Seiring pergerakan pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) dari tahap eksperimen menuju implementasi yang lebih luas, membuat organisasi tidak hanya dihadapkan pada persoalan kemampuan teknologi, tetapi juga bagaimana memastikan investasi AI memberikan imbal hasil sekaligus dapat beroperasi secara aman di tengah infrastruktur TI yang semakin kompleks.
Akkasha Sultan, Senior Vice President (SVP) & General Manager untuk wilayah Asia Pasifik dan Jepang (APJ) Ping Identity, mengatakan perusahaan perlu mempertimbangkan sejumlah aspek ketika mulai memperluas penggunaan AI. Salah satunya adalah biaya operasional dan nilai bisnis yang dihasilkan dari teknologi tersebut.
“Ketika perusahaan memperluas penggunaan AI, mereka perlu memastikan bahwa pada akhirnya terdapat imbal hasil investasi atau ROI. Ini mencakup biaya tokenisasi, penggunaan LLM, menentukan di mana LLM perlu digunakan, hingga jenis LLM yang sesuai dengan kebutuhan,” kata Akkasha.
Persoalan berikutnya muncul ketika AI harus diterapkan di lingkungan TI perusahaan yang heterogen. Banyak organisasi telah membangun infrastruktur selama bertahun-tahun dengan kombinasi sistem on-premise, cloud, layanan dari beberapa hyperscaler, hingga teknologi dari berbagai pengembang AI.
Masing-masing aplikasi mungkin telah memiliki mekanisme pengamanan atau guardrails. Namun, ketika AI mulai digunakan dalam skala perusahaan, pendekatan keamanan yang berjalan secara terpisah pada setiap aplikasi dinilai tidak lagi memadai.
Akkasha menggambarkan tantangan tersebut dengan sistem pengamanan di sebuah bandara. Jika terdapat puluhan maskapai yang mendarat di Bandara Soekarno-Hatta dan masing-masing diminta menjalankan sendiri proses pemeriksaan keamanan dan imigrasi dengan standar berbeda, situasinya akan menjadi sangat kompleks.
Setiap maskapai mungkin telah menjalankan prosedur otorisasi dan tata kelola dengan benar. Namun, tetap dibutuhkan mekanisme terpusat yang memastikan pemeriksaan dan standar keamanan berlaku secara konsisten.
Konsep serupa menurutnya diperlukan ketika perusahaan mulai mengoperasikan berbagai AI agent.
“Perusahaan bisa memiliki banyak sistem yang bersifat kritis bagi bisnis. Yang dibutuhkan adalah standardisasi kerangka kepercayaan di seluruh sistem tersebut sehingga perusahaan dapat memperluas penggunaan agent,” ujar Akkasha.
Tantangan ini berpotensi menjadi semakin kompleks karena AI agent ke depan tidak hanya berinteraksi dengan manusia. Agent dapat berkomunikasi dan bekerja sama dengan agent lain untuk menyelesaikan suatu pekerjaan.
Dalam lingkungan perusahaan, misalnya, sebuah AI agent dapat mengambil data dari sistem Salesforce, memprosesnya, kemudian memasukkan informasi tersebut ke dalam sistem SAP sebelum kembali berinteraksi dengan sistem eksternal.
Situasi tersebut membuat keamanan identitas tidak lagi hanya berkaitan dengan siapa pengguna manusia yang memperoleh akses ke sebuah aplikasi. Perusahaan juga harus memastikan identitas agent, sistem yang boleh diakses, tindakan yang dapat dijalankan, hingga bagaimana agent berinteraksi dengan sistem atau agent lainnya.
Menurut Akkasha, semakin kompleks kasus penggunaan AI, semakin penting perusahaan memiliki kerangka kepercayaan yang dapat diterapkan secara konsisten di seluruh lingkungan TI.
“Dunia bergerak menuju kasus penggunaan yang semakin kompleks. Kerangka tersebut perlu dibangun sedemikian rupa sehingga perusahaan dapat mempercayainya dan memperluas penggunaan AI dengan lebih cepat,” katanya.
Dari Produktivitas hingga Pertumbuhan Pendapatan
Di sisi lain, besarnya kebutuhan terhadap sistem keamanan tersebut tidak terlepas dari semakin luasnya manfaat AI bagi dunia usaha.
Pada tingkat individu, AI dapat membantu meningkatkan produktivitas. Pada tingkat perusahaan, teknologi ini berpotensi mendukung pertumbuhan pendapatan dan memperbesar pangsa pasar. Sementara pada sektor manufaktur, AI dapat digunakan untuk meningkatkan efisiensi dan mendukung proses produksi secara lebih tepat waktu.
Pemanfaatannya juga semakin meluas ke berbagai industri, mulai dari layanan kesehatan, jasa keuangan, telekomunikasi, ritel, hingga pemerintahan. Tingkat penerapannya dapat berbeda-beda, dari penggunaan dengan dampak relatif rendah hingga AI yang menjalankan fungsi dengan konsekuensi besar terhadap bisnis.
Akkasha memperkirakan peran AI agent akan semakin besar. Seorang pengguna bahkan berpotensi menggunakan beberapa agent sekaligus untuk membantu menyelesaikan berbagai pekerjaan.
“AI memiliki potensi yang sangat besar. Kita akan melihat semakin banyak agent digunakan untuk menyelesaikan pekerjaan. Setiap industri akan memiliki kasus penggunaan yang berbeda, mulai dari yang sederhana hingga yang memiliki dampak tinggi,” ujarnya.
Perkembangan tersebut membuat perusahaan perlu memikirkan skalabilitas sejak awal. Kemampuan menjalankan proyek percontohan AI belum tentu berarti organisasi siap menerapkannya dalam skala yang lebih besar.
Akkasha melihat arah pengembangan teknologi Indonesia juga menunjukkan pergeseran menuju implementasi AI yang lebih luas. Perusahaan tidak lagi hanya berbicara mengenai tahap percontohan atau proof of concept (PoC), tetapi mulai mempersiapkan penggunaan teknologi tersebut pada lingkungan produksi.
Pengembangan infrastruktur seperti sovereign cloud dan arah menuju sovereign AI juga dinilai dapat menjadi bagian penting dalam mendukung pertumbuhan ekosistem AI Indonesia.
Dalam situasi tersebut, Ping Identity melihat perannya tidak sebatas menyediakan teknologi, tetapi juga menjadi mitra strategis bagi organisasi dalam membangun kerangka keamanan dan identitas untuk mendukung implementasi AI.
Perusahaan membawa pengalaman dan praktik terbaik dari berbagai pasar, sekaligus bekerja bersama mitra dan komunitas untuk meningkatkan pemahaman mengenai pembangunan kerangka keamanan yang mampu mengikuti perkembangan AI.
Ping Identity juga mendorong pertukaran pengalaman antarpelanggan untuk mengidentifikasi kasus penggunaan AI yang memiliki dampak paling besar terhadap organisasi dan bagaimana implementasinya dapat dilakukan dengan tetap menjaga aspek kepercayaan serta skalabilitas.
Keamanan Identitas Menjadi Fondasi Skalabilitas AI
Persoalan keamanan identitas menjadi semakin relevan di Indonesia seiring meningkatnya kebutuhan perusahaan untuk memastikan data, sistem, dan berbagai identitas digital dapat dikelola secara aman.
Menurut Akkasha, organisasi perlu terlebih dahulu memahami kondisi lingkungan TI yang dimiliki sebelum menentukan langkah pengembangan berikutnya. Karena itu, pendekatan dapat dimulai melalui asesmen terhadap infrastruktur perusahaan, kemudian dilanjutkan dengan penyusunan peta jalan sesuai kebutuhan masing-masing organisasi.
Ping Identity juga bekerja dengan mitra dan komunitas untuk mendorong penerapan praktik terbaik dalam implementasi AI skala enterprise.
Namun, menurut Akkasha, persoalan mendasarnya tetap kembali kepada satu hal, yakni kepercayaan.
“AI hanya akan dapat berkembang dalam skala besar apabila perusahaan dapat mempercayainya. Identitas merupakan bagian yang sangat penting dalam membangun kepercayaan tersebut,” katanya.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa tantangan perusahaan dalam mengadopsi AI mulai bergeser. Memilih model AI atau menemukan kasus penggunaan yang tepat tetap penting, tetapi kemampuan mengintegrasikan teknologi tersebut secara aman ke berbagai sistem perusahaan akan menentukan seberapa jauh implementasinya dapat berkembang.
Terlebih ketika AI agent semakin otonom dan mulai berinteraksi dengan agent lainnya, organisasi membutuhkan standar identitas, otorisasi, dan tata kelola yang berlaku secara konsisten.
Dengan fondasi tersebut, keamanan identitas tidak lagi hanya berfungsi untuk melindungi akses pengguna terhadap sistem. Perannya berkembang menjadi bagian dari infrastruktur kepercayaan yang memungkinkan perusahaan membawa AI dari tahap eksperimen menuju implementasi skala enterprise secara lebih aman dan terukur.














