ItWorks.id – Transformasi digital di industri pasar modal tidak cukup hanya menghadirkan layanan transaksi secara daring. Pemanfaatan teknologi juga perlu memberikan nilai tambah bagi nasabah, mempercepat proses operasional, serta didukung tata kelola dan keamanan informasi yang andal. PT BRI Danareksa Sekuritas menjawab kebutuhan tersebut melalui pengembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dan Robotic Process Automation (RPA) yang terintegrasi dengan strategi bisnis perusahaan.
Melalui pengembangan fitur Brights AI Report Summary, perusahaan memanfaatkan AI untuk menyederhanakan laporan riset pasar modal agar lebih mudah dipahami nasabah. Sementara itu, penerapan RPA membantu mengotomatisasi pekerjaan operasional yang sebelumnya membutuhkan waktu hingga lebih dari satu jam menjadi hitungan detik.
Kepala Divisi TI PT BRI Danareksa Sekuritas, Mohamad Djuarsa, menjelaskan bahwa transformasi digital perusahaan diarahkan untuk mendukung pengembangan bisnis, terutama pada segmen ritel, sekaligus meningkatkan kualitas layanan kepada nasabah.
“Secara fokus, secara prioritas kita masuk di segmen ritel untuk pengembangannya,” ujar Djuarsa saat sesi penjurian TOP Digital Awards 2026 yang digelar secara daring oleh Majalah ItWorks, Selasa (27/10/2026).
Arah tersebut sejalan dengan visi BRI Danareksa Sekuritas untuk menjadi penyedia solusi layanan pasar modal terpercaya guna mencapai kinerja berkelanjutan dan memperkuat inklusi keuangan. Sebagai perusahaan anak Bank BRI, BRI Danareksa Sekuritas juga mengarahkan pengembangan bisnisnya pada segmen ritel melalui solusi digital yang inovatif dan terintegrasi.
AI Permudah Nasabah Memahami Informasi Pasar Modal
Salah satu inovasi yang dikembangkan BRI Danareksa Sekuritas adalah Brights AI Report Summary, fitur yang memanfaatkan AI untuk meringkas laporan riset agar nasabah dapat memahami informasi investasi secara lebih praktis.
Laporan riset yang semula terdiri atas beberapa halaman, bahkan mencapai delapan hingga sepuluh halaman, dapat disajikan dalam bentuk ringkasan. Dengan demikian, nasabah memiliki cara yang lebih efisien untuk memahami informasi mengenai emiten, saham, serta perkembangan pasar yang relevan dengan kebutuhan investasinya.
“Yang kedua tadi untuk relate dengan AI, ini kita membantu dalam hal men-summary, meringkas dari artikel-artikel research yang mungkin ada beberapa halaman, bisa sampai 8–10 halaman yang mungkin tadinya hitungannya beberapa menit. Itu bisa langsung jadi ada summary-nya,” kata Djuarsa.
Menurut Djuarsa, inovasi tersebut diharapkan membantu nasabah memperoleh informasi secara lebih cepat sebagai bahan pertimbangan dalam mengambil keputusan investasi, termasuk ketika mengevaluasi pilihan membeli atau menjual saham.
Meski demikian, perusahaan menempatkan relevansi dan akurasi hasil ringkasan sebagai aspek penting. Informasi yang disajikan AI tetap memerlukan pengawasan agar hasilnya sesuai dengan sumber riset dan tidak mengandung bias yang berpotensi memengaruhi pemahaman nasabah.
Djuarsa menjelaskan, pengembangan AI saat ini menggunakan data publik atau data yang dapat diperoleh dari pasar. Data tersebut menjadi bahan untuk menghasilkan ringkasan yang berkaitan dengan emiten maupun saham yang relevan bagi nasabah.
“Kemudian dari sisi kontrolnya tentu kami ada tim yang melihat apakah hasil dari summary ini tetap relevan untuk hasilnya. Dan juga lihat apakah ada hasil yang bias,” ujarnya.
Perusahaan juga tengah menyiapkan pengembangan lebih lanjut yang berkaitan dengan perilaku nasabah. Namun, pemanfaatan data perilaku tersebut memerlukan persetujuan atau consent dari nasabah.
Pendekatan ini menunjukkan bahwa pengembangan AI tidak hanya berorientasi pada kecepatan pemrosesan informasi, tetapi juga mempertimbangkan kualitas hasil, relevansi penggunaan data, serta dampaknya terhadap keputusan investasi.
Terapkan RPA
Selain menghadirkan inovasi yang berhadapan langsung dengan nasabah, BRI Danareksa Sekuritas memanfaatkan teknologi untuk memperbaiki proses kerja internal. Salah satunya melalui penerapan Robotic Process Automation (RPA) untuk menangani aktivitas operasional yang berulang dan mengikuti tahapan kerja yang relatif sama.
Melalui otomasi tersebut, pekerjaan yang sebelumnya membutuhkan waktu sekitar 100 menit dapat diselesaikan dalam hitungan detik. Teknologi ini diterapkan, antara lain, pada proses corporate action dan rekonsiliasi saldo dari sejumlah bank.
Dalam proses corporate action, RPA membantu pekerjaan operasional terkait pengelolaan hak nasabah atas aksi korporasi emiten, seperti pembagian dividen tunai. Sementara itu, pada proses rekonsiliasi, otomasi membantu tim memeriksa kesesuaian saldo sehingga pekerjaan pengolahan data menjadi lebih efisien.
Djuarsa menjelaskan, proses yang sebelumnya dikerjakan secara manual memiliki risiko kesalahan manusia, terutama ketika volume data yang diproses cukup besar. Kesalahan tersebut dapat menimbulkan pekerjaan tambahan karena tim harus melakukan pemeriksaan dan perbaikan kembali.
“Ini untuk mengurangi human error karena dengan banyaknya proses atau data yang diolah, ada potensi dan memang terjadi beberapa kali ada human error yang memang perlu waktu lagi untuk perbaikan,” ungkapnya.
Penerapan RPA menjadi contoh bagaimana teknologi dapat memberikan manfaat terukur ketika diarahkan pada persoalan operasional yang konkret. Selain mempercepat penyelesaian pekerjaan, otomasi membantu perusahaan mengurangi aktivitas repetitif dan meningkatkan konsistensi proses.
Bagi perusahaan jasa keuangan yang mengelola transaksi dan data nasabah, efisiensi tersebut menjadi salah satu elemen penting untuk mendukung kualitas layanan. Tim operasional dapat menjalankan proses secara lebih cepat, sementara perusahaan memperoleh ruang untuk meningkatkan efektivitas pengelolaan pekerjaan.
SmartInvest Dorong Pemanfaatan Dana Menganggur
Inovasi digital BRI Danareksa Sekuritas juga diarahkan untuk memberikan nilai tambah terhadap pengelolaan dana nasabah melalui fitur Brights SmartInvest.
Fitur ini dirancang untuk membantu nasabah menginvestasikan kembali dana yang belum digunakan atau idle di Rekening Dana Nasabah (RDN) ke produk reksa dana pasar uang secara otomatis, setelah nasabah memberikan persetujuan untuk mengaktifkan fitur tersebut.
Dengan mekanisme ini, dana yang sebelumnya hanya berada di RDN dapat dimanfaatkan untuk berinvestasi sesuai dengan pilihan produk yang tersedia. Nasabah tetap memiliki peran dalam menentukan penggunaan fitur, sementara proses yang telah disetujui dapat berjalan secara otomatis.
Menurut Djuarsa, pengembangan SmartInvest tidak hanya memberikan kemudahan bagi nasabah, tetapi juga memberikan dampak terhadap aktivitas bisnis perusahaan.
“Untuk yang SmartInvest ini juga tentu bermanfaat bagi perusahaan karena memang terbukti transaksinya juga bertambah dan bertumbuh,” katanya.
Pernyataan tersebut menggambarkan keterkaitan antara inovasi layanan dan pertumbuhan aktivitas bisnis. Teknologi tidak berhenti sebagai sarana digitalisasi, tetapi dikembangkan untuk menjawab kebutuhan nasabah sekaligus membuka peluang peningkatan transaksi.
Meski demikian, keputusan investasi tetap perlu mempertimbangkan karakteristik produk dan kebutuhan masing-masing nasabah. Otomasi membantu proses pelaksanaan, sedangkan persetujuan nasabah menjadi bagian penting dalam penggunaan fitur.
Tata Kelola dan Keamanan Siber Menjadi Fondasi
Di tengah pengembangan AI dan otomasi, BRI Danareksa Sekuritas menempatkan tata kelola TI dan keamanan informasi sebagai fondasi transformasi digital. Hal ini penting mengingat perusahaan bergerak di industri pasar modal yang memiliki ketergantungan tinggi pada ketersediaan sistem, keandalan transaksi, serta perlindungan data nasabah.
Djuarsa menjelaskan, perusahaan memiliki sejumlah kebijakan dan prosedur operasional standar (SOP) yang menjadi pedoman pelaksanaan TI. Salah satu yang menjadi perhatian utama adalah kebijakan tata kelola TI, yang berfungsi sebagai payung bagi penyusunan SOP hingga implementasi sistem.
Selain itu, perusahaan menerapkan kebijakan Sistem Manajemen Keamanan Informasi (SMKI) dan kebijakan umum pelindungan data pribadi. Dalam penerapan ketentuan pelindungan data, divisi TI juga bekerja sama dengan divisi kepatuhan untuk memperkuat proses dan kesiapan sumber daya manusia.
Dari sisi perencanaan, strategi digital dan peta jalan pengembangan ditinjau setiap tahun, dengan pemantauan pelaksanaan secara kuartalan. Pendekatan ini memungkinkan perusahaan mengevaluasi kemajuan program digital dan menyesuaikan prioritas pengembangan dengan kebutuhan bisnis.
Perusahaan juga telah mengantongi sertifikasi ISO 27001:2022 untuk sistem manajemen keamanan informasi. Sertifikasi tersebut menjadi bagian dari kerangka pengelolaan keamanan informasi yang diterapkan perusahaan.
Pengawasan keamanan diperkuat melalui kerja sama dengan IDXSTI dalam penyediaan layanan Security Operations Center (SOC). Tim SOC memantau keamanan selama 24 jam, termasuk pada hari libur, dan berkoordinasi dengan tim internal BRI Danareksa Sekuritas.
Dari sisi perlindungan akses, perusahaan menerapkan Multi-Factor Authentication (MFA) untuk sejumlah sistem internal, dokumen penting, email, dan akses jarak jauh melalui VPN. Pada layanan nasabah, perusahaan menggunakan one-time password (OTP) serta mekanisme pendaftaran perangkat.
Perlindungan juga mencakup teknologi Extended Detection and Response (XDR) untuk mendeteksi perilaku mencurigakan atau indikasi malware pada perangkat perusahaan. Sementara itu, Web Application Firewall (WAF) digunakan untuk membantu melindungi sistem berbasis web dari serangan, termasuk SQL injection dan Distributed Denial of Service (DDoS).
Pada aplikasi perdagangan saham Brights, perusahaan menerapkan mobile app security untuk mendeteksi aplikasi palsu maupun aplikasi pengintai yang terpasang pada perangkat nasabah. Sistem tersebut dapat menghentikan akses ke aplikasi ketika mendeteksi kondisi yang berisiko.
Perusahaan juga melakukan pemantauan melalui Security Information and Event Management (SIEM) serta threat intelligence untuk mengidentifikasi potensi ancaman terhadap aset digital, termasuk indikasi kebocoran data di dark web dan akun media sosial palsu yang menyerupai akun direksi.
Untuk penanganan insiden, BRI Danareksa Sekuritas telah membentuk tim tanggap insiden siber pada 2025, dilengkapi SOP mengenai penanganan teknis, koordinasi nonteknis, hingga pelaporan kepada regulator setelah insiden.
Kesiapan pemulihan juga menjadi perhatian. Perusahaan menjalankan simulasi Business Continuity Plan (BCP) serta melakukan pencadangan dan pengujian pemulihan data secara berkala. Dalam simulasi BCP pada 2026 yang disampaikan Djuarsa, Recovery Point Objective (RPO) berhasil mencapai 27 menit, lebih baik daripada catatan sebelumnya sebesar 53 menit.
Pengujian keamanan melalui penetration test juga dilakukan secara berkala, setidaknya setahun sekali, dan menjadi persyaratan bagi sistem baru, terutama yang digunakan oleh publik.
Seluruh langkah tersebut menunjukkan bahwa inovasi digital ditempatkan dalam kerangka pengelolaan risiko, bukan semata-mata mengejar kecepatan pengembangan teknologi.
TI Maturity Meningkat
Konsistensi dalam memperkuat tata kelola juga tercermin dari perkembangan tingkat kematangan TI perusahaan. Djuarsa memaparkan, tingkat kematangan TI yang pada 2014 berada di angka 1,54 meningkat menjadi 2,58 pada 2021. Setelah penyempurnaan kebijakan, SOP, dan konsistensi penerapan, tingkat tersebut naik menjadi 4 pada 2023 dan mencapai 4,15 pada 2025.
Peningkatan itu mencerminkan proses bertahap dalam membangun pengelolaan TI yang lebih terstruktur. Menurut Djuarsa, penyempurnaan tidak hanya dilakukan pada dokumen kebijakan, tetapi juga pada konsistensi implementasi dalam kegiatan operasional.
Keandalan sistem menjadi perhatian khusus karena transaksi pasar modal sangat sensitif terhadap waktu. BRI Danareksa Sekuritas mengelola lima aplikasi kritikal, meliputi online trading untuk nasabah, remote trading untuk dealer, DMA dan DSA untuk nasabah institusi, serta sistem back office.
Djuarsa menyatakan bahwa hingga saat pemaparan, perusahaan tidak mengalami downtime pada jam perdagangan bursa.
“Secara availability, kami sampai saat ini tidak ada downtime di saat jam bursa. Memang ini yang kita jaga, karena memang untuk bisnis atau transaksi di pasar modal ini sangat-sangat sensitif di jam bursa,” ujarnya.
Ketersediaan sistem tersebut menjadi aspek penting bagi layanan perusahaan. Gangguan pada jam perdagangan dapat memengaruhi kemampuan nasabah mengakses layanan dan melakukan transaksi. Karena itu, penguatan infrastruktur, pengamanan, dan pemulihan sistem berjalan beriringan dengan pengembangan fitur digital.
Mulai dari Kebutuhan Nyata, Kembangkan Dampak yang Lebih Besar
Bagi BRI Danareksa Sekuritas, salah satu pelajaran penting dalam transformasi digital adalah bahwa adopsi teknologi baru tidak harus dimulai dari proyek yang kompleks. Perusahaan dapat memulai dari kebutuhan yang spesifik, mengukur hasilnya, kemudian memperluas penerapan berdasarkan manfaat yang terbukti.
Pendekatan tersebut terlihat dari pemanfaatan AI untuk meringkas laporan riset, RPA untuk mempercepat pekerjaan berulang, serta SmartInvest untuk membantu pemanfaatan dana nasabah yang belum digunakan.
Djuarsa menilai, pendekatan bertahap dapat menjadi contoh bagi perusahaan lain yang ingin mengembangkan AI dan otomasi, tetapi tetap perlu memastikan bahwa teknologi yang dipilih sesuai dengan kebutuhan bisnis.
“Pemanfaatan teknologi baru seperti AI dan RPA dapat dimulai dari use case yang sederhana untuk mengetahui dampak atas penerapan teknologi tersebut, sehingga dapat diteruskan untuk pengembangan hal lain yang dapat berdampak signifikan bagi pengembangan bisnis dan efektivitas operasional perusahaan,” ujarnya.
Pendekatan itu menempatkan keberhasilan transformasi digital pada kemampuan perusahaan menghubungkan teknologi dengan persoalan nyata. Manfaatnya dapat dilihat dari proses yang lebih cepat, layanan yang lebih mudah diakses, serta pengambilan keputusan yang didukung informasi lebih ringkas dan relevan.














