Oleh : Lars Wittig, VP Sales ASEAN, S. Korea, IWG
Akhir-akhir ini dunia seakan baru tersadar akan epidemi sunyi yang tengah melanda masyarakat: rasa kesepian. Meskipun awalnya diabaikan, media telah menaruh perhatian besar terhadap hal ini, dan pemerintah tengah mencoba mencari jalan keluar untuk mengatasinya.
Bahaya dari rasa kesepian bukan hanya soal tidak memiliki kegiatan, namun hal tersebut bisa menimbulkan masalah fisiologi seperti penyakit hati, stroke, dan dementia. Bahkan kesepian juga menimbulkan dampak mendasar pada cara kita bekerja dan baik tidaknya performa kita. Rasa kesepian saat bekerja dapat membuat orang menjadi kurang produktif, dan cenderung membuat lebih banyak kesalahan.
Teknologi dan Bekerja Dengan Waktu Fleksibel
Sama seperti bagaimana hal berikut ini memberikan dampak dan menyebabkan kesepian di kehidupan sosial kita, teknologi adalah kontributor terbesar penyebab kesepian di tempat kerja. Email, LINE, WhatsApp dan aplikasi berbagi pesan sosial media lainnya, telah menghapus interaksi pribadi dan koneksi. Satu-satunya kelemahan adalah semua itu kebutuhan dari dunia bekerja modern.
Namun, ada kecenderungan yang meningkat di antara para pegawai, dimana mereka lebih suka mengirim pesan kepada rekan kerja ketimbang jalan menuju bilik kantornya untuk bertanya secara langsung. Hal ini khususnya bisa menjadi situasi yang sulit bagi anggota staf kerja yang baru, yang harus berusaha lebih berani untuk bertanya pada rekan kerjanya secara langsung.
Meskipun masih dalam perdebatan, telah dilakukan observasi bahwa faktor lain yang memiliki kontribusi pada rasa kesepian dalam dunia kerja adalah bekerja dengan waktu fleksibel (flexible working). Bekerja dengan waktu fleksibel (apa pun bentuknya), telah digadang-gadang mampu memberikan kesempatan untuk bepergian, bekerja dari rumah, dapat disesuaikan dengan jadwal komitmen lainnya yang dimiliki, dan tentu saja fleksibilitas.
Namun hal itu juga membatasi interaksi pribadi kita. Email, SMS, dan panggilan telepon tiba-tiba menjadi kebutuhan saat bekerja dari jarak jauh, dan jam kerja yang fleksibel mengarah pada keterbatasan waktu di kantor. Hasilnya, siapa pun dapat tiba-tiba menjadi terputus dari pekerjaannya (bahkan bila mereka sedang bekerja untuk diri mereka sendiri).
Cara Mengatasi
Mengingat kita menghabiskan sepertiga dari Minggu kita di tempat kerja, kita layak untuk merasa bahagia dan hadir sepenuhnya di kantor. Ada banyak cara untuk mencoba dan membuat pegawai Anda merasa diikutsertakan dan tidak merasa terisolasi di tempat kerja.
Mengorganisir acara makan siang dan pergi bersama setelah jam pulang kantor adalah cara yang baik untuk mengumpulkan semua orang bersama-sama dan membantu mengakrabkan karyawan baru dan lama. Tentu tidak harus selalu mengadakan acara sosial untuk membuat orang merasa di rumah.
Penting juga untuk memastikan staf merasa diikutsertakan dalam pekerjaan mereka . Ini bisa berupa apa saja, mulai dari ucapan terima kasih, email pujian untuk pekerjaan mereka, atau hanya sekadar mengundang mereka untuk berbagi ide mereka dalam sebuah pertemuan. Pegawai Anda seharusnya tidak hanya mendapatkan masukan ketika mereka melakukan sesuatu yang salah.
Dan ini seharusnya tidak hanya diterapkan pada mereka yang secara fisik hadir di kantor. Menunjukkan sedikit perhatian bagi pegawai jarak jauh Anda memang lebih sulit, tapi tetap penting. Tindakan sederhana dapat menciptakan hubungan yang langgeng, seperti mengirim email untuk memberikan selamat kepada mereka atas proyek tertentu, menanyakan apakah mereka mampu mengelola beban kerja mereka, dan mengundang untuk minum kopi untuk berbincang-bincang dengan tim.














