Intel Indonesia baru-baru ini memperkenalkan prosesor generasi terbarunya, Core Ultra Series 3, yang diklaim sebagai hasil manufaktur paling maju yang pernah dikembangkan perusahaan. Prosesor ini tidak hanya membawa peningkatan performa, tetapi juga efisiensi daya yang signifikan serta kesiapan menghadapi era kecerdasan buatan (AI).
Country Manager Intel Indonesia, Harry K. Nugraha, menjelaskan bahwa Core Ultra Series 3 menjadi tonggak baru dalam teknologi semikonduktor dengan pendekatan fabrikasi mutakhir.
“Core Ultra Series 3 adalah hasil dari produk manufaktur paling majunya saat ini Intel keluarkan. Core Ultra Series 3 didesain, difabrikasi secara end-to-end oleh Intel,” ujarnya saat peluncuran Intel Core Ultra Series 3 yang digelar di Hotel Fairmont, Jakarta (15/4/2026) lalu.
Salah satu terobosan utama yang dibawa adalah penggunaan teknologi 18A, yang mengacu pada satuan ukuran terbaru, yakni angstrom. Berbeda dengan nanometer yang selama ini digunakan, angstrom menawarkan skala yang jauh lebih kecil dan presisi tinggi.
“Sekarang kita mulai masuk ke era berikutnya yang bukan lagi nanometer. Namanya angstrom. Satu angstrom adalah 0,1 nanometer. Jadi bisa dibayangkan sekarang kita membuat sebuah teknologi dalam ukuran 18 angstrom, ini berbicara mengenai teknologi yang sangat presisi,” kata Harry.
Teknologi tersebut didukung proses extreme ultraviolet lithography (EUV), yang memungkinkan pengukiran sirkuit dalam skala molekuler. Proses ini dilakukan menggunakan mesin berukuran besar dengan puluhan ribu komponen presisi tinggi.
Dari sisi desain, Core Ultra Series 3 mengusung dua pendekatan utama, yakni desain transistor berlapis untuk mencegah kebocoran arus serta teknologi power via yang memindahkan suplai daya ke bagian belakang chip. Kombinasi ini menghasilkan efisiensi energi yang lebih optimal tanpa mengorbankan performa.
“Dengan desain ini, kita mendapatkan performa yang tinggi dengan baterai yang sangat luar biasa,” ungkapnya.
Intel juga mengklaim prosesor ini menggabungkan keunggulan generasi sebelumnya, yakni performa tinggi dan daya tahan baterai panjang. Dibandingkan prosesor tiga tahun lalu, Core Ultra Series 3 mampu menurunkan konsumsi daya secara signifikan.
“Core Ultra Series 3 menghasilkan 2,8 kali pengurangan power dibandingkan generasi tiga tahun lalu, atau sekitar 53 sampai 65 persen lebih hemat. Sehingga baterainya menjadi sangat awet,” jelas Harry.
Dalam kondisi penggunaan normal, seperti menjalankan streaming video dan rapat daring secara bersamaan, laptop dengan prosesor ini diklaim mampu bertahan hingga 27 jam tanpa pengisian daya.
“Sekarang kita sudah masuk ke era di mana laptop bisa dipakai seharian tanpa perlu charge. Ini dulu tidak pernah terpikir,” tambahnya.
Selain efisiensi daya, Core Ultra Series 3 juga dirancang untuk mendukung perkembangan AI. Prosesor ini mengintegrasikan CPU, GPU, dan NPU dalam satu system-on-chip (SoC), sehingga mampu menjalankan berbagai beban kerja AI secara lebih optimal.
Menurut Harry, perkembangan AI pada perangkat laptop telah mengalami evolusi signifikan, mulai dari sekadar fungsi pendukung hingga kini mampu menjalankan proses kompleks secara lokal tanpa bergantung pada cloud.
“Kita sudah mulai masuk ke era AI yang berjalan secara offline di laptop. Bahkan ke depan, kita akan masuk ke era hybrid AI, di mana AI bisa bekerja baik di cloud maupun di perangkat lokal,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia menyebut tren berikutnya adalah agentic AI, di mana sistem kecerdasan buatan tidak hanya menjalankan fungsi statis, tetapi juga mampu mengambil keputusan dan berinteraksi dengan berbagai sistem lain secara mandiri.
“Intel Core Ultra 3 sudah tersedia di pasar dari mitra-mitra kita,” tutup Harry.














