Jakarta, ItWorks- Seperti yang terjadi di negara-negara maju, pengoperasian Mass Rapid Transit (MRT) atau Moda Raya Terpadu (MRT) Jakarta juga terus ditingkatkan sesuai standar internasional, baik di sistem manajemen, operasional armada, maupun pelayanannya. Untuk mengejar pelayanan ini, PT MRT Jakarta kini gencar melakukan tansformasi digital dengan membangun sistem manajemen dan operasional berbasis aplikasi digital dan otomatisasi untuk makin memberikan rasa aman, nyaman, bagi peningkatan pelayaan masyarakat (pelanggan).
Moda transportasi Mass Rapit Transit (MRT) sudah beroperasi sekitar tujuh bulan setelah Maret 2019 diresmikan secara langsung oleh Presiden RI Joko Widodo. Kehadiran Moda Raya Terpadu Jakarta fase 1 dengan rute Lebak Bulus – Bundaran Hotel Indonesia ini juga telah dirasakan manfaatnya oleh masyarakat luas. Setiap hari, ribuan masyarakat mengandalkan layanan angkutan massal ini untuk melakukan berbagai aktivitasnya.
Dari aspek teknologi, operasional MRT sejak awal memang sarat dengan penggunaan teknologi modern. Seperti automation technology pada sistem persinyalan, buka dan tutup pintu otomatis pada perkeretaapian, sistem kontrol perjalanan perkeretaapian, dan berbagai teknologi otomatisasi lainnya. Untuk persinyalan menggunakan moving block melalui sistem persinyalan Communication-Based Train Control (CBTC) yang merupakan teknologi baru di Indonesia.
PT MRT Jakarta selaku badan usaha milik daerah yang menjadi operator angkutan massal ini, juga berkomitmen untuk terus meningkatkan inovasi bagi pelayanan publik yang prima. Sarana transportasi public yang dikelola ini, diharapkan secara optimal bia berkontribusi nyata dalam mendukung kelancaran mobilitas masyarakat Ibukota Jakarta dan sekitar yang diharapkan dapat memperbaiki kualitas hidup penggunanya.
“Sebagai operator, PT MRT Jakarta berkomitmen untuk terus meningkatkan pelayanan, di antaranya melalui digital transformation, baik di sistem management melalui e-office, layanan pelanggan, dan operasional yang diintegrasikan dengan sistem pengoperasian perkeretaapian. Hal ini juga untuk kepuasan pengguna MRT yang jumlahnya terus meningkat. Sejak pertama dioperasikan pengguna MRT terus meningkat. Rata-rata jumlah penumpang sejak April – September mencapai sebanyak 2.536.258 penumpang per bulan atau 83.611 penumpang per hari. Bahkan untuk periode liburan di bulan Juni-Juli bisa tumbuh signifikan sebesar 12-14%,” ungkap Corporate Secretary Division Head MRT Jakarta, Muhammad Kamaluddin saat presentasi dan wawancara penjurian “Top Digital Awards 2019” yang diselenggarakan oleh Majalah ItWorks bekerjasama dengan sejumlah asosiasi TI TELCO yang berlangsung di Gedung WTC I, Jl Jend, Sudirman, Jakarta, belum lama ini.
Turut hadir mendampingi presentasi dan wawancara penjurian, di antaranya Indra Kurnia, Corporate Communication Specialist PT MRT, serta Julius Purwoko Selaku IT Operation System Suport Specialist PT MRT Jakarta. Presentasi dan wawancara penjurian selama sekitar 75 menit berlangsung interaktif dengan materi presentasi bertema komitmen transformasi digital di PT MRT Jakarta.
Menurut Muhammad Kamaluddin, komitmen pengembangan sistem IT sudah dimulai sejak tahun 2017 dengan membuat pondasi melalui pembuatan kebijakan, tata kelola dan rencana pengembangannya. Semua bentuk jenis pengembangan Sistem Informasi pada Aplikasi dan IT infrastruktur Perusahaan dilakukan dengan mengacu pada Peraturan Direksi No. 008 Tahun 2017 yang penerapannya dilakukan secara efektif selama 1 (satu) tahun penuh, mulai tahun 2018.
Untuk sistem manajemen juga dikeluarkan Peraturan Direksi PT MRT Jakarta no 011 tahun 2017 tentang Pedoman Penggunaan Sistem Informasi Surat Elektronilk (E-Office) di lingkungan PT MRT Jakarta. Kebutuhan operasional maupun coorporate dikembangkan melalui Divisi IT PT MRT Jakarta dalam 1 (satu) pintu.
Pengembangan teknologi informasi dapat bersifat kebutuhan yang di “request” oleh divisi-divisi di luar IT dalam menunjang kebutuhannya untuk menerapkan digitalisasi, dan berupa IT Road Map sesuai rencana yang telah dituangkan dalam Peraturan Direksi No. 13 Tahun 2018. Pengembangannya dilakukan menggunakan sumber daya internal yang terdapat pada Divisi IT, untuk kebutuhan yang memerlukan tenaga ahli khusus ataupun kebutuhan hardware atau infrastruktur yang dapat meningkatkan kinerja operasional Perusahaan.
Selama 2018 juga sudah ada beberapa capaian yang berdampak positif bagi peningkatan kinerja operasional manajemen. Di antaranya perusahaan mulai mengembangkan infrastruktur sistem TI berbasis Enterprise Resource Planning (ERP) yang berfungsi sebagai sistem integrasi informasi. Sistem ini sudah terintegrasi dengan sistem ICT Perkeretaapian, sejak pertamakali dioperasikan pada Maret tahun 2019.
Selain itu, juga dilakukan pengembangan portal sistem aplikasi terutama untuk mengintegrasikan akses user/akun, sehingga setiap karyawan menggunakan 1 (satu) akun untuk semua aplikasi. Dalam hal ini, di antaranya dilakkan melalui system Single Sign On (SSO) yang terintegrasi dengan Active Directory yang telah dikembangkan sejak tahun 2017.
“Pada intinya kita menyadari bahwa Information, Communication, and Technology (ICT) sangat penting untuk mendukung pengoperasian sistem perkerataapian MRT ini, makanya inovasi dan pengembangannya akan terus ditingkatan. Sebagai wujud komitmen pengembangan Teknologi Informasi, perusahaan juga meningkatkan investasi yang signifikan dalam bidang TI, termasuk di tahun 2019 ini dengan alokasi yang lebih besar dari tahun lalu” tandasnya. (AC)














