ItWorks.id-Kementerian Koperasi (Kemenkop) mendorong koperasi Indonesia tidak hanya kuat di pasar domestik, tetapi juga mampu menembus pasar global. Salah satu strategi yang didorong adalah pemanfaatan e-commerce untuk membuka akses promosi, memperluas jejaring bisnis, hingga menjangkau konsumen internasional.
Wakil Menteri Koperasi (Wamenkop) Farida Farichah mengatakan, upaya membawa koperasi naik kelas menjadi pemain global masih menghadapi sejumlah tantangan. Berdasarkan pendataan dan pendampingan yang dilakukan Kemenkop di berbagai daerah, sedikitnya terdapat tiga persoalan utama, yakni kualitas sumber daya manusia (SDM), pembiayaan, dan akses pasar. “Setelah kita keliling di seluruh Indonesia dan mendatabase koperasi-koperasi, ada beberapa tantangan koperasi untuk bisa naik kelas dan menjadi kelas global. Yang pertama adalah SDM-nya, yang kedua pembiayaan, yang ketiga pasar,” ujar Farida saat menghadiri China International Industry (CIEIE) Indonesia 2 Sessie akhir pekan lalu, di JIExpo Kemayoran, Jakarta yang dirilis melalui portal web Kemenkop, belum lama ini.
Menurut dia, digitalisasi perdagangan melalui e-commerce dapat menjadi salah satu solusi untuk memperluas akses pasar koperasi. Platform digital memungkinkan produk koperasi diperkenalkan kepada konsumen yang lebih luas tanpa sepenuhnya bergantung pada jaringan pemasaran konvensional. Dan untuk memperkuat langkah tersebut, Kemenkop menghadirkan sejumlah koperasi binaan dalam pameran internasional CIEIE Indonesia. Ajang tersebut menjadi sarana mempertemukan produsen dengan konsumen maupun antarpelaku usaha, sekaligus membuka peluang kerja sama bisnis lintas negara.
Farida mengatakan koperasi yang telah memiliki produk berkualitas perlu memanfaatkan berbagai kanal tersebut untuk mulai membidik pasar ekspor. Sementara bagi koperasi yang belum memiliki pengalaman di pasar global, pameran dan jejaring bisnis internasional dapat menjadi sarana pembelajaran untuk mempersiapkan diri.
Namun, akses pasar digital saja belum cukup. Koperasi yang ingin masuk ke pasar global harus memastikan produk yang ditawarkan memenuhi standar kualitas serta berbagai persyaratan sertifikasi internasional.“Kita dorong koperasi-koperasi yang memang memiliki produk kualitasnya sudah oke, tinggal memenuhi prasyarat sertifikasi-sertifikasi yang kemudian dilayani dan didampingi oleh Kementerian Koperasi agar memenuhi standar tersebut,” katanya.
Karena itu, Kemenkop tidak hanya membuka akses pasar, tetapi juga memperkuat pendampingan agar koperasi mampu memenuhi standar yang dipersyaratkan pasar internasional. Penguatan kapasitas SDM, akses pembiayaan, pemenuhan sertifikasi, serta pemanfaatan teknologi digital menjadi bagian dari ekosistem yang sedang dibangun.
Farida juga mendorong koperasi yang telah berhasil menjadi eksportir untuk menjadi penggerak bagi koperasi lainnya. Koperasi yang sudah memiliki pengalaman di pasar global dinilai dapat membuka jaringan dan berkolaborasi dengan koperasi yang baru mempersiapkan diri menuju ekspor.“Kalau mereka sudah masuk ke pasar global, sudah bisa menjadi eksportir agar bisa menarik teman koperasinya yang lain. Sehingga ada kooperatif antara koperasi yang sudah ekspor dengan koperasi-koperasi yang baru mau masuk ke pasar global,” ujarnya.
Dengan pola tersebut, Kemenkop berharap ekspansi ke pasar global tidak hanya dinikmati koperasi yang sudah besar. Sebaliknya, koperasi produsen di berbagai daerah dapat memanfaatkan ekosistem digital dan jaringan bisnis yang terbentuk untuk meningkatkan skala usaha.
Kemenkop menargetkan penguatan kapasitas, pembiayaan, sertifikasi, dan akses pasar dapat berjalan secara bersamaan. Dengan demikian, e-commerce tidak sekadar menjadi kanal penjualan, tetapi menjadi salah satu instrumen bagi koperasi untuk memperluas pasar dan meningkatkan daya saing produk Indonesia di tingkat global.














