Bandung, Itech- Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), sebagai pembuat desain dan engineering purwarupa mesin CNC bersama mitranya PT. Daun Biru, meluncurkan prototipe mesin bubut CNC dan mesin milling CNC BPPT di Kampus Universitas Islam Nusantara (Uninus) Bandung, Senin (7/5).
Deputi Kepala BPPT Bidang Teknologi industri Rancang Bangun dan Rekayasa (TIRBR), Wahyu Widodo Pandoe, saat mewakili Kepala BPPT menjelaskan peluncuran prototipe di Kampus Uninus yang tujuannya untuk mengetahui kehandalan (realibility) dari kedua purwarupa mesin CNC tersebut, dilakukan berbarengan dengan peresmian Lab CNC Uninus.
Diketahui, BPPT bersama dengan PT. Daun Biru, telah mengembangkan purwarupa mesin bubut CNC kapasitas 5.5 KW dan mesin milling CNC kapasitas 3.7 KW yang diberi nama mesin bubut KIRANA CNC Kirana 5 dan mesin milling CNC GAYATRI 5.3.3.
“Dengan adanya fasilitas lab BPPT di kampus Uninus memungkinkan dikembangkan purwarupa mesin perkakas yang dapat digunakan pada tingkat industri maupun sarana pelatihan pada bidang pendidikan. Purwarupa mesin perkakas ini berguna untuk mendorong tumbuh kembangnya industri mesin perkakas nasional serta memicu peningkatan teknologi yang lebih canggih,” tutur Wahyu Widodo Pandoe
Hadir dalam acara itu, antara lain Rektor Uninus Suhendra Yusuf, Ketua PWNU (Pengurus Wilayah Nahdatul Ulama) Jawa Barat KH Hasan Nuri Hidayatullah dan Dirut PT. Daun Biru Furkan Jadid.
Wahyu Pandoe berharap dengan penempatan purwarupa mesin CNC BPPT di kampus Uninus ini, pemanfaatan dan beban pemakaian mesin CNC yang tinggi dalam rangka uji coba dapat dioptimalkan dan sekaligus dapat mendukung dunia pendidikan dan pengajaran di bidang teknik manufaktur di kampus tersebut.
Sinergi Pemangku Kepentingan
Lebih lanjut dijelaskan, untuk mengurangi ketergantungan teknologi asing, perlu dikembangkan kemandirian teknologi dalam negeri pada industri mesin perkakas, sebagai dasar atau penyokong utama industri mesin atau engineering industri. Pada era globalisasi saat ini, persaingan dalam dunia industri sangat tinggi.
Sedangkan faktor dominan dalam memenangkan persaingan tersebut adalah QCD atau kualitas (Quality), harga (Cost) dan waktu penyerahan (Delivery) suatu produk. Nah, untuk memenuhi hal tersebut, produktivitas dan efisiensi sistem produksi industri nasional harus selalu ditingkatkan, melalui pengembangan kemampuan industri mesin perkakas dalam negeri akan memperkuat industri permesinan/manufaktur di dalam negeri.
“Kemandirian menjadi positioning strategy negara dan industri dalam memenangkan persaingan di era globalisasi. Saat ini profit bukan menjadi tujuan, tetapi merupakan luaran atau outcomes dari kemandirian,” jelasnya.
Lebih lanjut dikatakan bahwa kemandirian melahirkan keberlangsungan (sustainability). Beberapa indikator utama dalam kemandirian industri adalah TKDN dan peran serta industri permesinan dalam negeri yang maksimal, struktur yang kokoh, serta dukungan aktivitas R&D (Research and Development) yang saling bersinergi antara lembaga Kaji Terap dan industri. (red/JU)














