Penulis: Fauzi
Bicara mengenai penyedia layanan uang elektronik, nama LinkAja tentu menjadi salah satu yang ada di deretan atas. LinkAja yang berada di bawah naungan PT Fintek Karya Nusantara, merupakan perusahaan layanan keuangan digital yang utamanya bergerak di dompet digital dan uang elektronik. Link Aja dikembangkan dengan tujuan untuk mendorong inklusi keuangan dan inklusi ekonomi sehingga dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi nasional.
Harry Prasetyo Kurniawan, Head of Quality Engineering Group LinkAja, mengatakan layanan Link Aja diharapkan dapat menjangkau kota-kota di Tier 2 dan Tier 3, serta memiliki akses yang komprehensif terhadap berbagai layanan dan program BUMN maupun pemerintah serta bertitikberat pada tipe layanan esensial dan produktif.
Ada lima nilai yang disebut Harry menjadi landasan LinkAja dalam menjalankan aktivitas sehari-hari. Kelima nilai tersebut adalah Integrity, Customer Centric, Achieving Together, Opem Minded, dan Empowernment.
Raih Sejumlah Pencapaian
Beroperasi mulai tahun 2019, sejatinya dari sisi usia LinkAja masih relatif muda. Kendati demikian, sejumlah pencapaian telah berhasil diraih oleh perusahaan ini.
“Syukur Alhamdulillah di usianya yang ke-2 tahun ini, Link Aja telah memiliki lebih dari 80 juta pengguna, baik itu pengguna umum maupun pengguna layanan syariah. Kemudian Link Aja juga sudah mencapai angka 13 kali dari angka yang ada pada saat peluncuran di awal Maret 2019,” kata Harry dalam sesi Penjurian Top Digital Awards 2021 yang diadakan oleh Majalah It Works secara daring, (17/12/21).
Lebih lanjut dikatakan Harry, dengan fokus di wilayah Tier 2 dan Tier 3, layanan Link Aja telah menjangkau lebih 476 kota. Selain itu, LinkAja juga telah memiliki 1,3 juta titik pelayanan cash-in dan cash-out (setor dan tarik tunai) di seluruh Indonesia.
Sejurus dengan capaian yang telah diraih, LinkAja juga telah mengalami peningkatan signifikan dari sisi asset perusahaan. ”Di 2021 ini, asset perusahaan telah tumbuh mencapai 120 persen, lebih dari target. Dan kami juga berhasil melakukan efisiensi biaya. Sedangkan biaya IT sendiri, kita telah mengalami peningkatan yang sangat signifikan dari 23 persen di tahun 2020, menjadi 56 persen di 2021,” ungkap Harry.
Selain anggaran IT yang telah ditingkatkan secara signifikan, LinkAja juga menyadaripentingnya sumber daya manusia (SDM) perusahaan. Sebagai perusahaan startup teknologi, SDM IT juga menjadi prioritas utama bagi LinkAja. ”Dan rasio SDM IT terhadap keseluruhan SDM perusahaan mencapai 40 persen di 2021 ini, yang sebenarnya kalau kita bandingkan di tahun 2020 mengalami peningkatan 30 persen. Ini merupakan achievement yang luar biasa,” kata Harry.
Dukung UMKM
Sejalan dengan tujuan yang dicanangkan mendorong inklusi keuangan dan inklusi ekonomi, sejak diluncurkan dan terutama di masa pandemi, LinkAja terus memberikan dukungan terhadap UMKM dan masyarakat dalam hal inklusi keuangan. Harry mengungkap beberapa inisiatif yang dilakukan LinkAja, seperti melakukan kerja sama dengan pemerintah daerah dan pusat dalam melakukan sosialisasi manfaat transaksi digital maupun digitalisasi pasar tradisional. Selain itu, LinkAja juga bekerja sama dengan UMKM. Begitupun dengan Bank Indonesia dalam edukasi QRIS.
“Link Aja juga memberikan dukungan pada beberapa program pemerintah, dalam hal ini digitalisasi penyaluran bantuan di antaranya adalah distribusi insentif ke lebih dari satu juta penerima pra-kerja, penyaluran pinjaman mikro pada pelaku UKM perempuan, kemudian penyaluran subsidi pulsa pada ribuan mahasiswa Universitas Mataram NTB yang bersinergi dengan BRI, serta penyaluran stimulus kepada UMKM,” sambung Harry.
Masih dalam rangka mendorong inklusi keuangan dan inklusi ekonomi, LinkAja juga melakukan kolaborasi dengan Kemkominfo dan Kemenkop UKM pada program pasar online yang memudahkan untuk berbelanja di pasar tradisional pada saat pandemi melalui metode pembayaran nontunai. Dalam hal ini LinkAja telah telah menjangkau 760 pasar tradisional di seluruh provinsi di Indonesia serta 40 mitra pasar online dari 20 kota di seluruh Indonesia.
Dikembangkan Oleh 100% Talenta dari Indonesia
Sebagai perusahaan yang bergerak di layanan keuangan digital, LinkAja tentu memiliki sejumlah solusi bisnis unggulan. Jadi, seperti diungkap Harry, selain program pemerintah, LinkAja juga menyediakan berbagai solusi bisnis untuk mitra bisnis dan merchant dalam melakukan transaksi pembayaran dan pelaporannya, yakni melalui portal berbasis website. Selain itu, LinkAja juga menyediakan apa yang disebutnya sebagai open API (Application Programming Interface) disbursement yang membuat solusi bisnis ini dapat diintegrasikan di platform partner yang sudah ada.
Tidak berhenti sampai di situ, masih soal solusi unggulan yang dimiliki LinkAja, perusahaan ini memiliki aplikasi Android yang dinamakan Mitra LinkAja (MILA). “MILA (dihadirkan) untuk para pedagang dalam melakukan transaksi sehari-hari yang dimulai dari pedagang eceran untuk dapat melakukan pembayaran ke agen maupun distributor. Nah, aplikasi ini juga digunakan bagi kami untuk berkomunikasi dengan para mitra tersebut,” jelas Harry.
Dalam paparannya di hadapan para juri, secara terperinci Harry juga mengungkap soal bagaimana LinkAja dapat menyediakan keuangan digital dengan teknologi terkini untuk kebutuhan sehari-hari. LinkAja dikatakan telah mengadopsi konsep work from any where di semua lini yang terdiri dari tim produk, tim developer, tim security, dan tim operation dalam melakukan pengembangan, pengujian kualitas, dan keamanan, release atau monitoring dari layanan yang dikembangkan.
“Kemudian layanan LinkAja ini kita implementasikan dengan model hybrid infrastructure yang menggabungkan antara feature on premise dan penggunaan teknologi cloud sehingga memungkinkan proses scaling berdasarkan form transaksi yang berjalan dalam waktu singkat sehingga kita bisa menjaga response time atau respon ke pengguna layanan. Sementara ia juga dapat menjaga biaya yang muncul secara rasional. Nah, dari sisi deployment dari source code yang tadi disimpan di cloud pun sudah mengadopsi model platform otomasi yang secara berkelanjutan yang hasilnya adalah layanan keuangan dengan konsep microservices yang ditunjang dengan implementasi teknologi PaaS (Platform as a service),” papar Harry.
Selanjutnya, Harry mengatakan bahwa LinkAja juga mengimplementasikan teknologi Big Data dan AI yang terintegrasi dengan layanan keuangan. “Sehingga beragam data dengan volume yang sangat besar dapat disimpan dan kemudian dianalisa, tidak hanya untuk menghasilkan reporting ataupun sebagai decision support buat manajemen, tetapi juga beberapa use case lainnya,” ujarnya.
Adapun untuk mendeteksi dan mencegah adanya penyalahgunaan layanan, LinkAja juga mengimplementasikan Sistem Anti Fraud. “Nah, dari semua hal di atas, layanan kami ini terlindungi oleh security parameter. Dan layanan kami juga telah tersertifikasi keamanan dengan standar nasional maupun internasional,” ungkap Harry.
Untuk diketahui, LinkAja telah memiliki sertifikat keamanan informasi, baik berstandar nasional maupun internasional, antara lain Indek Keamanan yang didapatkan dari BSSN dan ISO 27000. ”Dan dengan adanya sertifikasi keamanan informasi tersebut, kami dapat memberikan layanan digital yang aman dan terpercaya,” tukas Harry.
Dalam kesempatan yang sama, Harry mengungkap hal yang sangat membanggakan bagi perusahaan. Disebutkan bahwa semua layanan digital yang sudah dipaparkan tadi dikembangkan dan dioperasikan oleh 100 persen atau sepenuhnya dari talenta-talenta dari Indonesia.
“Selain itu, dari data yang ada LinkAja juga memberikan progres yang sangat baik dalam membawakan misi nasional dalam menghadirkan beragam layanan keuangan digital untuk meningkatkan inklusi keuangan,” tutupnya.














