Jakarta, Itech- Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi meluncurkan tiga jenis program beasiswa untuk meningkatkan kompetensi para dosen yang mengajar di Perguruan Tinggi Negeri (PTN) maupun Perguruan Tinggi Swasta (PTS). Ketiga jenis program beasiswa tersebut adalah Beasiswa Pendidikan Pascasarjana Dalam Negeri (BPP-DN), Beasiswa Afirmasi untuk Perguruan Tinggi Negeri Baru (PTNB), dan beasiswa Program Pendidikan Magister Menuju Doktor untuk Sarjana Unggul (PMDSU).
Dirjen Sumber Daya Iptek dan Dikti Kemenristekdikti Ali Ghufron Mukhti mengatakan beasiwa BPPDN merupakan beasiswa yang disediakan bagi Dosen Tetap yang bertugas pada Perguruan Tinggi di bawah pembinaan Kemenristekdikti. “Adapun kuota BPPDN untuk 2017 sebanyak 1000 peserta. Tujuannya, memberi kesempatan kepada dosen tetap perguruan tinggi yang berpendidikan magister untuk melanjutkan ke jenjang doktor,’katanya di Jakarta, Senin (5/6).
Sementara Beasiswa Afirmasi ditujukan bagi dosen tetap PTNB yang telah memiliki NIDN atau NUPN dan dosen yang belum memiliki NIDN di lingkungan Kemenristekdikti. Beasiswa ini untuk jenjang magister (S2), sedangkan koutanya 150. Tujuannya memberi kesempatan kepada dosen PTNB yang masih berpendidikan S1 untuk melanjukan pendidikan yang lebih tinggi.
Kemudian, Beasiswa PMDSU adalah beasiswa program percepatan pendidikan yang diberikan kepada lulusan Sarjana yang memenuhi kualifikasi untuk menjadi seorang Doktor dengan masa pendidikan 4 tahun yang dibimbing oleh Promotor handal Tanah Air. Peserta PMDSU ini juga dituntut untuk menghasilkan minimal 2 buah publikasi hasil riset di jurnal internasional. Kouta beasiswa PMDSU untuk 2017 sebanyak 250 peserta.
Tujuan dari beasiswa tersebut adalah untuk memberikan kesempatan kepada perguruan tinggi untuk mengekplorasi dan merealisasi peluang mendidik sarjana unggul, melaksanakan Renstra Kemenristekdikti dalam upaya meningkatkan jumlah dosen bergelar doktor (S3).
Disebutkan posisi atau diskripsi dosen saat ini masih kurang, padahal sudah diberikan terobosan-terobosan untuk mempermudah, mempercepat birokrasi, administrasi untuk menjadi profesor, dari dua tahun sampai enam tahun itu rata-rata mengurus profesor, cukup hanya dua bulan, itupun baru ada 5.389 profesor. “Padahal paling tidak seharusnya kita mempunyai paling sedikit 22 ribu profesor,” paparnya.
Demikian juga, Dosen S1 masih sebanyak 34, 933 yang seharusnya dosen harus berpendidikan S2 untuk mengajar S1, D4 atau D3. Termasuk yang belum mempunyai jenjang 40 ribu lebih. “Oleh karena itu, untuk memperkuat dan meningkatkan kompetensi dan kapasitas dosen, kita berikan skema beasiswa,” pungkasnya. (red)













