ItWorks.id- Ketergantungan pada jaringan internet seluler dan satelit menyimpan risiko ketika terjadi bencana alam maupun gangguan cuaca antariksa. Untuk mengantisipasi potensi lumpuhnya komunikasi, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mendorong pemanfaatan teknologi Radio High Frequency (HF) sebagai sistem komunikasi mandiri dan cadangan strategis nasional.
Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Antariksa BRIN, Varuliantor Dear, mengatakan Radio HF mampu beroperasi tanpa menara pemancar perantara (repeater). Teknologi ini memanfaatkan lapisan ionosfer untuk memantulkan gelombang radio sehingga komunikasi dapat menjangkau jarak jauh, bahkan hingga antarbenua. “Jika terjadi bencana alam atau sabotase yang melumpuhkan BTS maupun repeater, komunikasi radio HF masih bisa digunakan karena sistem ini murni bergantung pada koneksi antarperangkat,” ujar Varuliantor dalam Pelatihan Dasar Space Situational Awareness, (22/10), dirilis melalui portal web BRIN, baru-baru ini.
Menurut dia, infrastruktur telekomunikasi modern, seperti menara Base Transceiver Station (BTS), kabel serat optik bawah laut, dan satelit, tetap memiliki risiko gangguan akibat kerusakan fisik maupun anomali antariksa. Karena itu, Radio HF dapat menjadi alternatif untuk menjaga komunikasi ketika jaringan utama tidak berfungsi.
Dari sisi biaya, Radio HF juga relatif terjangkau. Varuliantor menyebut perangkat radio beserta antena dapat diperoleh dengan anggaran sekitar Rp10 juta. Setelah perangkat tersedia, komunikasi dapat dilakukan tanpa biaya pulsa.
Teknologi ini dinilai relevan bagi Indonesia, terutama untuk mendukung komunikasi darurat di wilayah terpencil dan daerah yang rentan bencana. Terlebih, masih terdapat tantangan pemerataan akses telekomunikasi di sejumlah wilayah tertinggal.
Selain untuk penanggulangan bencana, Radio HF juga berperan penting dalam sektor penerbangan dan maritim, khususnya pada wilayah yang minim jangkauan infrastruktur komunikasi konvensional.
Varuliantor menegaskan, Radio HF bukan pengganti seluruh teknologi komunikasi modern, melainkan lapisan cadangan untuk memperkuat ketahanan komunikasi nasional.“Ketika terjadi bencana dan infrastruktur telekomunikasi canggih tak lagi berfungsi, teknologi Radio HF adalah garis pertahanan terakhir yang memastikan kedaulatan informasi nasional tetap terjaga,” katanya.














