Inovasi IT menjawab berbagai kebutuhan masyarakat terus menggeliat. Dan inovasi terbaru untuk mengetahui brand image suatu produk dimata publik, kini bisa melalui website Mindtalk.com dengan fitur analisis Sentigram.
Mindtalk.com merupakan interest meet up space dimana para penggunanya dapat memulai percakapan dengan orang-orang yang memiliki pemikiran yang sama untuk berbicara ketertarikan suatu obyek.
Melalui Sentigram hasil besutan Mindtalk ini, maka akan dapat diketahui sentiment masyarakat atas suatu obyek atau brand image yang tengah hangat di mata publik. “Untuk data (Sentigram) saat awal dibuat, harus antusias ngomongin sebuah brand. Ternyata berita politik banyak yang minat dan terbanyak pemilu. Dari data itu kita share ke pemilu, yang awalnya menargetkan Piala Dunia,” ujar Danny Oei Wirianto, salah satu pendiri Mindtalk kepada wartawan.
Ditambahkan Danny, tingkat akurasi pengukuran Sentigram sekitar 80 persen dengan tingkat bias diperkirakan 20 persen. Meski tingkat bias tergolong besar, namun ia meyakini dengan jumlah data postingan yang mencapai jutaan, data yang ditampilkan pada Sentigram patut dijadikan salah satu ukuran penilaian publik.
Terpisah, Robin Ma’rufi sebagai founder & CTO Mindtalk.com mengatakan, Sentigram berfungsi sebagai pelengkap teknik survei konvensional seperti yang sudah ada saat ini. “Survei terbaik menurutku adalah survei yang dilakukan tanpa sepengetahuan target yang disurvei (responden), karena hasilnya lebih organik dan murni,” katanya.
Kedepan, Sentigram akan lebih dikembangkan Mindtalk.com dalam mengukur brand sentiment atau opinion mining.
Uji Coba Capres
Sementara itu, dalam uji coba manfaat Sentigram bagi publik, Mindtalk.com melakukannya dengan mengukur sentimen brand image terhadap dua pasangan Capres-Cawapres 2014.
Melalui Sentigram dapat terbaca pola sentimen pengguna terhadap masing-masing pasangan. Sentigram mengolaborasikan sentimen pengguna internet pada 6 platform yaitu Facebook, Twittter, Mindtalk, Kompasiana, Kaskus dan detik forum. Untuk mengklasifikasi konten dari 6 platfrom tersebut, Sentigram menggunakan Support Vector Machine (SVM).
Untuk menentukan sebuah postingan bermuatan sentimen tertentu pada dua calon, Sentigram mengukur pada pendapat dari postingan itu.
“Jika pengguna memposting hal negatif maka dikategorikan ke sentimen negatif, sebaliknya jika pengguna memposting dukungan pada salah satu calon maka akan dikategorikan sebagai sentimen positif,” kata Danny.
Berdasarkan pantauan di Sentigram, masing-masing calon mendapatkan sentimen negatif dan sentimen positif. Sentigram mengukur sentimen dua pasangan itu secara real time berbasis postingan pada 6 platfrom tadi.
Danny menambahkan analisa Sentigram sudah mempertimbangkan adanya akun-akun robot atau BOT pada 6 platfrom tersebut. Dalam mengambil data, Sentigram telah memverifikasi akun tak jelas tersebut. Sehingga data yang diambil lebih valid, pengguna akun pada platfrom lebih jelas. Tim Sentigram telah mengetahui akun robot melalui pola dan aktivitas yang diposting pada platfrom. Pertama akun yang postingannya menduplikasi akun lain, jadwal posting, sampai pola perubahan sentimen akun.
“Akun yang duplikat, copy paste nggak kita ambil. Kita juga lihat polanya, kapan bikin akun, pola jadwal posting, sampai bagaimana awalnya mereka positif dan kemudian sering jadi negatif. Pokoknya yang BOT nggak kita ambil,” ungkapnya.
Per tanggal 6 Juli 2014, sebanyak 174774 data telah diagregate oleh Sentigram. Dari analisa total 6 platform yang ada, hasilnya elektabilitas pasangan Prabowo-Hatta sebesar 39,83 persen, Jokowi-JK sebanyak 44,37 persen, sedangkan pengguna platfrom yang menyatakan netral mencapai 15,79 persen. (GUH)














