Transformasi digital menjadi salah satu fondasi penting PT Angkasa Pura Indonesia (InJourney Airports) dalam membangun perusahaan sebagai operator bandara berkelas dunia. Sejak penggabungan PT Angkasa Pura I dan PT Angkasa Pura II pada September 2024, perusahaan mempercepat konsolidasi sistem, integrasi data, penguatan keamanan siber hingga pemanfaatan artificial intelligence (AI).
Director of Strategy & Technology Development PT Angkasa Pura Indonesia (InJourney Airports), Ferry Kusnowo, mengatakan transformasi tersebut merupakan bagian dari upaya perusahaan mewujudkan visi sebagai World-class Airport Operator, connecting global travelers with distinctive Indonesian hospitality.
“Karena kami tahu kalau kami ingin bersaing sebagai global, kami harus mempunyai suatu differentiation, perbedaan,” ujar Ferry saat sesi penjurian TOP Digital Awards, yang diselenggarakan Majalah ItWorks secara daring, Kamis (17/9/2026).
Menurutnya, teknologi ditempatkan sebagai fondasi dalam strategy house perusahaan. Pengembangan organisasi berbasis data dilakukan melalui sistem terintegrasi, didukung kemampuan analitik big data dan pengamanan siber yang tangguh.
“Jadi, dari sisi big data itulah kami mulai menerapkan pemanfaatan AI, dan tentu kami terus berinovasi untuk memastikan keamanan cyber yang robust (tangguh),” katanya.
Konsolidasi Sistem dan Integrasi Data
Pasca penggabungan AP1 dan AP2, salah satu prioritas transformasi digital perusahaan adalah mengkonsolidasi dan merasionalisasi aplikasi. Ferry menjelaskan, proses merger membawa berbagai sistem legacy dari kedua entitas yang sebelumnya berjalan secara terpisah.
Dari sekitar 160 aplikasi aktif, perusahaan melakukan rasionalisasi menjadi sekitar 60 aplikasi. Langkah tersebut ditujukan untuk mengurangi redundansi sekaligus menyederhanakan proses bisnis.
“Tujuannya adalah untuk memastikan kami mengurangi redundancy dari aplikasi dan juga simplifikasi dari proses,” jelas Ferry di hadapan dewan juri antara lain Melani K. Harriman (Melani K. Harriman & Associates), Febrizal Efendi (Aspiluki), Totok Sediantoro (LKN Asta Cita), Nurul Yakin Setyabudi (IDTUG/BPSK DKI).
Selain rasionalisasi aplikasi, Angkasa Pura Indonesia juga melakukan penyatuan Enterprise Resource Planning (ERP) dari AP1 dan AP2. Konsolidasi ERP tersebut diproyeksikan menghasilkan basis data yang lebih kuat sehingga dapat dimanfaatkan untuk analitik yang lebih mendalam.
“ERP dari AP1 dan AP2 itu akan memberikan kami data yang sangat robust, dan tentunya on top of date kami bisa melakukan analitik yang lebih dalam dengan bantuan artificial intelligence, baik itu Agentic maupun Generative AI dan itu memberikan kami kemampuan untuk melakukan decision making yang lebih cepat,” tuturnya.
Integrasi juga dilakukan terhadap ekosistem dan data operasional bandara. Dengan mengelola 37 bandara di enam region, perusahaan menjadikan konsep single source of data sebagai salah satu pegangan dalam mengintegrasikan data operasional.
Menurut Ferry, seluruh data tersebut kini telah dihimpun dalam Single Airport Operation Database. Basis data ini selanjutnya menjadi fondasi untuk pengembangan berbagai aktivitas analitik.
AI untuk Layanan dan Tata Kelola
Transformasi digital Angkasa Pura Indonesia tidak hanya diarahkan untuk kepentingan internal perusahaan, tetapi juga untuk meningkatkan pengalaman penumpang. Perusahaan mengembangkan aplikasi XperIA untuk membantu menciptakan perjalanan yang lebih seamless bagi pengguna jasa bandara.
“Para customer itu mengharapkan bahwa perjalanan mereka itu lebih seamless. Kita juga tahu dalam perjalanannya di bandar udara, sekarang aplikasi online, check-in online itu sudah sangat wajar, sangat normal dan kami juga membangun aplikasi XperIA untuk mempermudah perjalanan dari penumpang yang melintasi bandara kami,” kata Ferry.
Sejalan dengan pemanfaatan AI, perusahaan juga menempatkan tata kelola sebagai bagian penting dari transformasi. Angkasa Pura Indonesia mengimplementasikan data-driven decision-making platform dan kerangka Trusted AI Ecosystem.
Ferry mengatakan pemanfaatan AI diarahkan antara lain untuk mendukung kebutuhan penumpang, seperti pertanyaan mengenai perjalanan, tujuan maupun wayfinding. Namun, penerapannya tetap harus memperhatikan tata kelola perusahaan.
“Kami ingin melakukan penguatan tata kelola data dan Trusted AI Ecosystem,” ujarnya.
Menurut Ferry, penerapan teknologi tersebut harus dilakukan secara efektif dan efisien sekaligus selaras dengan prinsip Good Corporate Governance (GCG).
Keamanan Siber dan Penguatan SDM
Di tengah akselerasi digitalisasi, keamanan siber menjadi prioritas lain yang terus diperkuat. Angkasa Pura Indonesia telah mengoperasikan Cyber Security Operation Center (CSOC) selama 24 jam dan tujuh hari, serta melakukan pemenuhan ISO 27001 dan ketentuan Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi.
“Ini tidak hanya menjadi tantangan dari internal Angkasa Pura Indonesia dan juga dari InJourney holding, tapi ini juga menjadi sorotan dari Counterpart kami, dari stakeholder kami, dari ekosistem penerbangan yang memastikan bahwa aviasi Indonesia harus kuat dalam sisi cyber security,” ungkap Ferry, yang pada sesi penjurian kali ini juga didamping sejumlah rekan dari Angkasa Pura Indonesia, antara lain Yado Yarismano (Technology & Digitalization Group Head), Ridwan Rifai (IT Governance & Data Management Division Head), Pitoyo S (IT Cyber Security & Infrastructure Strategy Division Head), dan Abd Rachman Wachid.
Perubahan teknologi juga diikuti dengan penguatan aspek manusia. Perusahaan menjalankan change management, sosialisasi proses serta peningkatan kesadaran, terutama dalam aspek keamanan siber.
Dari sisi organisasi teknologi, Angkasa Pura Indonesia memperkuat tim IT melalui pembentukan Center of Excellence khusus teknologi. Tim tersebut mencakup kemampuan data analytics, data engineering, cyber security, tambahan developer hingga dukungan proses.
Perusahaan juga terus mendorong upskilling dan sertifikasi bagi talenta teknologi. Selain itu, dilakukan berbagai kegiatan capacity building bersama stakeholder, mulai dari sosialisasi tata kelola IT, bimbingan teknologi untuk AI hingga pengembangan knowledge hub.
Ferry menegaskan penguatan talenta menjadi bagian penting untuk membawa perusahaan menuju operator bandara global yang berbasis teknologi dan tata kelola yang baik.
“Ini yang akan memperkuat Angkasa Pura Indonesia menjadi global operator yang berbasis teknologi dan good corporate governance,” pungkasnya














