ItWorks.id – Indonesia perlu menentukan strategi tersendiri dalam menghadapi persaingan kecerdasan artifisial (AI) global. Alih-alih mengejar ambisi menciptakan model AI tercanggih yang saat ini didominasi Amerika Serikat dan Tiongkok, Indonesia dinilai memiliki peluang lebih besar dengan mengoptimalkan pemanfaatan teknologi tersebut untuk mempercepat transformasi pemerintahan, perekonomian, dan pelayanan masyarakat.
Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria menilai kemampuan memanfaatkan AI untuk mempercepat layanan pemerintah, meningkatkan produktivitas, dan menjawab kebutuhan masyarakat menjadi ukuran penting keberhasilan Indonesia di era AI.
Wamen Nezar menjelaskan bahwa pengembangan model AI terdepan saat ini masih didominasi Amerika Serikat dan Tiongkok karena konsentrasi modal, talenta, cip, serta kebutuhan energi yang sangat besar.
Dalam kondisi tersebut, Indonesia perlu menentukan strategi yang lebih realistis dengan memaksimalkan pemanfaatan teknologi yang tersedia.
“Indonesia tidak akan membangun model AI paling canggih di dunia, tidak dalam dekade ini, dan kemungkinan besar tidak juga pada dekade berikutnya,” ujarnya dalam acara Pelatihan AI Value Chain: Indonesia’s Strategy in the AI Supply Chain as a Middle Power, Jumat (30/10/2026), seperti dilansir laman komdigi.go.id.
Menurut Wamen Nezar, keterbatasan untuk bersaing dalam pengembangan model AI tercanggih tidak berarti Indonesia kehilangan kesempatan menjadi pemain penting.
Justru, Indonesia memiliki peluang untuk mengambil posisi strategis melalui penerapan teknologi dan penguatan daya tawar dalam rantai nilai AI global.
“Kita perlu untuk memanfaatkan model-model terbaik di dunia untuk mentransformasi pemerintahan, perekonomian, dan kehidupan masyarakat kita lebih cepat daripada negara lain” katanya.
Untuk mencapai tujuan tersebut, Indonesia tidak boleh hanya bergantung pada penyedia teknologi asing melalui kontrak layanan atau langganan.
Ketergantungan semacam itu berisiko ketika terjadi kenaikan harga, perubahan prioritas penyedia komputasi, maupun pembatasan akses terhadap infrastruktur teknologi.
Wamen Nezar menegaskan Indonesia harus membangun posisi tawar yang kuat melalui pengembangan infrastruktur komputasi lokal, pengaturan akses pasar, dan kerja sama internasional.
“Indonesia tidak boleh memosisikan diri hanya sebagai pelanggan. Kita harus bertindak sebagai mitra setara (counterparty) yang memiliki daya tawar nyata untuk menjamin akses jangka panjang,” tegasnya.
Dalam rantai pasok AI global, Indonesia memiliki dua modal utama, yakni sumber daya mineral kritis dan pasar pengguna akhir dengan populasi hampir 290 juta jiwa.
Namun, kedua keunggulan tersebut harus dikembangkan menjadi nilai tambah ekonomi, bukan berhenti pada penyediaan bahan mentah dan pasar konsumsi.
Wamen Nezar menilai penguatan industri pengolahan, manufaktur, serta integrasi teknologi menjadi langkah penting agar Indonesia memperoleh manfaat lebih besar dari perkembangan AI.
Kerja sama dengan negara yang memiliki keunggulan teknologi semikonduktor, termasuk Jepang dan Korea Selatan, juga diperlukan untuk memperkuat posisi Indonesia sebagai kekuatan menengah dalam rantai pasok global.
“Nilai tambah muncul saat kecerdasan bertemu dengan dunia fisik melalui pemrosesan, manufaktur, dan integrasi,” jelasnya.
Selain memperkuat posisi industri, Wamen Nezar mengingatkan bahwa pengembangan infrastruktur AI harus memperhatikan keberlanjutan lingkungan dan manfaat bagi masyarakat sekitar.
Pembangunan pusat data, misalnya, membutuhkan pasokan listrik, air, dan lahan yang tidak sedikit.
Karena itu, Indonesia tidak seharusnya bersaing menarik investasi hanya dengan menawarkan biaya energi, air, atau lahan paling murah.
Kepastian tata kelola, keberlanjutan lingkungan, dan dampak ekonomi bagi masyarakat perlu menjadi keunggulan investasi.
“Perlindungan terhadap lingkungan dan masyarakat bukanlah hambatan bagi strategi kecerdasan artifisial kita. Hal-hal tersebut justru merupakan titik awal dari strategi kita,” ujarnya.
Wamen Nezar juga menekankan pentingnya menyiapkan strategi ekonomi untuk menghadapi perubahan lapangan kerja akibat AI.
Sejumlah pekerjaan rutin di sektor jasa berpotensi terdampak sehingga pemerintah perlu memastikan manfaat pertumbuhan ekonomi berbasis AI dapat membantu masyarakat menghadapi perubahan tersebut.
Ia menegaskan keberhasilan Indonesia tidak semata ditentukan oleh kemampuan menciptakan teknologi paling maju, melainkan juga oleh kecakapan memanfaatkannya, kekuatan kemitraan global, dan tanggung jawab dalam mengelola dampaknya.
“Indonesia mungkin tidak akan memenangkan perlombaan untuk membangun model AI terbesar, namun kita bisa memenangkan perlombaan untuk membangun negara yang paling cakap, mitra yang paling kredibel, serta tuan rumah yang paling bertanggung jawab di era AI,” pungkasnya.














