Survei dari MIT Technology Review Insights, bekerja sama dengan Palo Alto Networks, mengungkap berbagai tantangan rumit yang dihadapi perusahaan-perusahaan di Asia Pasifik dalam mengamankan jaringan dan sistem bagi pekerja jarak jauh di era setelah pandemi.
Di lansekap keamanan siber baru ini, melakukan inventarisir penuh akan aset-aset digital yang terhubung ke internet – dari laptop ke aplikasi cloud – dan mengubah kebijakan-kebijakan keamanan siber untuk lingkungan kerja jarak jauh modern saat ini bisa mengurangi resiko.
“Tapi perusahaan-perusahaan juga harus paham akan berbagai tren dan tantangan keamanan siber yang ada di negara mereka. Banyak tantangan dan tren yang cukup unik bagi perusahaan-perusahaan yang beroperasi di Asia Pasifik,” mengutip rilis dari Palo Alto yang diterima Redaksi IT Works, 13/09/2021.
Catatan-catatan dari laporan survei MIT tersebut menyoroti:
- Akan ada lebih banyak serangan: Lima puluh satu persen responden pernah mengalami serangan siber dari aset digital yang tidak mereka ketahui atau kelola, dan 16% mengatakan akan muncul serangan seperti itu. Tantangan-tantangan unik seperti kedewasaan siber yang bervariasi di wilayah ini dan ketidak-siapan untuk mengadopsi sistem kerja jarak jauh selama pandemi telah meningkatkan desakan untuk adanya strategi-strategi keamanan siber.
- Pengamanan aset cloud adalah prioritas: Empat puluh tiga persen responden melaporkan bahwa lebih dari separuh aset digital mereka berada di cloud. Didorong dengan peretas-peretas yang berdompet tebal dan terorganisir dengan baik dan sifat teknologi yang berevolusi dengan cepat memaksa perusahaan-perusahaan untuk mempertimbangkan berbagai cara dalam mengamankan lingkungan cloud dan memantau aset-aset digital.
- Eksekutif-eksekutif menaruh perhatian khusus pada keamanan siber: Perusahaan-perusahaan juga bisa mengurangi resiko dengan menambahkan keamanan siber ke dalam agenda para eksekutif level C. Saat ini, 68% responden mengatakan dewan direksi mereka akan meminta rencana pengelolaan serangan untuk keamanan siber tahun ini.
“Riset kami memperlihatkan 70% perusahaan melaporkan bahwa sebuah strategi pengelolaan cloud yang aman adalah penting dalam menghindari serangan-serangan keamanan siber. Dan 67% responden menyadari bahwa pemantauan aset berkelanjutan adalah dasar dari strategi tersebut,” kata Laurel Ruma, Editorial Director, MIT Technology Review Insights, Amerika Serikat.
Riset ini didasarkan pada sebuah survei multi-industri terhadap lebih dari 728 pengambil keputusan teknologi di banyak industri global, termasuk teknologi informasi, telekomunikasi, manufaktur, farmasi, layanan kesehatan, dan ritel. Survey ini melakukan wawancara mendalam dengan berbagai perusahaan negara dan swasta di Asia Pasifik (22%), Eropa (38%), Amerika Utara (24%), serta Timur Tengah dan Afrika (13%). Tiga laporan telah dipublikasikan: “IT Security Starts with Knowing Your Assets: Asia-Pacific,” “A Game-changer in Security Operations,” dan “IT Security Starts with Knowing Your Assets: Europe, the Middle East and Africa.”
MIT Technology Review Insights adalah divisi publikasi khusus dari MIT Technology Review, majalah teknologi yang paling lama di dunia, didukung oleh institusi teknologi paling terkemuka di dunia – menghasilkan acara-acara live dan riset dalam tantangan-tantangan teknologi dan bisnis terdepan saat ini.
Insights melakukan riset dan analisa kualitatif dan kuantitatif di Amerika Serikat dan negara-negara lain, dan mempublikasikan berbagai konten, termasuk artikel, laporan, infografis, video, dan podcast. Den lewat MIT Technology Review Global Insights Panel, Insightws memiliki akses tanpa tanding ke para eksekutif senior, inovator, dan entrepreneur di seluruh dunia untuk survey dan wawancara mendalam.
Baca: Mudahkan Pelanggan, Palo Alto Networks Hadirkan Solusi Zero Trust Network Security














