilmiah di negara-negara ekonomi berkembang seperti Indonesia akan memastikan solusi ilmiah, teknik dan teknologi untuk isu-isu utama pembangunan. Hal ini juga akan menginspirasi dan melatih tenaga kerja teknis melek huruf dan kewirausahaan sekaligus menanamkan budaya kebijakan berbasis karya di lembaga-lembaga Indonesia. “Kolaborasi bersama antara peneliti Indonesia dan Inggris yang telah secara signifikan menata ulang sektor penelitian di Indonesia dan menunjukkan bagaimana pentingnya pengembangan kapasitas ilmiah bagi perjalanan Indonesia untuk menjadi ekonomi terbesar keempat di dunia.” (red)