ItWorks.id- Sistem inovasi nasional perlu adaptif dalam menghadapi era hiper-transformasi yang ditandai dengan adanya perubahan global akibat techno-politik, Revolusi Industri 4.0, transformasi digital, dan transformasi hijau.
Hal tersebut disampaikan oleh Jeong Hyop Lee, saat menjadi Visiting Professor dalam acara Lecture on Science, Technology and Innovation di Kawasan Sains dan Teknologi (KST) Sarwono Prawirohardjo BRIN, Jakarta, belum lama ini, dilasnir Humas BRIN melalui portal web (11/ 12/2025).
Jeong menyampaikan materi bertema System Diagnosis and Solution Articulation in the Hyper-Transformative Era. Ia mengatakan sejumlah pelajaran strategis bagi Indonesia, antara lain penerapan Problem-Driven Iterative Adaptation (PDIA), penguatan koordinasi industri–pemerintah–universitas, serta pemanfaatan AI berbasis data nasional. “Konsorsium Public-Private Partnership (PPP) menjadi bagian penting untuk memperkuat ekosistem teknologi dan mempercepat pemanfaatan hasil riset,” tuturnya,
Jeong mengambil contoh transformasi Korea Selatan. Ia menegaskan bahwa keberhasilan inovasi membutuhkan penetapan industri prioritas, pembangunan institusi riset yang kuat, dan investasi berkelanjutan pada SDM. “Indonesia perlu meningkatkan produktivitas tenaga kerja, mendorong ekspor industri, serta memperluas investasi pada R&D untuk mendukung target menjadi salah satu dari 10 ekonomi terbesar dunia pada 2030,” imbuhnya.
Kepala Pusat Riset Pendidikan BRIN, Trina Fizzanty menekankan urgensi transformasi sistem sains, teknologi, dan inovasi (STI) Indonesia dalam menghadapi dinamika global yang semakin hiper-transformatif. Ia menyampaikan bahwa produktivitas dan daya saing Indonesia belum menunjukkan peningkatan signifikan dalam dua dekade terakhir sehingga berpotensi menghambat percepatan pembangunan nasional. “Pola kebijakan yang parsial dan berorientasi jangka pendek sering kali tidak menyentuh akar persoalan, mulai dari kelembagaan, insentif, hingga kapasitas SDM,” katanya.
Trina menyebut bahwa Indonesia saat ini menghadapi tantangan besar mulai dari perubahan iklim, penyakit, perubahan struktur industri akibat teknologi kecerdasan buatan (AI), hingga pemanfaatan bonus demografi. “Kita harus bekerja bersama lintas disiplin untuk menyelesaikan persoalan,” tegasnya.
Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya BRIN dalam memperkuat ekosistem riset nasional dan mendorong terwujudnya pembangunan berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai fondasi menuju Indonesia maju.














