Jakarta,ItWorks- Menggeluti bidang usaha Perikanan Indonesia, Perusahaan Umum Perikanan Indonesia (Perum Perindo) sebagai BUMN Perikanan yang fokus pada 3 lini bisnis diantaranya Bisnis Kepelabuhanan, Bisnis Budidaya dan Bisnis Pengolahan Hasil Perikanan ini, belakangan juga getol melakukan “Transforming Business to Digital”.
“Saat ini, Perum Perindo terus berupaya melakukan transformasi dari segala bidang dengan melibatkan seluruh stakeholders baik Internal maupun eksternal Perum Perindo.Salah satunya transformasi pada beberapa lini usaha yang mulai diperkuat melalui sentuhan inovasi baru berbasis teknologi digital.” Boyke Andreas, Sekretaris Perusahaan Perum Perindo.
Boyke menambahkan, dalam menghadapi tantangan di era industri perikanan yang semakin kompetitif, Perum Perindo mau tidak mau juga perlu menyesuaikan diri mengarah ke tranformasi digital. Dimulai dari sistem manajemen (back office) melalui penyempurnaan aplikasi e-office , mengembangkan e-procurement , menerapkan aplikasi ERP (enterprise resource planning ), hingga penerapan transformasi pada semua lini bisnis Perum Perindo.
Sementara itu, Kepala Desk IT Perum Perindo, Dicky Hertanto mengatakan bahwa fokus transformasi digital yang diterapkan Perum Perindo salah satunya penerapan transformasi bisnis Pelabuhan Perikanan yang terdapat beberapa jenis usaha, diantaranya Cold Storage, usaha penyediaan listrik dan air bersih, pemanfaatan lahan / sewa penyediaan ruang bangunan dan tanah di area pelabuhan perikanan, perbekalan untuk kebutuhan logistik kapal, penyediaan BBM kapal, docking kapal, pabrik es, dan pengelolaan PIM Muara Baru serta pelayanan jasa-jasa lainnya).
Transformasi yang telah go live (running) dan menjadi unggulan di segmen pelabuhan Perikanan, diantaranya digitalisasi untuk layanan air bersih dan listrik dengan aplikasi digital pembacaan meter air dan listrik melalui aplikasi Itron. Sistem digitalisasi dilakukan, di mana untuk semua pelanggan air dipasang alat pembaca meteran digital (RFID) yang terhubung dengan server terpusat yang bisa langsung dipantau secara online dan real time dari usat kendali. Pertama jumlah konsumsi atau penggunaan air di semua pelanggan. Selain itu, juga dipasang alat sensor yang bisa memberikan alert atau signal jika misalnya terjadi gangguan kebocoran atau fakor lain yang mengakibatkan aliran air terganggu. Sehingga jika terjadi kebocoran atau gangguan, petugas lapangan bisa cepat bergerak untuk mengatasinya.
“Mengawali program transformasi digital di perusahaannya, bukan hal mudah, dan diakui berjalan agak lambat. Hal ini karena implementasi IT selalu dilihat sebagai cost (biaya) dan investasinya dianggap mahal, namun kami meyakini bahwa transformasi menjadi keharusan agar perusahaan bisa terus eksis dan berdaya saing. Apalagi dengan tren berkembangnya model bisnis baru dari era digital ini yang telah mendisrupsi banyak bisnis konvensional.” ujar Kepala Desk IT Perum Perindo, Dicky Hertanto saat Presentasi dan Wawancara Penjurian di ajang “Top Digital Awards 2019” yang diselenggarakan Majalah ItWorks bekerjasama dengan konsultan independent, dan sejumlah asosiasi TI & TELCO yang berlangsung (29/10), di Gedung WTC I, Jl Jend, Sudirman, Jakarta, belum lama ini.
Saat presentasi dan wawancara penjurian berlangsung, Dicky turut memaparkan banyak hal Proses transformasi digital dilakukan secara bertahap sesuai anggaran dan skala prioritasnya, ada yang sudah go live (running), ada juga yang masih dalam proses developing dan pengembangan. Diakuinya dengan penerapan transformasi di beberapa jenis usaha, sangat membantu operasional bisnis Perusahaan, misal penggunaan aplikasi Itron. Dari aplikasi ini tingkat kebocoran air (Non Revenue Water), baik karena bocor secara fisik maupun kesalahan atau ketidakuratan pencatatan jumlah meter air oleh petugas di setiap pelanggan, bisa kami tekan. Tahun 2016 misalnya, tingkat kebocoran atau Non Revenue Water (NRW) mencapai 45% dengan pendapatan usaha hanya Rp 600 juta. Sejak memakai aplikasi Itron, kebocoran bisa terus ditekan yang saat ini tinggal sekitar 2%. Hasilnya pendapatan usaha dari air ini pun bisa terus meningkat signifikan yang saat ini mencapai Rp2,2 Miliar.
Selain itu, pada penerapan transformasi digital pada lini bisnis Budidaya, Perum Perindo juga sedang membangun aplikasi (Arduino) untuk penanganan kolam (kolam pintar) bagi usaha budi daya ikan dengan sistem aplikasi digital yang bisa memantau suhu air, tingkat PH air, warning jam pemberian pakan ikan, dan lainnya berbasis android.
Berdasarkan PP Nomor 9/2013 itu, Perum Perindo memiliki tugas dan tanggung mengelola aset negara dengan menyelenggarakan pengusahaan dan pelayanan barang jasa dan pengembangan sistem bisnis perikanan kepada pengguna jasa pelabuhan perikanan yaitu nelayan pada khususnya dan masyarakat perikanan pada umumnya. Selain itu, sebagai entitas bisnis, tentunya juga harus bisa meraih keuntungan. Pengusahaan dan pelayanan tersebut di laksanakan di enam pelabuhan perikanan yaitu Pelabuhan Perikanan Samudera Nizam Zachman Jakarta di Jakarta, Pelabuhan Perikanan Samudera Belawan di Belawan; Pelabuhan Perikanan Nusantara Pekalongan di Pekalongan; Pelabuhan Perikanan Nusantara Brondong di Brondong; Pelabuhan Perikanan Nusantara Pemangkat di Pemangkat, dan Pelabuhan Perikanan Nusantara Prigi di Prigi.
Sarana prasarana yang dimiliki dan dikelola di enam pelabuhan perikanan tersebut di atas ditambah di tiga pelabuhan. Di antaranya Pelabuhan Perikanan Lampulo di Banda Aceh, Pelabuhan Perikanan Tarakan dan Pelabuhan Perikanan Banjarmasin) yang merupakan modal Perum Perindo saat didirikan, berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan Nomor 759/KMK/ 0.13/1992. (AC)














