ItWorks.id- Posisi Investasi Internasional (PII) Indonesia pada triwulan I 2026 menunjukkan perbaikan dengan menurunnya kewajiban neto terhadap luar negeri. Bank Indonesia (BI) mencatat kewajiban neto PII Indonesia pada akhir Maret 2026 sebesar US$227,6 miliar, lebih rendah dibandingkan US$ 273,4 miliar pada akhir triwulan IV 2025.
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso mengungkapkan penurunan kewajiban neto tersebut terjadi karena posisi Kewajiban Finansial Luar Negeri (KFLN) turun lebih dalam dibandingkan penurunan Aset Finansial Luar Negeri (AFLN).
BI mencatat posisi AFLN Indonesia pada akhir triwulan I 2026 sebesar US$ 556,7 miliar atau turun 0,4 persen dibandingkan posisi akhir 2025 yang mencapai US$ 559,1 miliar. “Penurunan ini terutama dipengaruhi berkurangnya cadangan devisa seiring kebutuhan valuta asing untuk pembayaran utang luar negeri pemerintah serta kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah di tengah tingginya ketidakpastian pasar keuangan global,” ujarnya dilansir dalam siaran pers (10/06/2026), di Jakarta.
Selain itu, pelemahan harga aset dan penguatan dolar AS terhadap sejumlah mata uang negara penempatan aset turut menekan posisi AFLN, meski aset investasi langsung, investasi portofolio, dan investasi lainnya masih mencatat peningkatan.
Sementara itu, posisi KFLN Indonesia turun 5,8 persen secara triwulanan menjadi 784,3 miliar dolar AS dari sebelumnya 832,6 miliar dolar AS. Penurunan tersebut dipicu melemahnya nilai instrumen keuangan domestik, meskipun aliran masuk modal asing pada investasi langsung dan investasi portofolio tetap terjaga.
BI menilai kinerja investasi langsung yang masih mencatat surplus menunjukkan kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi Indonesia tetap kuat. Di sisi lain, posisi investasi portofolio dan investasi lainnya menurun sejalan dengan pembayaran surat utang sektor swasta dan pinjaman luar negeri yang jatuh tempo.
Menurut BI, perkembangan PII Indonesia pada triwulan I 2026 tetap mendukung ketahanan eksternal nasional. Hal ini tercermin dari rasio kewajiban neto PII terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) yang turun menjadi 15,5 persen dari 18,9 persen pada triwulan sebelumnya.
Selain itu, struktur kewajiban Indonesia masih didominasi instrumen jangka panjang yang mencapai 92,5 persen, terutama dalam bentuk investasi langsung, sehingga dinilai lebih stabil terhadap gejolak pasar keuangan global.
Ke depan, Bank Indonesia akan terus mencermati dinamika ekonomi global yang berpotensi memengaruhi posisi investasi internasional Indonesia serta memperkuat sinergi kebijakan bersama pemerintah dan otoritas terkait guna menjaga ketahanan sektor eksternal nasional.














