Penulis: Fauzi
Sejalan dengan visi yang diusung, yakni ‘memberikan pengalaman berbelanja online yang aman, nyaman, dan membebaskan’, Blibli.com begitu concern dalam hal Cyber Security.
Sebagai perusahaan yang bergerak di bisnis e-commerce, Blibli 100% merupakan perusahaan digital. Sehingga Blibli yang dalam bisnisnya memberikan pengalaman belanja online memiliki risiko yang berbeda dengan sebuah toko offline. Hal ini seperti dikatakan Rendra Perdana, Cyber Security Architect Blibli.com.
”Sesuai dengan napas dan pandangan kita terhadap information security, kita membawakan tema Cybersecurity as competitive advantage in e-commerce industry. Ini sebenarnya bukan hanya sekedar title, tapi memang kita ingin berbagi pengalaman bagaimana pengejawantahan secara nyata cyber security itu bukan cost center, tapi sebuah advantages yang punya nilai bisnis,” jelas Rendra, sesi penjurian Top Digital Awards 2021 yang digelar Majalah It Works secara virtual, (1/12/21).
Lebih lanjut dikatakan Rendra, Blibli (menyadari) e-commerce ini bukan sesuatu yang bisa berdiri dengan sendirinya, tetapi membutuhkan support dari partner-partner lain, misalnya dari third party logistic partner atau penyedia jasa, serta dari sisi payment ecosystem.
“Sehingga kita bisa membuat ini bukan hanya sebagai e-commerce, (melainkan) sebuah sistem digital yang membantu kehidupan kita sehari-hari yang sejalan dengan visi kita, yaitu aman, nyaman dan membebaskan,” ungkapnya.
IT Maturity Level Tertinggi
Sesuai dengan tema paparan yang diangkat, dalam presentasinya di hadapan dewan juri, Rendra mengungkap berbagai hal terkait upaya Blibli, khususnya dalam menangkal gangguan keamanan cyber.
“Seperti yang kita tahu, biasanya kalau perusahaan e-commerce itu dibangun dengan prinsip Agile. Semua interaksi berjalan cepat, tetapi setelah kami mencoba menjalankan hal ini ada beberapa fondasi yang cukup fundamental yang menurut kami kurang di-address, kurang diberikan perhatian secara serius di awal pembangunan sistem. Dimulai dari, misalnya, ketiadaan enterprise architecture, software architecture, dan lain-lain,” ungkap Rendra,
Sehingga, lanjut Rendra, apa yang telah dibuat lebih kepada, kalau boleh meminjam istilah dikenal sebagai ‘move fast, break things’. “Jadi, kita bikin dulu, kalau ada kerusakan kita perbaiki along the way, sepanjang jalan. Tapi setelah kami jalani lama-lama ini akan menjadi hal yang tambal sulam, sehingga menyulitkan kami untuk tumbuh,” papar Rendra.
Nah, seiring perjalanan dengan kompleksitas yang makin bertambah, dan integrasi ke third party semakin banyak, sehingga mulai tidak ter-manage. Selanjutnya, Blibli pun membuat Master Plan baru untuk tahun 2022 ke depan, yakni enterprise yang berdasarkan arsitektur.
“Karena saya di security, kami turunkan menjadi EISA (Enterprise Information Security Architecture) yang mendapatkan SABSA (Sherwood Applied Business Security Architecture), yang di dalamnya kami turunkan lagi menjadi beberapa hal yang bisa kami manage secara langsung dengan outcome yang sudah diekspektasikan oleh manajemen,” ungkap Rendra.
Bila yang disebut di atas merupakan contoh dari Master Plan besarnya, BliBli pun melakukan beberapa hal dan membelahnya menjadi Master Plan Kecil. Dalam hal ini dinamakan sebagai Blibli CSIRT (Computer Security Incident Response Team) Blueprint. ”Ada tiga layer utama, yaitu Visibility, Analysis, dan Mitigation. Secara sederhana, tujuan platform ini adalah memastikan resiliansi dari proses yang ada di dalam cyber. Resiliansi ini yang dimaksud adalah ketahanan terhadap gangguan, artinya adalah ketaatan aturan dari sisi properness dan proses(nya),” kata Rendra.
Dari sisi kebijakan sendiri, Blibli memiliki dua tim, yakni tim GRC (Governance Risk and Compliance) dan CRT (Cyber Resilience Team). Nah, Tim GRC inilah yang dikatakan Rendra sebagai pihak yang membuat standarnya, membantu menerbitkan policy dan prosedurnya, hingga mengatur proses yang akan dijalankan. “Ini mostly di-drive oleh standar, yaitu ISO 27001 dan EISS,” tandasnya.
Tidak ketinggalan dalam paparannya Rendra juga mengungkap soal IT Maturity Level perusahaan. Pada kesempatan ini, dikatakan bahwa IT Maturity Level Blibli telah di-assessment oleh BSSN (Badan Siber dan Sandi Negara).
“Dan tingkat kematangan kami adalah level III+ dari BSSN. Dan ini adalah nilai tertinggi dari IT Maturity seluruh industri yang BSSN ukur pada tahun 2020. Kami juga diberikan privilege oleh BSSN untuk menjadi CSIRT pertama dari swasta yang terdaftar secara resmi di BSSN. Sehingga kami memiliki privilege diundang di BSSN untuk berbagi kegiatan yang bersifat strategis dari sisi pembahasaan terhadap regulasi, policy, uji publik terhadap suatu RUU,” ungkap Rendra.
Solusi Bisnis Unggulan
Mengenai solusi unggulan yang telah dikembangkan, sesuai dengan tema yang diusung, tentunya Blibli lebih menyorot pada solusi yang berkaitan dengan security. Solusi pertama yang diungkap bernama Security Operation Center. Solusi bisnis yang dibangun sejak 2020 ini dikatakn lahir dari insiden terhadap kekhawatiran bahwa ancaman cyber akan terus-menerus mengganggu.
“Security Operations Center ini sendiri suatu pusat komando dan mitigasi serta awareness dari seluruh ancaman cyber yang terjadi di Blibli,” kata Rendra.
Beberapa fitur unggulannya antara lain.
- Dapat memproses data dalam jumlah besar (saat ini 1 TB+ data per hari)
- Dapat melakukan proses prioritisasi secara otomatis (automatic triaging)
- Dapat melakukan proses alert secara otomatis
- Dapat melakukan mitigasi secara otomatis (mengeliminir kebutuhan atas Security Analyst level 1)
“Dampak (bagi perusahaan) adalah kami memiliki jumlah insiden bersifat kritikal yang sangat minimal, per tahun mungkin satu atau dua yang bersifat high atau kritikal. Kami mampu mendeteksi gangguan cyber sebelum dia terjadi. Kita jugabisa memastikan bahwa program-program, misalnya program promosi dari Blibli berjalan lancara tanpa banyaknya aktivitas hacking dan fraud. Dan juga secara compliance membantu perusahaan meraih sertifikasi ISO27001:2013 dan PCI-DSS. Sehingga ini menjadi business advantage karena sekarang mulai banyak partner bisnis yang meminta compliance karena mereka melakukan due diligence terhadap kita. Misalnya partner yang memiliki nama besar itu mulai meminta proses due diligence kepada kit auntuk memastikan proses bisnisnya bisa berjalan dengan aman,” jelasnya.
Solusi bisnis kedua, terkait dengan ketahanan data, yakni File-Level Cryptography. Rendra menilai data KYC (Know Your Customer) merupakan data yang sangat rahasia, namun saat solusi ini belum ada, Blibli kesulitan untuk melakukan pengamanannya. ”Nah, kita developlah, kita studi secara Cryptography dan juga kita lahirkan solusi File-Level Cryptography.
“Sederhananya seperti ini, kalau ada orang mau buka warung kelontong, dia bisa daftar Blibli Mitra nanti ada proses KYC ada proses selfie KTP dan lain-lain. (Data KYC) Itu akan langsung dienkripsi sebelum kami simpan,” kata Rendra.
Di antara fitur unggulan dari solusi ini adalah, proses kriptografinya menggunakan cloud computing tanpa server sama sekali atau menggunakan mekanisme yang disebut serverless. Selain itu, dikatakan Rendra, solusi ini dapat menyimpan hasil file tak terbatas atau tidak bisa ukur karena menggunakan cloud-storage. Setiap file memilki kunci individual, sehingga kalau satu kunci tersebut bocor hanya akan berlaku ke satu file saja.
“Proses ini kami buat sedemikian rupa secara desain sehingga bisa direplikasi oleh siapa pun, perusahaan manapun juga dalam waktu yang singkat. Bahkan, solusi ini sudah kami taruh di majalah secara umum, sampai kode-kodenya kami kasih ke Majalah supaya bisa dipakai ramai-ramai (oleh) Cloud Industry. Karena sistem yang kami buat itu memang cukup resistan, memang didesain dalam skenario bahwa ‘Cloud Storage Anda pasti bocor’. Jadi, seandainya cloud storage Anda bocor, sistem ini memastikan bocor tersebut bukanlah bocor yang punya arti, karena datanya telah dienkrip,” papar Rendra.
Satu solusi lain yang dipaparkan adalah yang berkaitan dengan masa pandemi. Dalam hal ini Blibli mengungkap apa yang disebutnya sebagai BliBli Fundraising (Blibli Galang Dana). Inisiatif bisnis ini diluncurkan pada tahun 2021, dilatarbelakangi bahwa banyak sekali orang yang membutuhkan bantuan. ”Blibli sebagai perusahaan E-Commerce besar memiliki kewajiban sosial untuk memberikan impact yang positif, karena jujur saja Blibli.com portfolionya sudah portfolio high-end, market size kita besar sekali, rata-rata orang yang membeli di kita itu jujur saja barang-barang mahal. Jadi, kita lihat potensi besar untuk melakukan penggalangan dana dan kita bekerja sama dengan kitabisa.com,” kata Rendra.
Solusi ini menawarkan fitur unggulan berupa akses melalui aplikasi Blibli.com dan kemudahan penyaluran dana bantuan mellaui mekanisme pembayaran yang sudah tersedia di Blibli.com dengan keamanan yang terjamin.














