Transformasi digital yang kian masif mendorong penggunaan layanan cloud di berbagai sektor industri. Tidak hanya perusahaan besar, pelaku usaha skala menengah hingga kecil kini mulai mengandalkan infrastruktur cloud untuk menjalankan operasional bisnisnya.
Seiring dengan meningkatnya pemanfaatan infrastruktur cloud tersebut, ancaman keamanan siber juga terus berkembang dan semakin kompleks. Bagaimana tidak, berdasarkan laporan AwanPintar.id® tahun lalu saja tren serangan siber di Indonesia berada pada level kewaspadaan tinggi dengan jumlah total 234.528.187 serangan di sepanjang semester 2 tahun 2025, atau telah terjadi rata-rata 15 serangan siber per detik. Serangan ini meningkat signifikan hingga 75,76% dibandingkan semester 1 tahun 2025. Bahkan, untuk bulan Desember 2025 saja jumlah serangan menyentuh angka 90.590.833, yang kemungkinan dipicu oleh tingginya aktivitas serangan Distributed Denial of Service (DDoS) serta eksploitasi terhadap lalu lintas transaksi ekonomi digital selama periode liburan akhir tahun.
Nah, menjawab tantangan itu, ESET menghadirkan solusi terbaru bernama ESET Cloud Workload Protection, sebuah teknologi keamanan berbasis cloud native yang dirancang untuk memberikan perlindungan menyeluruh terhadap server dan workload yang berjalan di platform cloud seperti AWS, Microsoft Azure, hingga Google Cloud Platform (GCP).
CTO Prosperita Group, Yudhi Kukuh, menjelaskan bahwa ESET merupakan perusahaan keamanan siber asal Slovakia yang telah memiliki jangkauan global di lebih dari 200 negara. Di Indonesia, ESET diwakili oleh Prosperita Mitra Indonesia yang selama hampir 18 tahun fokus di bidang keamanan TI dengan dukungan lokal penuh.
“ESET itu di Indonesia yang handle 100% orang Indonesia. Dan tenaga kerja kita bersertifikat dari ESET langsung, dan secara kemampuan kita melakukan R&D semua di sini,” ujar Yudhi di acara ESET Media Briefing, Rabu (6/5/2026).
Ia menambahkan, Prosperita Group juga memiliki divisi riset dan pengolahan data serangan siber di Indonesia yang selama ini menjadi salah satu rujukan berbagai pihak untuk melihat perkembangan ancaman keamanan digital nasional.
“Kalau ada kebutuhan data serangan cyber di Indonesia, biasanya dari kita. Kita kasih secara publik juga. Dan sudah menjadi acuan untuk beberapa jurnal, karena kita punya R&D sendiri untuk olah data itu semua,” katanya.
Evolusi Antivirus ke Sistem Proteksi Modern
Menurut Yudhi, pendekatan keamanan siber saat ini sudah jauh berkembang dibandingkan konsep antivirus konvensional beberapa tahun lalu. Ancaman digital kini tidak lagi sebatas virus, melainkan telah berkembang menjadi malware dengan berbagai bentuk serangan, termasuk ransomware hingga serangan fileless yang semakin sulit dideteksi.
“Dulu orang bilang antivirus is dead. Karena sekarang jatuhnya sudah malware, bukan cuma virus,” ungkapnya.
ESET sendiri, lanjut Yudhi, sudah lama mengembangkan teknologi machine learning bahkan sebelum istilah AI populer digunakan secara luas. Saat itu ESET memperkenalkan pendekatan heuristic melalui teknologi yang disebut ThreatSense.
“Kalau kita pernah kenal istilah heuristic, itu salah satu pola pikiran untuk menebak sebuah jawaban. Jadi sebenarnya machine learning itu sudah digunakan ESET sejak awal melalui ThreatSense Technology,” jelasnya.
Seiring meningkatnya kompleksitas ancaman siber, kebutuhan perlindungan pun tidak lagi cukup hanya memasang antivirus di perangkat atau server. Perusahaan kini membutuhkan sistem monitoring, manajemen, hingga kemampuan respons cepat terhadap ancaman yang muncul secara real time.
“Security itu makin kompleks kebutuhannya. Enggak cuma kita install antivirus dan beres. Dibutuhkan juga manajemen, monitoring, sampai action saat ada permasalahan,” kata Yudhi.
Cloud Native Security untuk Infrastruktur Modern
Melalui ESET Cloud Workload Protection, ESET menghadirkan pendekatan baru dalam pengamanan server cloud. Berbeda dengan metode lama yang mengharuskan instalasi agent di setiap virtual machine atau virtual server, solusi terbaru ini bekerja secara cloud native dan terintegrasi langsung dengan platform cloud yang digunakan.
“Kalau zaman dulu ESET diinstal di setiap virtual server di cloud, saat ini cukup mengaktifkan fiturnya di AWS, Azure, atau Google Cloud, tinggal klik langsung hidup,” terang Yudhi.
Ia menjelaskan, sistem proteksi berjalan di backend cloud provider sehingga tidak membebani sistem operasi virtual machine pelanggan.
“Karena dia tidak terinstal langsung di OS, proses proteksinya ada di backend dan terintegrasi langsung dengan AWS, Azure, dan GCP. Jadi lebih ringan,” ujarnya.
Kemudahan implementasi menjadi salah satu nilai utama yang ditawarkan. Pengguna cukup mengaktifkan fitur tersebut tanpa proses instalasi rumit maupun konfigurasi yang kompleks.
“Yang diharapkan dari teknologi ini pertama adalah kemudahan. Tinggal klik saja, langsung hidup fungsinya untuk melakukan proteksi terhadap workload yang ada di cloud,” katanya.
Andalkan AI untuk Analisis Ancaman Siber
Yudhi menegaskan, penggunaan kecerdasan buatan atau AI kini menjadi kebutuhan mutlak dalam industri keamanan siber. Hal itu karena volume data serangan yang harus dianalisis sangat besar dan terus berlangsung setiap detik.
“Kalau kita bicara serangan itu datanya miliaran. Kalau enggak pakai machine learning atau AI, kita enggak akan terbantu,” ujarnya.
ESET Cloud Workload Protection memanfaatkan AI native untuk membantu mendeteksi ancaman, memperkecil attack surface, sekaligus mempercepat proses identifikasi serangan.
“Kita butuh AI native untuk menganalisis serangan. AI itu mempercepat pekerjaan kita,” kata Yudhi.
Ia menggambarkan bahwa server cloud yang memiliki IP publik pada dasarnya langsung menjadi target percobaan serangan begitu aktif di internet.
“Kita punya server ditaruh di cloud dengan IP publik, tunggu saja dalam lima menit pasti sudah mulai ada orang coba-coba. Itu sudah natifnya internet,” ujarnya.
Karena itu, kemampuan real time protection menjadi aspek penting dalam solusi keamanan modern.
“Kalau bicara security kita perlu ngomongin real time. Polisi jalan maling ya itu akan jadi masalah. Security harus update,” katanya.
Satu Kontrol untuk Seluruh Infrastruktur Cloud
Keunggulan lain dari ESET Cloud Workload Protection adalah kemampuan pengelolaan terpusat. Perusahaan yang menggunakan berbagai platform cloud sekaligus tetap dapat mengontrol seluruh sistem keamanan melalui satu dashboard manajemen.
“Mau servernya di seluruh dunia, kontrolnya tetap satu. Jadi kalau perusahaan punya AWS, Azure, dan Google sekaligus, kontrol untuk security cukup satu,” jelas Yudhi.
Selain memudahkan pengawasan, sistem ini juga menyediakan visibilitas dan reporting yang dibutuhkan perusahaan untuk memenuhi berbagai kebutuhan compliance dan audit keamanan.
“Dengan report-report yang ada di manajemen itu kita bisa tahu jalan atau tidak, lalu ada masalah apa di setiap cloud server kita,” katanya.
Solusi ini juga mendukung berbagai kebutuhan kepatuhan seperti CIS, PCI DSS, hingga regulasi perlindungan data di Indonesia.
“Untuk regulasi di Indonesia, report dalam sistem ini juga compliance dengan Personal Data Protection Law, UU PDP, dan RUKKS,” ujar Yudhi.
Ia juga menambahkan bahwa Prosperita Group telah memenuhi standar IKAS BSSN sebagai salah satu bentuk kepatuhan terhadap standar keamanan nasional.
Tanpa Tambahan Biaya Lisensi
Menariknya, ESET memastikan kehadiran modul baru ini tidak membuat biaya lisensi menjadi lebih mahal bagi pelanggan eksisting.
“Kalau ditanya ada harga naik? Enggak. Ini improvement saja di dunia security supaya semakin cepat mendeteksi dan distribusinya semakin luas,” kata Yudhi.
Bahkan, pelanggan ESET yang sudah memiliki lisensi server cloud dapat langsung menggunakan fitur tersebut tanpa biaya tambahan.
“Semua pengguna ESET existing yang punya solusi server di cloud bisa menggunakan ini secara langsung tanpa harus bayar. Sudah include di lisensi yang mereka beli,” pungkasnya















