LPEM Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (UI) bersama Tokopedia melakukan riset bertajuk “Bertahan, Bangkit, dan Tumbuhnya UMKM di tengah Pandemi melalui Adopsi Digital”
Riatu Mariatul Qibthiyyah, Kepala LPEM FEB UI menyampaikan sejumlah temuan menarik dari riset tersebut, dalam konferensi pers virtual, Rabu, 24/03/2021.
Jumlah pelaku UMKM wanita bertambah di “e-commerce”
Pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang berasal dari kalangan wanita bertambah banyak di e-commerce di tengah berlangsungnya pandemi COVID-19 yang sudah berlangsung selama satu tahun terakhir di Indonesia. Terdapat 18,6 persen pelaku UMKM wanita yang baru memulai bisnis di masa pandemi COVID-19.
“Tokopedia memberikan kesempatan bagi masyarakat secara luas khususnya bagi perempuan untuk memulai bisnis mereka. Persentase perempuan memulai usaha 5,4 poin lebih tinggi dibanding dengan pelaku usaha laki-laki yang berjumlah 13,2 persen,” terang Kepala LPEM FEB UI, Riatu Mariatul Qibthiyyah.
Penjualan secara daring di luar Jawa meningkat
Penjualan produk secara daring di platform e-commerce, khususnya di Tokopedia, selama pandemi COVID-19 tercatat meningkat di tiga wilayah di luar pulau Jawa yaitu di NTB, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Selatan.
“Sebaran pengguna dan aktivitas online dari pengguna Tokopedia tidak hanya kuat di wilayah Pulau Jawa tapi juga di luar Jawa. Dari data yang kami peroleh, tiga provinsi dengan peningkatan nilai transaksi penjualan terbesar saat pandemi ada di luar Jawa.”
“Di NTB meningkat 144,6 persen, Sulawesi Tengah 73,4 persen, dan Sulawesi Selatan 73,3 persen,” ungkap Kepala LPEM FEB UI.
Riset itu juga memperlihatkan adanya peningkatan jumlah volume penjualan, setidaknya dirasakan oleh 7 dari 10 pedagang di Tokopedia selama pandemi COVID-19, tercatat volume penjualan tersebut meningkat hingga 133 persen.
Baca: Jelang Ramadan, Tokopedia Hadirkan Insiatif untuk UMKM
Jumlah penjualan produk tergolong kategori kesehatan dan hobi meningkat
Selain itu ditemukan fakta bahwa penjualan yang mengalami peningkatan di masa pandemi tergolong dalam kebutuhan primer yaitu untuk kategori kesehatan seperti suplemen hingga vitamin serta makanan dan minuman dengan masing- masing persentase sebesar 154,1 persen dan 106,1 persen.
Selain itu, berdasarkan data yang dimiliki Tokopedia, barang- barang yang termasuk dalam kategori hobi pun ikut meningkat khususnya di masa Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang mengharuskan masyarakat tetap beraktivitas di rumah saja.
Peningkatan jumlah pelaku usaha yang bergabung di Tokopedia
Hal yang meningkat lainnya, jumlah pelaku usaha yang bergabung di Tokopedia akibat COVID-19 tersebar di 3 kota besar, 2 di antaranya merupakan kota yang sebelum pandemi menggantungkan ekonomi pada sektor pariwisata.
“Untuk peningkatan jumlah pelaku usaha baru, itu tertinggi ada di Bali dengan 66,2 persen, disusul Yogyakarta 42,2 persen, dan DKI Jakarta 28,3 persen,” terang Riatu.
Ia menjelaskan peningkatan jumlah pelaku usaha di tiga daerah tersebut merupakan hal yang wajar karena jika dilihat dari dampak ekonomi akibat pandemi, ketiganya merupakan kota yang paling terdampak buruk akibat adanya COVID-19, bahkan pendapatan daerah di kuartal pertama untuk Bali dan Daerah Istimewa Yogyakarta sempat negatif.
Inklusi keuangan digital di e-commerce meningkat
Inklusi keuangan digital baik oleh pelaku usaha maupun konsumen meningkat selama pandemi COVID-19 lewat transaksi bisnis yang dilakukan melalui e-commerce.
“Kemudahan itu dilihat dari bagaimana metode pembayaran yang dipilih konsumen untuk melakukan pembayaran selama pandemi. Sebagian besar yaitu sebanyak 46 persen menggunakan e-wallet dan juga Virtual Account,” kata Riatu.
Dalam paparan riset yang dilakukan kepada pengguna platform Tokopedia itu didapatkan juga bahwa baik pengguna baru dan juga pengguna lama selama pandemi COVID-19 paling banyak mendaftarkan pembayaran dengan metode e-wallet dan juga mobile banking dalam aplikasinya.
Dengan urutan persentase untuk pengguna baru yang mendaftarkan e-wallet sebesar 44,3 persen sementara untuk pengguna lama sebesar 40,8 persen.
Sedangkan untuk urutan persentase pengguna baru yang mendaftarkan metode pembayaran lewat mobile ataupun internet banking mencapai 31,1 persen dan untuk pengguna lama sebesar 41,6 persen. “Dari hasil itu dapat dilihat bahwa platform belanja online memudahkan akses produk keuangan, khususnya keuangan digital,” kata Riatu.
Komitmen Tokopedia
Memperhatikan berbagai temuan positif dari riset itu, Tokopedia berkomitmen untuk mendukung terus para pelaku UMKM di Indonesia agar lebih cepat bertransformasi digital sejalan dengan program Pemerintah Indonesia dalam pemulihan ekonomi di masa pandemi.
Astri Wahyuni, Direktur Kebijakan Publik dan Hubungan Pemerintah Tokopedia menegaskan, “Tokopedia berkomitmen #SelaluAdaSelaluBisa untuk mempermudah masyarakat memenuhi kebutuhan harian hingga menciptakan peluang lewat pemanfaatan teknologi khususnya di tengah pandemi.”
Ada 5 pilar utama yang disiapkan Tokopedia sebagai langkah mendukung percepatan transformasi digital dan mempercepat pemulihan ekonomi di masa pandemi: memperkuat fondasi, lebih fokus pada kebutuhan konsumen, memperluas pemanfaatan data, menggunakan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence), dan menjalankan kerangka kerja yang optimal secara finansial.
“Indonesia, termasuk lebih dari 17 ribu pulau di dalamnya, akan terus jadi fokus utama dari Tokopedia. Oleh karena itu, kami berkomitmen untuk menjadi lebih relevan untuk Indonesia,” tutup Astri.
Baca: Transaksi Produk Fesyen Muslim Meningkat 2X Lipat di Tokopedia














