Menurut perkiraan IDC, ada sekitar 80 juta bisnis di seluruh dunia yang beroperasi dengan karyawan kurang dari 10 orang. Banyak dari UKM ini mengadopsi mentalitas “security by obscurity”, percaya bahwa mereka masih terlalu kecil untuk menjadi sasaran penjahat siber dan tidak memiliki data yang diinginkan oleh penjahat siber.
Menurut Verizon’s 2013 Data Breach Investigations Report, yang meliputi data dari investigasi forensik di seluruh dunia, menemukan bahwa dari 621 pelanggaran data yang dianalisis, 193 pelanggaran – lebih dari 30% – terjadi di perusahaan-perusahaan dengan jumlah karyawan 100 orang atau kurang. Hal ini masuk akal dengan mengasumsikan bahwa UKM merupakan sebagian besar dari korban tersebut.
Pemilik bisnis harus memahami bahwa segera setelah mereka memulai proses pembayaran kartu kredit, penyimpanan informasi pelanggan, atau bahkan membuat rencana untuk produk baru, mereka memiliki informasi yang berharga bagi penjahat siber. Bahkan, beberapa penjahat siber mungkin lebih menyukai “sasaran empuk” ini yang dikenal memiliki perlindungan IT yang buruk.
Memang akibat yang diterima oleh setiap korban yang diserang tidak begitu besar, namun yang perlu menjadi perhatian dalam hal ini adalah hanya dengan sedikit usaha para penjahat siber berhasil menyerang UKM dalam jumlah yang cukup banyak dibanding sebuah perusahaan besar. Perbedaan utama yang bisa dilihat disini adalah perusahaan besar memiliki dana untuk pulih dari insiden keamanan IT ini, tetapi biaya hilangnya data pelanggan, waktu yang hilang secara signifikan dikarenakan offline, dan biaya tambahan terkait hal ini dapat berlipat ganda hingga mencapai ribuan dolar, tergantung pada jenis insiden, dan cukup untuk mendorong bisnis kecil bangkrut.
Temuan ini menunjukkan bahwa prioritas UKM cukup rendah untuk strategi IT, dan dengan ekstensi keamanan IT, bukan disebabkan oleh rendahnya kesadaran tentang isu-isu penting mengenai keamanan IT. Jadi apa penyebabnya? Kesimpulan yang masuk akal adalah bahwa kurangnya anggaran tetap menjadi hambatan terbesar yang mencegah UKM untuk pemakaian IT yang lebih maju dan langkah-langkah keamanan IT.
Oleh karena itu, Kaspersky Lab menyarankan UKM untuk berinvestasi dalam langkah-langkah keamanan yang akan memberikan manfaat paling langsung untuk ancaman yang mereka hadapi pada umumnya. Menurut UKM yang menjadi responden survei yang melaporkan kehilangan data bisnis dikarenakan serangan siber, 32% melaporkan “Malware” menjadi penyebab insiden yang paling serius, angka ini dua kali lipat dari yang dilaporkan oleh perusahaan besar (16%). Sumber lain yang signifikan dari hilangnya data UKM disebabkan oleh ” Software Vulnerabilities”, hal ini dilaporkan oleh UMKM sebesar 9%, angka yang menyamai 8% dari rata-rata global yang juga mengatakan faktor ini sebagai penyebab. Ini berarti kerentanan perangkat lunak adalah masalah keamanan yang mempengaruhi bisnis secara merata, terlepas dari ukuran usaha. (red)














