ItWorks.id- Di era konvergensi digital yang semakin berkembang pesat dan dinamis dewasa ini, pelaku marketing dituntut semakin inovatif, adaptif, personal, agar makin optimal dalam menyasar target market atau pelanggan, branding strategy. Pemanfaatan teknologi Artificial Intelligence (AI) bisa menjadi tools untuk mendukung strategi tersebut, agar makin efektif, efisien dengan hasil yang lebih aptimal.
Di tengah perubahan perilaku konsumen yang makin terfragmentasi dan arus konten digital yang kian padat, pendekatan pemasaran yang generik perlu lenbikh ditingkatkan dengan personalized strategy agar bisa terus relevan. Dalam hal ini, sebuah brand dituntut bukan hanya tampil, tetapi juga mampu membaca konteks audiens secara lebih spesifik. Mulai dari karakteristik customer behavior (perilaku), ekspektasi, komunitas, hingga nuansa budaya yang memengaruhi keputusan mereka. Kerangka isu ini selaras dengan angle utama forum yang menekankan bahwa broad segmentation dan generic messaging tidak lagi cukup di lanskap era digital saat ini.
Demikian benang merah dalam diskusi yang diselenggarakan oleh Strategic Asia Marketing Alliance (SAMA) Chapter Indonesia dengan awak media (07/04/2026) di Jakarta. Dalam sesi ini, SAMA Indonesia banyak mengupas tentang tren pemanfaatan teknologi AI untuk mendukung dunia marketing (marketer) dan branding strategy . Di antaranya, untuk mendukung efektivitas hyper-localized marketing serta optimalisasi Marketing Technology (MarTech). Termasuk peran kesiapan teknologi dan kecerdasan buatan (AI) dalam mendorong strategi pemasaran yang lebih relevan dan berdampak bagi upaya peningkatan branding produk dan aspek yang terkait dengan bidang pemasaran ini.
Pada diskusi media kali ini, SAMA Indonesia mengangkat tema ”Unpacking Marketing Strategies in the Digital Era: How Effective Are Marketing Technology and Hyper-Localized Marketing?”. Di antaranya dengan menghadirkan pembicara tamu yang memiliki keahlian di bidang AI, MarTech, dan technology readiness.
Hadir sebagai narasumber SAMA Connect kali ini adalah para founding board member SAMA Indonesia; Arianto Bigman, CEO IDEOWORKS sekaligus President SAMA Indonesia dan Kristyanto, Co-founder & Chief of Product-Project Ivosights, serta Adrian Lesmono, Consumer Country Business Lead NVIDIA Indonesia, dan Anjas Maradita, AI Practitioner dan AI-Based Business Solutions Developer. Diskusi dipandu oleh Bambang Moegono, CEO Udari yang juga menjadi salah satu founding board member SAMA Indonesia .
Para pembicara dalam kesempatan ini berbagi wawasan yang lebih mendalam tentang pemanfaatan teknologi, big data, dan kecerdasan buatan (AI) dalam dunia marketing agar tetap relevan, efektif, dan responsif terhadap ekspektasi dan keinginan pelanggan. “Di era sekarang ini, penggunaan AI telah menjadi keniscayaan di banyak kalangan. Demikian juga di dunia marketing, di mana AI memang juga telah menjadi keniscayaan (keharusan) di era digital saat ini. Kita dituntut bertransformasi dari sekadar alat bantu menjadi kopilot strategis yang krusial agar lebih optimal,” ujar Arianto Bigman – President, SAMA Indonesia Chapter.
AI Meningkatkan Efisiensi dan Personalisasi
Ditambahkan, penggunaan AI memungkinkan pemasar meningkatkan efisiensi dan personalisasi untuk target dan hasil yang optimal. Hal ini tentu akan sulit jika tetap dilakukan pemasar secara konvensional, manual, karena semua upaya tersebut membutuhkan kecepatan dalam memproses data informasi besar yang hal ini akan mudah dilakukan dengan AI untuk mendukung pengambilan keputusan yang lebih cepat dan akurat. “Pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) dalam asosiasi pemasaran saat ini juga menjadi tren, memungkinkan personalisasi promosi, prediksi tren pasar, bahkan analisis perilaku pelanggan yang lebih akurat dan cepat,” tegasnya.
Dalam kesempatan ini, ia juga menegaskan komitmen SAMA sebagai aliansi yang memahami perubahan realitas pemasaran di Indonesia. “SAMA Connect kali ini juga bertujuan untuk menyoroti bagaimana hyper-localized marketing, data, AI, dan MarTech dapat saling menguatkan dalam membangun strategi pemasaran yang lebih presisi dan relevan.” ujarnya.
Arianto Bigman, menegaskan bahwa hyper-localized marketing kini bukan lagi sekadar diferensiasi, melainkan kebutuhan strategis. “Banyak brand masih tergoda menggunakan formula yang berhasil di pasar atau negara lain lalu menerapkannya begitu saja di Indonesia. Padahal pasar bergerak dengan logika, bahasa, sensitivitas, dan ekspektasinya sendiri. Hyper-localized marketing menjadi penting karena efektivitas komunikasi sangat ditentukan oleh kemampuan memahami konteks lokal secara mendalam, mulai dari perilaku audiens, karakter komunitas, hingga nuansa budaya yang memengaruhi keputusan konsumen,” terangnya.
Sementara itu, Co-founder & Chief of Product-Project Ivosights Kristyanto dalam paparannya menyatakan bahwa tantangan brand saat ini bukan lagi semata soal mengejar engagement yang tinggi, melainkan menjaga agar brand tetap bermakna di tengah dominasi algoritma dan arus konten yang serba cepat. Sejumlah laporan menyoroti bahwa kampanye dengan engagement tinggi masih banyak didorong konten yang bersifat taktikal, sementara penguatan brand value, positioning, dan brand equity justru kerap terpinggirkan. Selain itu, perilaku konsumen juga semakin luwes bergerak antar-channel, sehingga brand dituntut hadir secara lebih mulus di berbagai touchpoint.
“Ke depan, tantangannya bukan hanya bagaimana brand terlihat ramai atau relevan di level algoritma, tetapi bagaimana brand tetap punya makna, konsistensi, dan kedekatan yang nyata dengan audiensnya. Di sinilah data, social listening, dan AI menjadi penting. Bukan hanya untuk membaca pola perilaku konsumen, tetapi juga untuk membantu brand memahami konteks, sentimen, serta memprediksi dan menjawab kebutuhan yang terus berubah. Namun, efektivitasnya tetap sangat bergantung pada kecerdasan manusia dalam menerjemahkan insight menjadi strategi yang peka terhadap karakter lokal dan sisi emosional pelanggan,” katanya.
Hal senada disampaikan oleh praktisi dan pengembang solusi bisnis berbasis AI, Anjas Maradita. Ia menilai bahwa personalisasi yang efektif tidak cukup dimaknai sebatas otomasi pesan atau penggunaan data permukaan. “Di era sekarang, personalisasi tidak cukup hanya berarti menyapa pelanggan dengan nama mereka. Yang jauh lebih penting adalah memahami kebutuhan, kegelisahan, motivasi, dan konteks hidup masing-masing pelanggan,” ujarnya.
Ia mengakui bahwa data, big data, dan AI memang sangat membantu untuk membaca pola, memetakan peluang, serta meningkatkan ketepatan pengambilan keputusan. Dengan melimpahnya pilihan alat AI, siapa saja bisa memanfaatkan AI. Namun, arah strateginya tetap harus ditentukan oleh manusia, dan pemenangnya adalah mereka yang mampu membaca nuansa, empati, dan sisi emosional guna menyusun strategi yang kuat dan matang untuk membuat sebuah pesan benar-benar terasa relevan. “Ingat, AI bukan pengganti manusia, melainkan alat untuk mendongkrak produktivitas manusia,” jelasnya.
Dalam kesempatan yang sama, Adrian Lesmono, Consumer Country Business Lead NVIDIA Indonesia menilai bahwa fondasi untuk mengoptimalkan AI dan MarTech kini semakin terbuka. Hal ini didukung dengan memampuan komputasi yang juga semakin mumpuni yang membuat lebih banyak use case AI menjadi realistis untuk dijalankan secara lebih cepat, lebih efisien, dan semakin dekat dengan kebutuhan organisasi maupun pengguna.
“Kami memiliki Teknologi GeForce RTX50 Series terbaru dari NVIDIA yang mampu mendukjung hal itu. Hal ini menjadikan teknologi AI makin relevan untuk kebutuhan hyper-localized marketing. Teknologi adalah enabler dan untuk menghasilkan strategi pemasaran yang tajam dan tepat guna, pelaku industri tetap membutuhkan talenta yang memahami budaya lokal, perilaku audiens, dan kearifan pasar secara mendalam. Di situlah peran manusia tetap menjadi sangat penting,” ujarnya.
Teknologi AI lanjutnya, telah meniadakan asimetri informasi antara bisnis dan konsumen. Artinya, bisnis harus dapat menciptakan value lebih bagi konsumen dengan memahami apa yang dibutuhkan dan menjadi preferensi konsumen. “Hyper-localized marketing bukan lagi sebuah opsi atau keunggulan, melainkan keharusan,” tegasnya.















