ItWorks,id- Climate Policy Initiative (CPI) meluncurkan pembaruan Dasbor Pembiayaan Pembangkit Listrik di Indonesia Periode 2019–2023, sebuah platform interaktif yang menghadirkan data komprehensif mengenai arus pembiayaan sektor ketenagalistrikan nasional. Melalui inisiatif ini, CPI berupaya meningkatkan transparansi dan pemahaman publik terhadap lanskap pembiayaan energi di Indonesia.
Melalui pembaruan dasbor interaktif ini, CPI berupaya meningkatkan transparansi dan pemahaman terhadap lanskap pembiayaan ketenagalistrikan di Indonesia, serta menghadirkan analisis tren investasi berbasis data terkini yang membuka peluang kolaborasi antara sektor publik dan swasta. Terutama dalam memperkuat ekosistem investasi energi bersih menuju masa depan rendah karbon di Indonesia.
Dikembangkan melalui proses triangulasi data yang menggabungkan berbagai sumber data resmi, Dasbor ini menyajikan informasi yang kredibel, komprehensif, dan terkini mengenai lanskap investasi sektor ketenagalistrikan di Indonesia.
Analisisnya memetakan sumber pembiayaan, alokasi, penggunaan, serta membandingkan aliran investasi energi baru terbarukan (EBT) dan bahan bakar fosil, untuk membantu pemerintah, pelaku industri, dan sektor keuangan dalam mengambil kebijakan dan menangkap peluang investasi EBT yang tepat.
“Transisi energi Indonesia terus bergerak maju, namun keberhasilannya tidak hanya bergantung pada seberapa besar investasi yang dapat kita mobilisasi, tetapi juga pada ke mana dan bagaimana investasi tersebut mengalir. Data menunjukkan adanya kemajuan, tetapi masih terdapat ketimpangan. Bahan bakar fosil masih mendapatkan porsi investasi terbesar, lebih dari dua kali lipat dibandingkan energi terbarukan,” ungkap Direktur CPI Indonesia, Tiza Mafira , dalam paparan pers (31/10/2025), di Jakarta.
Pembaruan Dasbor Pembiayaan Sektor Ketenagalistrikan Indonesia 2019-2024 mengungkap bahwa sektor ketenagalistrikan Indonesia menerima total investasi sebesar US$38,02 miliar atau rata-rata US$7,6 miliar per tahun selama periode 2019–2023. Angka ini masih kurang dari setengah kebutuhan investasi tahunan sebesar US$19,4 miliar untuk mencapai target iklim nasional pada tahun 2030.
Data terbaru ini menyoroti peluang untuk mengarahkan pembiayaan secara lebih strategis menuju energi baru terbarukan (EBT) dan infrastruktur pendukung yang dapat mendorong transisi rendah karbon di Indonesia.
Beberapa temuan kunci analisis tren investasi ketenagalistrikan Indonesia pada 2019–2023:
- Rata-rata tahunan investasi EBT mencapai US$ 1,79 miliar, jauh di bawah kebutuhan investasi tahunan sebesar US$ 9,1 miliar untuk mencapai target Enhanced NCD, Indonesia.
Meskipun Indonesia baru saja meluncurkan second NDC dengan estimasi total kebutuhan investasi mencapai US$ 472,6 miliar hingga tahun 2035, tidak ada alokasi sektoral yang secara khusus dilaporkan untuk EBT. Investasi EBT juga lebih rendah dibandingkan rata-rata tahunan investasi bahan bakar














