Jakarta, Itech- Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) bersama industri garam khususnya PT Garam (Persero) bekerja sama dalam membangun pilot project pabrik garam industry di kawasan lahan pegaraman terintegrasi di Bipolo, Kupang Nusa Tenggara Timur (NTT).
“Dengan dibangunnya pilot project pabrik refinery garam untuk menghasilkan garam kualitas industry yang akan dikerjakan secara bersama-sama antara BPPT dengan PT Garam ,” ujar Kepala BPPT Unggul Priyanto di Jakarta, (20/11). Pembangunan pabrik garam di NTT membutuhkan investasi sebesar Rp 45 miliar idengan kapasitas produksi sebesar 40 ribu ton/tahun.
Diperkirakan di NTT terdapat lahan potensiai sebesar kurang lebih 15.000 ha. Melalui pembangunan lahan pegaraman secara modern maka potensi produksi garam kualitas industri dari NTT diperkirakan bisa mencapai 1,5 juta ton per tahun. Indonesia saat ini impor garam dari Australia rata-rata 1,8 juta ton per tahun.
Unggul mengatakan, BPPT akan menerapkan teknologi untuk meningkatkan produksi garam dengan proyek percontohan di NTT. Konsep pembangunan proyek percontohan tersebut untuk mengelola sumber daya air laut secara terintegrasi dan satu kawasan, sehingga nantinya tdapat diperoleh berbagai komoditas produk antara lain garam industri, trace mineral, produk budidaya perikanan dan artemia. Keberhasilan pilot projects ini, diharapkan dapat diterapkan pada sentra pegaraman lainnya,” tambah Unggul.
Hal senada dikatakan Dirut PT Garam (Persero) Budi Sasongko bahwa kebutuhan garam konsumsi di Indonesia mencapai hampir 3 juta ton/tahun. Dalam kondisi normal garam dari petani atau garam rakyat bisa menghasilkan 2,3 juta ton dalam setahun dengan luas lahan mencapai 25 ribu hektar. Sedangkan produksi PT Garam setiap tahun sekitar 375 ribu ton/tahun di lahan seluas tiga ribu hektar.
Disisi lain, Deputi Bidang Teknologi Agro Industri dan Bioteknologi BPPT, Eniya L. Dewi menambahkan, BPPT terus melakukan kaji terap teknologi untuk diversifikasi produk garam dan mendorong peningkatan kapasitas kadar garam. Dengan demikian, ke depannya pemerintah tidak perlu mengimpor garam lag .”Indonesia memiliki peluang yang sangat besar untuk memproduksi garam industri setara dengan garam impor dari Australia,” jelasnya.
Permasalahan utama dari komoditas garam ini adalah industri dalam negeri belum bisa memproduksi sesuai dengan kebutuhan nasional. Dengan demikian, pembangunan pabrik garam untuk kebutuhan industri ini diharapkan mampu untuk mengurangi ketergantungan impor, bahkan diharapkan bisa ke depan bisa untuk meningkatkan kapasitas garam nasional untuk demand Tanah Air.
BPPT Gandeng PT PHapros
Di tempat yang sama, BPPT juga bekerja sama dengan PT Phapros (Perserok) Tbk, untuk mengembangkan industri bahan baku obat dan ekstrak. Kerja sama tersebut dibangun untuk mempercepat kemandirian Indonesia dalam penyediaan bahan baku obat. Dengan adanya kerja sama dengan PT Phapros diharapkan akan melahirkan inovasi.
BPPT, kata Unggul akan terus mengkaji bahan baku obat berbasis sumberdaya alam Indonesia. Beberapa yang telah dikembangkan adalah bahan baku desktrosa monohidrat (DMH) dari Pati dan bahan baku ekstrak dari tanaman obat. “Diharapkan dengan strategi pengembangan ini, kita bisa mengejar ketertinggalannya dengan industri bahan baku obat di luar negeri dan yang terpenting mampu mengurangi ketergantungan dengan produk impor,” kata Unggul. (red/ju)














