ItWorks
  • Home
  • TOP Digital Awards
  • Business Solution
  • Telco
  • Digital
  • E-Gov
  • Product
  • Forti
  • TIK Talks
  • More
    • Expert
    • ICT Profile
    • Fintech
    • Research
    • Tips & Trick
    • Event
    • Foto
No Result
View All Result
  • Home
  • TOP Digital Awards
  • Business Solution
  • Telco
  • Digital
  • E-Gov
  • Product
  • Forti
  • TIK Talks
  • More
    • Expert
    • ICT Profile
    • Fintech
    • Research
    • Tips & Trick
    • Event
    • Foto
No Result
View All Result
ItWorks
No Result
View All Result

Lebih dari Sekadar Awareness: Menutup Kesenjangan Gender di Era AI Butuh Aksi Strategis

Fauzi
5 March 2026 | 15:00
rubrik: Expert
Jadi Kebutuhan, Perusahaan Mulai Hitung Dampak Bisnis dari Adopsi AI

Sherlie Karnidta, Country Manager Indonesia, Cloudera

Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Sherlie Karnidta, Country Manager Indonesia, Cloudera

Tema International Women’s Day tahun ini, Give to Gain, mengingatkan kita pada satu hal: ketika perusahaan berinvestasi pada kemajuan perempuan di tempat kerja, manfaatnya kembali ke semua pihak. Tim yang lebih beragam membuka akses pada talenta yang lebih luas, memperkaya sudut pandang dalam pengambilan keputusan, dan menciptakan lingkungan kerja di mana orang akan merasa lebih dilibatkan dan cenderung untuk bertahan.

Namun di era ekonomi berbasis AI, perempuan menghadapi risiko ganda. Di satu sisi, mereka masih kurang terwakili dalam posisi-posisi yang berkaitan dengan AI, yang pertumbuhannya paling cepat. Di sisi lain, mereka justru lebih banyak berada di fungsi-fungsi yang paling rentan terdampak oleh otomatisasi. Data Asian Development Bank (ADB) menunjukkan bahwa perempuan yang menjadi peneliti bidang STEM di Asia Pasifik hanya mencakup 23,9%, lebih rendah dari rata-rata global 29,3%.

Di Indonesia, gambarannya tak jauh berbeda: perempuan hanya 27% dari total tenaga kerja di bidang teknologi. Tantangannya pun bukan semata soal angka, tetapi juga struktural, berkaitan dengan stereotip gender, kurangnya rasa percaya diri, dan minimnya role model. Di komunitas developer, jurangnya bahkan lebih lebar. Menurut Dwi Yuliawati, Head of Programme UN Women Indonesia, hanya terdapat 78 perempuan dibanding 922 laki-laki. Dampaknya tidak berhenti di ketimpangan tenaga kerja. Banyak sistem AI yang akhirnya dibangun tanpa sensitivitas memadai terhadap kebutuhan dan perspektif perempuan. Di level industri, perempuan hanya menduduki 23% posisi senior dan hanya 8% posisi teknis senior.

Isu ini menjadi semakin mendesak pada 2026, tahun krusial dalam pengembangan dan implementasi Agentic AI. IDC memprediksi bahwa pada 2027, setengah dari perusahaan akan menggunakan agen AI untuk mendefinisikan ulang kolaborasi antara manusia dan mesin. Ketika sistem-sistem ini mulai memengaruhi keputusan bisnis yang krusial, organisasi perlu mencari potensi blind spot tentang siapa yang membangun, menguji, dan mengawasi teknologi ini.

BACA JUGA:  Garmin Ungkap Melesatnya Tren Lari di Indonesia

Ketika Perempuan Absen dalam Pengembangan AI, Dampaknya Berlipat
Sistem AI tidak lahir di ruang hampa. Ia mewarisi asumsi dari lingkungan yang membangunnya. Jika tim pengembang didominasi satu demografi tertentu, bias tidak hanya muncul dalam dataset. Ia juga bisa terlihat dari masalah mana yang dianggap prioritas, bagaimana definisi keberhasilan dirumuskan, edge cases mana yang diuji, dan risiko apa yang dapat diterima. Di era agentic, ketika sistem memiliki otonomi lebih besar, taruhannya ikut meningkat. Kelemahan kecil dalam data, desain, atau pengawasan, bisa membesar ketika keputusan diambil dalam skala besar.

Inklusi yang sejati berarti melibatkan suara yang beragam dalam menentukan arah produk dan hak pengambilan keputusan, bukan sekadar mencantumkan nama dalam struktur organisasi. Secara praktis, ini berarti melakukan audit dataset untuk melihat celah representasi, menguji model terhadap kemungkinan hasil yang timpang, melakukan stress test pada edge cases, dan menghadirkan panel peninjau manusia yang beragam di sepanjang siklus hidup AI.

Konsistensi praktik-praktik ini sangat bergantung pada tata kelola. Di Singapura, AI Verify Testing Framework menilai sistem AI berdasarkan 11 prinsip tata kelola yang diakui secara internasional, termasuk keadilan, akuntabilitas, dan pengawasan manusia. Di Indonesia, Komdigi menegaskan bahwa pengembangan dan tata kelola AI harus menjunjung prinsip etika, termasuk inklusivitas, dengan memastikan kesetaraan dan keadilan, serta kemanusiaan dengan melindungi hak asasi manusia dan hubungan sosial, dan pengguna serta keamanan data untuk melindungi privasi dan data pribadi.

Keterlibatan HR sangat penting untuk pengembangan AI yang etis
Laporan The Moment of Truth dari NINEby9 menunjukkan bahwa hanya 13% tim HR yang memimpin keputusan strategis terkait AI. Hampir setengah perusahaan di APAC menyebut IT sebagai pengendali utama adopsi AI. Ketika HR baru dilibatkan di tahap akhir, keputusan penting terkait desain tenaga kerja, seperti bagaimana pekerjaan yang ada akan berevolusi, bagaimana pekerjaan didesain ulang, dan keterampilan apa yang dibutuhkan, sering kali terlambat dibahas.

BACA JUGA:  Gelar RUPSLB, Ini Jajaran Pengurus Baru Telkom

Di titik inilah kesenjangan gender bisa semakin melebar. Jika kesiapan tenaga kerja diabaikan, perempuan cenderung lebih terdampak. Koreksi pasca-implementasi untuk memperbaiki ketimpangan yang sebenarnya bisa dicegah juga jauh lebih mahal.

HR perlu bergeser dari peran pendukung menjadi peran strategis, untuk memastikan program reskilling, jalur transisi pekerjaan, dan rencana inklusi harus dirancang sejak awal, bukan ditambal setelah teknologi telanjur diimplementasikan. AI yang etis juga tidak bisa diserahkan sepenuhnya pada model. Ia membutuhkan penilaian dan akuntabilitas manusia di sepanjang siklus hidup AI, stress test pada edge case, audit dataset untuk representasi, pengujian hasil yang timpang, serta keterlibatan peninjau yang beragam dari tahap pengembangan hingga implementasi.

Menyusun ulang bagaimana sebuah pekerjaan mendapatkan value-nya di Era AI

Seiring AI makin terintegrasi dalam fungsi-fungsi inti bisnis, kemampuan coding bukan lagi satu-satunya indikator kontribusi teknis. Engineer masa depan membutuhkan pemahaman bisnis, kemampuan komunikasi, dan kolaborasi lintas fungsi. Sebab AI yang bertanggung jawab tidak hanya bergantung pada model, tetapi pada konteks dan penilaian manusia.

Perubahan ini justru membuka peluang bagi kelompok yang selama ini kurang terwakili, termasuk perempuan, jika organisasi mau memperbarui cara mereka mendefinisikan dan memberi penghargaan atas kontribusi. Di Indonesia yang membutuhkan lebih dari 12 juta talenta digital pada 2030, mengoptimalkan potensi penuh tenaga kerja perempuan adalah langkah paling logis untuk menutup defisit tersebut. Program seperti Women Leaders in Technology (WLIT) dari Cloudera menjadi ruang bagi perempuan dan sekutunya untuk terhubung, belajar, dan lebih membuka peluang menuju posisi-posisi pemimpin.

Di Cloudera Indonesia, kesetaraan dan inklusivitas bukan sekadar jargon abstrak. Prinsip ini dijalankan secara operasional. Kami meyakini bahwa keberagaman kognitif—yang mencakup perbedaan cara berpikir, perspektif, dan gaya intelektual—dan inklusi, akan memperkuat cara kami membangun teknologi dan melayani pelanggan. Perempuan memegang sejumlah posisi kepemimpinan yang penting di kantor kami di Indonesia, mencerminkan keyakinan bahwa keputusan yang baik lahir dari sudut pandang yang beragam untuk mengurangi blind spot dan memberikan outcome yang lebih baik. Melalui program mentoring terstruktur, inisiatif jejaring, dan kanal umpan balik berkelanjutan, perusahaan secara aktif membuka jalur pertumbuhan kepemimpinan bagi perempuan.

BACA JUGA:  Memperkenalkan Pembaruan pada Program Kemitraan: Era Baru Ekosistem Red Hat

Pada akhirnya, ketika perempuan diberi akses pada sumber daya, peluang, dan otoritas dalam pengembangan AI, organisasi tidak hanya membangun sistem AI yang lebih baik untuk semua orang.Di era agentic, keberagaman dalam kepemimpinan dan pengawasan adalah bagian dari manajemen risiko AI itu sendiri.

Organisasi yang mampu memformalkan pendekatan lintas fungsi, menciptakan jalur transisi yang jelas, dan mengakui kecerdasan emosional sebagai kompetensi teknis akan membangun AI yang lebih kuat sekaligus mendorong kemajuan kesetaraan gender.

Tags: Agentic AIAIClouderaGenerative AI
Previous Post

Transformasi Beasiswa LPDP Dorong Akselerasi Talenta Unggul Untuk Visi Indonesia 2045

Next Post

Luncurkan TODAK Throne 2.0, TODAK Kukuhkan Diri Sebagai Brand Esports Lifestyle Performance

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TOP DIGITAL AWARDS

hanwha-life-top-digital-awards-2025-level-stars-5

Hanwha Life Raih TOP Digital Awards 2025 Level Stars 5

Teguh Imam Suyudi
23 December 2025 | 16:00

Rumah Pendidikan Kemendikdasmen TOP Digital Awards 2025

Rumah Pendidikan Kemendikdasmen Raih Penghargaan Bergengsi TOP Digital Awards 2025

Teguh Imam Suyudi
7 December 2025 | 09:00

Moratelindo TOP Digital Awards

Moratelindo Perkuat Kepemimpinan Transformasi Digital Lewat Dua Penghargaan Nasional TOP Digital Awards 2025

Teguh Imam Suyudi
6 December 2025 | 09:00

Ilham Habibie: Digital adalah Instrumen Strategis Daya Saing Global, Kedaulatan, dan Ketahanan Ekonomi Bangsa

Ilham Habibie: Digital adalah Instrumen Strategis Daya Saing Global, Kedaulatan, dan Ketahanan Ekonomi Bangsa

Fauzi
5 December 2025 | 13:58

PT Pertamina International Shipping (PIS) Raih Penghargaan TOP Digital Awards 2025 Bintang 5

PT Pertamina International Shipping (PIS) Raih Penghargaan TOP Digital Awards 2025 Bintang 5

Ahmad Churi
5 December 2025 | 11:14

Load More

TERPOPULER

  • Amar Bank: “Layanan Bank Digital Bukan Hanya untuk Menambah Jumlah Nasabah, yang Terpenting untuk Edukasi Keuangan”

    Amar Bank: “Layanan Bank Digital Bukan Hanya untuk Menambah Jumlah Nasabah, yang Terpenting untuk Edukasi Keuangan”

    1 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Optimalkan Layanan, IPC TPK Jambi Perkuat Ekspor Kayu Manis ke Pasar Global

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Infinix Hot 30, Segera Rilis di Indonesia dengan Harga Kompetitif

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gandeng ITB dan China Mobile, ASIX Luncurkan LIBRA: Solusi AI Enterprise

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Jalankan TJSL, IPC TPK Dorong Kemandirian Ekonomi Perempuan Disabilitas Kalbar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
iklan bni
cover it works
cover it works

ICT PROFILE

Transformasi Digital Kian Gencar, Akamai Luncurkan Akamai Connected Cloud dan Layanan Baru

Tunjuk Fiona Zhang, Akamai Perkuat Strategi Channel-First Kawasan APJ

Fauzi
8 April 2026 | 16:26

Akamai menunjuk Fiona Zhang sebagai Wakil Presiden Regional Bidang Penjualan dan Program Saluran untuk kawasan Asia-Pasifik dan Jepang. Penunjukan Fiona...

Intel Tunjuk Pimpinan Baru untuk Kawasan APJ

Intel Tunjuk Pimpinan Baru untuk Kawasan APJ

Fauzi
7 April 2026 | 11:46

Intel Corporation mengumumkan penunjukan Santhosh Viswanathan sebagai Vice President and Managing Director untuk kawasan Asia Pasifik dan Jepang (APJ). Dengan...

EXPERT

Adopsi AI Dorong Perubahan Pola Konsumsi Data, 5G Jadi Fondasi Pengalaman Digital

Adopsi AI Dorong Perubahan Pola Konsumsi Data, 5G Jadi Fondasi Pengalaman Digital

Ahmad Churi
2 April 2026 | 21:21

ItWorks.id- Laporan Ericsson ConsumerLab 2026 mengungkap meningkatnya penggunaan kecerdasan buatan (AI) mulai mengubah pola konsumsi data seluler, terutama pada kebutuhan...

Pencadangan Data (Backup) dan Keamanan Kini Menjadi Persoalan Ekonomi AI

Fauzi
30 March 2026 | 14:36

Oleh: Sherlie Karnidta, Country Manager Indonesia, Cloudera IDC dalam Global DataSphere Forecast memproyeksikan bahwa volume data global akan melonjak hingga...

TIK TALKS

Stephanus Oscar – Data Center dengan Kapasitas 6 Megawatt di Jakarta | It Works Podcast #5

Stephanus Oscar – Data Center dengan Kapasitas 6 Megawatt di Jakarta | It Works Podcast #5

redaksi
16 August 2022 | 15:30

Di masa akan datang banyak aplikasi yang akan membutuhkan low latency connectivity. Lalu apa kaitannya dengan Edge DC yang hadir...

Edward Samual – Memproses Data dari Hulu Sampai Hilir | It Works Podcast #4

Edward Samual – Memproses Data dari Hulu Sampai Hilir | It Works Podcast #4

redaksi
15 August 2022 | 12:30

Bagaimana cara mengolah Big Data sehingga dapat divisualisasikan, serta bagaimana dapat melakukan analitik dan dapat memprediksikan apa yang harus dilakukan...

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

Itworks - Inspire Great & Telco for Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • TOP Digital Awards
  • Business Solution
  • Telco
  • Digital
  • E-Gov
  • Product
  • Forti
  • TIK Talks
  • More
    • Expert
    • ICT Profile
    • Fintech
    • Research
    • Tips & Trick
    • Event
    • Foto