Perdagangan digital Asia Pasifik (APAC) yang berkembang pesat kini menjadi sasaran utama bagi pelaku kejahatan siber, saat perusahaan ritel, platform perjalanan, dan perhotelan mempercepat penggunaan pengalaman belanja, pemesanan, dan layanan pelanggan berbasis AI.
Menurut laporan keamanan State of the Internet (SOTI) terbaru Akamai, Securing the Agentic Storefront: Attacks on Commerce, aktivitas bot yang menargetkan perusahaan perdagangan digital di Asia Pasifik meningkat 63% pada 2025, lonjakan tertinggi dibandingkan kawasan mana pun secara global. Dari Juli hingga Desember 2025, perdagangan digital juga menyumbang 38% dari seluruh lalu lintas bot AI yang teramati di berbagai industri di Asia Pasifik. Hal ini menegaskan perlunya strategi keamanan yang mampu mengimbangi pesatnya adopsi perdagangan digital berbasis AI di kawasan ini.
Di seluruh kawasan ini, perusahaan ritel mulai beralih ke perdagangan agentik dengan menggunakan bot untuk mempersonalisasi pengalaman belanja secara lebih mendalam dan mengurangi jumlah pelanggan yang tidak menuntaskan transaksi pembelian. Pertumbuhan chatbot juga berlangsung sangat cepat di Asia Pasifik karena berbagai perusahaan berlomba menghadirkan pengalaman pelanggan yang lebih personal. Namun, hal ini membuat otomatisasi yang sah makin sulit dibedakan dari bot berbahaya, credential stuffing, scraping, dan penyalahgunaan API.
Meski industri ritel tetap menjadi target utama, industri perjalanan dan perhotelan di Asia Pasifik juga menghadapi paparan ancaman yang lebih besar dibandingkan kawasan lain. Hal ini didorong oleh platform perjalanan yang terfragmentasi, tingkat adopsi digital dan seluler yang tinggi, program loyalitas yang populer, serta puncak pemesanan musiman selama masa liburan di kawasan seperti Tahun Baru Imlek, Golden Week, Diwali, dan libur akhir tahun. API juga menjadi area risiko yang terus meningkat, karena bisnis perdagangan digital menghubungkan pembayaran, program loyalitas, sistem inventaris, logistik, dan platform pemesanan.
Di Asia Pasifik, hal ini khususnya terlihat jelas di sektor perjalanan, yang menyumbang 22% serangan web terhadap perdagangan digital. API menjadi target dalam 25% serangan terhadap sektor tersebut. Bisnis perdagangan digital di Asia Pasifik juga menghadapi tekanan serangan DDoS pada lapisan aplikasi yang semakin meningkat. Sepanjang 2025, serangan DDoS Layer 7 meningkat 39%, dari 260 miliar menjadi 361 miliar kejadian. Dari seluruh serangan DDoS Layer 7 yang menargetkan API, sektor ritel mencatat porsi terbesar sebesar 51%, disusul perhotelan sebesar 28%, dan perjalanan sebesar 21%.
“Sektor perdagangan di APAC bergerak cepat menuju masa depan yang semakin terotomatisasi dan didukung AI, seiring perusahaan memanfaatkan chatbot GenAI dan berbagai layanan berbasis AI untuk menghadirkan pengalaman yang lebih personal sekaligus mengurangi hambatan dalam perjalanan pelanggan,” ujar Reuben Koh, Director of Security Technology and Strategy, APJ, Akamai.
“Namun, setiap interaksi dengan chatbot, proses pemesanan, maupun integrasi program loyalitas menghadirkan titik masuk digital baru yang perlu diidentifikasi, dipahami, dan diamankan. Hal ini menjadi semakin penting di APAC, ketika sektor perjalanan dan perhotelan menghadapi tingkat paparan risiko yang lebih tinggi akibat ekosistem platform yang terfragmentasi, program loyalitas yang banyak digunakan, serta lonjakan traffic pada periode-periode tertentu. Karena itu, perusahaan perlu menerapkan pendekatan keamanan berbasis risiko yang mampu mengidentifikasi aktivitas berbahaya yang tersembunyi di balik otomatisasi berskala besar yang sah, tanpa mengganggu kenyamanan pengalaman pelanggan,” lanjutnya.
Ketika organisasi perdagangan digital terus mengadopsi AI dan otomatisasi, ketahanan tidak lagi bisa dipandang hanya sebagai fungsi keamanan. Ketahanan harus menjadi bagian dari disiplin bisnis. Hal ini mencakup:
- Memetakan rantai pendapatan: Mengidentifikasi secara berkelanjutan API yang mendukung pembayaran, program loyalitas, proses transaksi, inventaris, dan integrasi mitra, serta memahami titik-titik yang berisiko membuka akses ke data sensitif.
- Mengelola otomatisasi berdasarkan risiko: Tidak lagi mengandalkan keputusan “izinkan” atau “blokir” secara menyeluruh, melainkan menerapkan pendekatan berbasis risiko yang dapat membedakan otomatisasi yang sah dari aktivitas bot berbahaya.
- Mempersiapkan lonjakan trafik pada periode puncak: Perkuat kapasitas untuk mengantisipasi lonjakan trafik, uji kesiapan respons terhadap serangan DDoS, pantau kemunculan toko daring palsu serta potensi paparan kredensial, dan tingkatkan kolaborasi antara tim keamanan siber dan pencegahan fraud menjelang periode puncak belanja maupun perjalanan.
Kini memasuki tahun ke-12, laporan keamanan State of the Internet Akamai disusun berdasarkan data serangan yang teramati di seluruh infrastruktur perlindungan keamanan siber Akamai, yang menangani sebagian besar lalu lintas web global.














