ItWorks.id- Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) terus memperkuat peran riset dan inovasi agar manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat. Komitmen tersebut di antaranya diwujudkan melalui kegiatan Farm Field Day (FFD) Hilirisasi Inovasi Riset dan Teknologi Energi untuk Ketahanan Pangan di kawasan pesisir Desa Suwawal, Kecamatan Mlonggo, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah.
Kegiatan yang dilakukan belum lama ini, merupakan kolaborasi strategis antara BRIN, PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN), dan Pemerintah Kabupaten Jepara. Terutama untuk mendorong penguatan ketahanan pangan, mitigasi bencana, serta pemulihan pascabencana di wilayah pesisir yang rentan terhadap intrusi air laut, banjir rob, dan dampak perubahan iklim.
Rangkaian FFD meliputi uji performa teknologi pengolahan sampah plastik Petasol, penanaman varietas padi biosalin yang adaptif terhadap tingkat salinitas tinggi, penyerahan bantuan tanggung jawab sosial perusahaan (CSR), serta tanam serentak bersama kelompok tani di lahan pesisir.
Wakil Bupati Jepara, Muhammad Ibnu Hajar, yang membuka kegiatan secara resmi, mengapresiasi sinergi multipihak yang diinisiasi BRIN dan PGN. Ia menilai inovasi berbasis riset menjadi kebutuhan mendesak untuk menjawab tantangan pangan dan lingkungan di wilayah pesisir.“Kami mengapresiasi kolaborasi PGN dan BRIN dalam mendukung program prioritas nasional ketahanan pangan. Inovasi padi biosalin ini memanfaatkan lahan tidur pesisir yang selama ini gagal panen akibat intrusi air laut. Harapannya, program ini mampu meningkatkan perekonomian petani sekaligus menghadirkan solusi terintegrasi, termasuk pengelolaan sampah plastik sebagai sumber energi,” ucap Ibnu Hajar dilansir Humas BRIN melalui portral webnya, baru-baru ini.
Dtambahkan, selama bertahun-tahun, wilayah pesisir utara Jawa, termasuk Jepara, mengalami penurunan produktivitas lahan akibat meningkatnya salinitas tanah. Kondisi tersebut menyebabkan varietas padi konvensional sulit tumbuh, memicu gagal panen berulang, hingga alih fungsi lahan pertanian.
Menjawab tantangan tersebut, BRIN bersama PGN dan Pemerintah Daerah mengembangkan varietas padi biosalin sebagai bagian dari strategi ketahanan pangan sekaligus mitigasi bencana lingkungan. Di Jepara, program ini diawali dengan penanaman 400 kilogram benih padi biosalin di lahan seluas 5 hektare dan kini diperluas hingga 20 hektare.
Direktur Keuangan PGN, Catur Dermawan, menyampaikan bahwa dukungan terhadap padi biosalin merupakan bentuk kontribusi PGN dalam mendukung program prioritas pemerintah. Menurutnya, ketahanan pangan merupakan fondasi ketahanan nasional.“Program padi biosalin ini tidak hanya berorientasi pada hasil panen, tetapi juga pada pemulihan produktivitas lahan pesisir yang terdampak intrusi air laut. Melalui kolaborasi dengan BRIN dan pemerintah daerah, kami ingin memastikan lahan pesisir kembali bernilai ekonomi dan petani memiliki sumber penghidupan yang berkelanjutan,” jelas Catur.
Keberhasilan implementasi, lanjut Catur, padi biosalin sebelumnya telah ditunjukkan di wilayah pesisir utara Semarang dengan luasan tanam mencapai 100 hektare dan produktivitas rata-rata 5,85 ton per hektare. Capaian tersebut menunjukkan potensi besar lahan pesisir apabila didukung teknologi yang tepat.
Direktur Fasilitasi dan Pemantauan Riset dan Inovasi Daerah BRIN, Wiwiek Joelijani, menyatakan, dari sisi riset, BRIN menempatkan pengembangan padi biosalin dan teknologi energi sebagai bagian dari strategi optimalisasi lahan terdampak bencana. Ia menegaskan bahwa riset biosalin tidak hanya bertujuan meningkatkan produksi pangan, tetapi juga mendukung mitigasi dan pemulihan pascabencana.“Pengembangan padi biosalin merupakan contoh hilirisasi riset yang berorientasi pada solusi nyata di lapangan. Selain meningkatkan produksi, inovasi ini membantu masyarakat beradaptasi dan pulih dari dampak bencana lingkungan. Ke depan, hasil panen juga diarahkan untuk produksi benih guna mendorong kemandirian benih lokal,” kata Wiwiek.
Selain sektor pertanian, FFD juga menampilkan inovasi Petasol, teknologi pengolahan limbah plastik bernilai rendah menjadi bahan bakar minyak alternatif melalui proses pirolisis. Teknologi ini dimanfaatkan untuk mendukung operasional alat dan mesin pertanian sekaligus menjadi solusi pengelolaan sampah pascabencana.
Pemanfaatan Petasol sebelumnya telah diterapkan di kawasan wisata Karimunjawa dan kini diperkenalkan di Jepara sebagai pendekatan terpadu antara ketahanan pangan, pengelolaan lingkungan, dan transisi energi berkelanjutan. Wakil Bupati Jepara berharap inovasi tersebut dapat membantu masyarakat, khususnya UMKM dan kelompok tani, dalam mengelola sampah plastik menjadi energi alternatif bernilai ekonomi.
Sementara itu, Kepala Pusat Riset Sistem Industri dan Manufaktur Berkelanjutan (PR SIMB) BRIN, Nugroho Adi Sasongko, menyampaikan bahwa Jepara dipilih sebagai lokasi percontohan karena karakteristik wilayahnya yang representatif untuk pengembangan inovasi energi dan pertanian adaptif.“Jepara kami dorong menjadi show window nasional hilirisasi inovasi energi dan pertanian. Di sini teknologi diuji dan diimplementasikan agar siap direplikasi di wilayah pesisir dan rawan bencana lainnya,” ujar Nugroho.
Ke depan, PGN bersama BRIN dan pemerintah daerah berencana mereplikasi model kolaborasi ini di wilayah pesisir lainnya di Jawa Tengah, khususnya kawasan Pantura, mulai 2026 dengan skala yang lebih luas.














