ItWorks.id- Tingginya aktivitas bongkar muat di terminal petikemas menuntut standar keselamatan kerja yang tidak bisa ditawar. IPC Terminal Petikemas (IPC TPK) menegaskan komitmennya untuk menempatkan aspek safety sebagai fondasi utama dalam menjaga operasional pelabuhan tetap produktif dan andal secara berkelanjutan.
Komitmen tersebut diwujudkan melalui penyelenggaraan Sharing Session: Safety Awareness 2026 yang digelar secara hybrid di Aula Gedung Pelindo Regional 2 Cabang Tanjung Priok, akhir April lalu. Mengangkat tema “Peran Kesehatan dan Behavior Based Safety dalam Pencegahan Kecelakaan Kerja pada Pekerja Kantor dan Lapangan”, kegiatan ini menjadi bagian dari strategi perusahaan dalam memperkuat budaya keselamatan kerja secara menyeluruh.
Direktur Utama IPC TPK, Guna Mulyana menegaskan bahwa keselamatan kerja merupakan prioritas utama yang tidak dapat dikompromikan dalam setiap aktivitas operasional di IPC TPK. “Tidak ada pencapaian operasional yang sebanding dengan risiko kehilangan nyawa akibat kecelakaan kerja. Kita bekerja tidak lain datang selamat dan pulang selamat,” ujar Guna dilansir dalam rilis pers, baru-baru ini, di Jakarta.
Menurutnya, di tengah kinerja operasional yang terus meningkat, seluruh pekerja—baik internal maupun mitra kerja—harus terus membangun perilaku yang mengedepankan keselamatan. Ia mengingatkan bahwa kecelakaan kerja tidak hanya berdampak pada korban secara langsung, tetapi juga berpotensi mengganggu kelancaran operasional terminal dan rantai logistik di pelabuhan.
Sebagai operator terminal dengan aktivitas 24 jam yang melibatkan alat berat dan mobilitas tinggi, IPC TPK menilai pendekatan Behavior Based Safety (BBS) menjadi kunci dalam membangun budaya kerja yang lebih disiplin dan waspada terhadap risiko.
Forum ini juga menghadirkan pakar kesehatan okupasi, Muhammad Ilyas, yang menyoroti pentingnya perubahan perilaku dalam menekan angka kecelakaan kerja. Ia menjelaskan bahwa sebagian besar insiden dipicu oleh perilaku tidak aman, rendahnya kesadaran risiko, serta faktor kelelahan kerja (fatigue) yang kerap diabaikan. “Penerapan fatigue management, pola hidup sehat, serta peningkatan awareness menjadi faktor penting untuk meminimalisir human error, terutama di lingkungan kerja dengan risiko tinggi seperti terminal petikemas,” jelasnya.
Kegiatan ini turut dihadiri Executive General Manager Pelindo Regional 2 Tanjung Priok, Yandri Trisaputra, jajaran manajemen IPC TPK, serta mitra perusahaan bongkar muat. Kehadiran para pemangku kepentingan tersebut mencerminkan pentingnya kolaborasi dalam membangun budaya keselamatan yang kuat dan berkelanjutan.
Melalui Safety Awareness 2026, IPC TPK menegaskan bahwa budaya keselamatan bukan sekadar program, melainkan harus menjadi kesadaran kolektif seluruh insan pelabuhan. Perusahaan meyakini, terminal yang produktif hanya dapat tercipta jika seluruh pekerja menjalankan aktivitas secara aman, sehat, dan selamat. “Ke depan, mari bersama-sama terus melakukan perbaikan untuk mengutamakan safety, baik bagi pekerja lapangan maupun back office,” pungkas Guna.















