ItWorks.id- Sebagai salah satu perusahaan logistik terbesar di Indonesia, PT Tiki Jalur Nugraha Ekakurir atau JNE Express terus memperkuat kapasitas operasionalnya melalui integrasi teknologi canggih dan penataan proses bisnis. Perusahaan yang mengusung visi “menjadi perusahaan logistik terdepan di negeri sendiri dengan berdaya saing global” ini, menghadirkan rangkaian layanan supply chain mulai dari kurir, warehouse, hingga transportasi memanfaatkan smart technology (teknologi cerdas).
Vice President of Technology JNE Express, Andries K. Indrajaya, menegaskan bahwa seluruh langkah transformasi digital diarahkan untuk peningkatan kualitas layanan, sebagaimana ia menyampaikan, “Hal ini menjadi bagian dari kerangka kerja perusahaan untuk terus-menerus bertransformasi guna tercapainya kepuasan pelanggan,” ujarnya dalam wawancara penjurian TOP Digital Awards 2025 secara daring, Jumat (28/11/2025).
Salah satu transformasi unggulannya yakni MegaHub Sorting Center, fasilitas sortir paket berkapasitas tinggi yangmampu meningkatkan efisiensi operasional dan mempercepat distribusi paket di seluruh Indonesia.“Kami mengangkat fasilitas MegaHub Sorting Center. Kapasitasnya sangat besar. Kami implementasikan sejak 2020. Untuk mesinnya diimpor dari China, sedangkan sistemnya merupakan kolaborasi antara solusi mereka dan sistem yang kami bangun,” tegasnya.
Dengan dukungan infrastruktur MegaHub yang mampu memproses hingga 2,5 juta paket per hari serta peningkatan efektivitas SLA antar kota, kinerja operasional JNE menunjukkan penguatan kapasitas bisnis sekaligus kemampuan memenuhi permintaan pasar yang semakin tinggi.
Masih menurut Andries, transformasi digital JNE dirancang dalam kerangka master plan TI yang mencakup riset dan pengembangan sistem, infrastruktur, keamanan, organisasi IT, serta teknologi kolaboratif. Struktur organisasi IT JNE dibangun secara komprehensif, dengan empat divisi utama—strategic, development, deployment, dan infrastructure yang berada langsung di bawah pimpinan ICT Group Head. “Struktur organisasi kami sebenarnya sederhana. Divisinya dibagi menjadi empat: divisi customer representative dan strategic, IT development, IT deployment, kemudian IT infrastructure,” jelas Andries, menegaskan model tata kelola yang mengutamakan kejelasan fungsi dan eksekusi.
Strategi modern JNE juga tercermin dari penggunaan hybrid data center di dua lokasi serta pemanfaatan multi-cloud dari lima provider sekaligus, masing-masing dipilih berdasarkan kompetensi dan keuntungan komersial. Pendekatan ini mendukung kebutuhan skalabilitas aplikasi, redundansi, dan ketersediaan layanan lebih stabil. Dalam proses pengembangan teknologi baru, JNE menerapkan mekanisme berlapis melalui riset, uji coba, penilaian, hingga persetujuan direksi untuk memastikan investasi yang tepat guna. “Setelah perencanaan, kami lakukan riset dan uji coba… dibuat justifikasinya, kemudian diajukan ke board of director untuk disetujui,” beber Andries.
Roadmap tersebut menempatkan JNE pada IT maturity level 4 dari skala 5, menunjukkan perusahaan telah sepenuhnya menyelaraskan strategi teknologi dengan tujuan bisnis. Meskipun masih mengejar level tertinggi, Andries mengakui adanya tantangan implementasi mengingat “mayoritas — lebih dari 80% — karyawan JNA berada di lapangan, sehingga implementasi dan uji coba cukup complicated.”
Tata Kelola dan Keamanan Siber
Dalam konteks logistik modern, tata kelola IT dan keamanan digital menjadi pilar strategis. JNE tercatat sebagai perusahaan pertama dan satu-satunya yang bersertifikat ISO 2721:2022, sebuah standar yang menegaskan kualitas pengelolaan data dan sistem operasional. Selain itu, perusahaan juga memegang ISO 27001:2022 sejak 2023, sebuah rekam jejak compliance yang jarang ditemui di industri logistik nasional.
“Kami juga telah memperoleh sertifikat ISO 27001:2022 pada tahun 2023, dan sudah dua tahun kami memegang sertifikat tersebut,” tegas Andries.
Langkah perlindungan data pelanggan diperkuat dengan pembentukan tim CERT (Computer Emergency Response Team), integrasi dengan BSSN melalui CSIRT (computer security incident response team), serta kerja sama dengan dua konsultan keamanan profesional untuk asesmen rutin. Menjawab tuntutan regulasi PDP sekaligus eskalasi serangan siber, JNE menjalankan vulnerability test dan penetration test berkala, serta mengembangkan SOC (Security Operations Center) internal.“Topik SOC ini sebenarnya menarik, dan saya siap untuk sharing apabila Bapak/Ibu ingin berdiskusi lebih jauh,” ujar Andries, menunjukkan kesiapan JNE dalam mengadopsi teknologi monitoring ancaman mutakhir.
Di bidang tata kelola operasional, perusahaan telah menurunkan 22 ISO dan 37 instruksi kerja turunan, memastikan setiap alur operasional terstandarisasi dan dapat diaudit. Pengelolaan SDLC, penanganan isu melalui IT ticketing system, serta prosedur rekrutmen khusus IT memperlihatkan kedisiplinan JNE dalam menjaga kualitas kompetensi sumber daya manusia TI-nya.
Inovasi dan Terobosan Digital
Inovasi paling menonjol JNE terletak pada implementasi MegaHub Sorting Center di Cengkareng, fasilitas modern yang telah beroperasi sejak 2020. Dengan kapasitas lebih dari 2 juta paket per hari, bahkan teruji 2,5 juta. MegaHub menjadi fondasi utama peningkatan performa mid-mile perusahaan.
“Mega Sorting Center berlokasi di area Cengkareng, dekat bandara, dan dapat memproses lebih dari 2 juta paket per hari, bahkan kemarin teruji lebih dari 2,5 juta paket,” papar Andries.
Keunggulan MegaHub bukan hanya pada kapasitasnya, tetapi juga pada integrasi sistem yang menggabungkan mesin sortir otomatis impor dengan platform yang dikembangkan internal. Sistem sortir secara mandiri memetakan paket ke bag berdasarkan kota hingga provinsi. “Begitu kita mendapat bag, itu langsung dilempar ke mesin ini dan mesin tersebut dapat menyortir paket-paket sesuai dengan tujuan masing-masing,” jelasnya. Teknologi ini memungkinkan paket dipersiapkan lebih cepat untuk proses outbound ke truk tujuan dan mempercepat distribusi ke berbagai wilayah.
Tak kalah strategis, JNE juga menerapkan CCTV AI dengan kemampuan end-to-end tracking. Sistem ini memantau seluruh perjalanan paket mulai dari truk masuk, identifikasi nomor polisi dan petugas, pembukaan boks, penghitungan bag, pergerakan di dalam MegaHub, hingga dokumentasi saat pengantaran. “CCTV AI ini kami gunakan untuk memantau sejak paket diterima, sampai akhirnya difoto di proses delivery saat paket tiba di rumah,” terang Andries.
Dampaknya signifikan: SLA lintas kota dapat dipenuhi lebih konsisten, dan kapasitas penyerapan order meningkat drastis. “Dengan adanya mesin ini, kecepatan SLA tersebut bisa dicapai sehingga kapasitas kami dalam menerima order menjadi semakin besar,” pungkasnya. (Abdullah Suntani)














