Tahun 2024 ini, Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) kembali menjadi kandidat meraih penghargaan TOP Digital Awards. LPDP telah memanfaatkan teknologi informatika (TI) terkini, seperti big data, dalam pengelolaan dana pendidikan atau beasiswa yang berada di bawah pengawasan Kementerian Keuangan.
TOP Digital Awards adalah kegiatan Pembelajaran Bersama sekaligus Pemberian Penghargaan tahunan terbesar tingkat nasional yang diberikan kepada Perusahaan/Instansi yang dinilai berhasil dalam pemanfaatan Teknologi-Informatika (TI) untuk meningkatkan kinerja, daya saing, dan layanan kepada pelanggan atau masyarakat.
Ajang tahunan ini diselenggarakan Majalah It Works sejak tahun 2016, didukung dan bekerja sama dengan sejumlah asosiasi, lembaga konsultan, serta pakar, di bidang TI terkemuka di Tanah Air.
Direktur Keuangan dan Umum LPDP, Emmanuel Agust Hartono dan timnya telah mengikuti Penjurian TOP Digital Awards 2024, secara online, Rabu, 20/11/2024. Bertindak selaku dewan juri, yaitu Subandi (Praktisi IT/Univ. Budi Luhur), Ashari Abidin dan Febrizal Effendi, keduanya dari Aspluki.
Selaras dengan tema TOP Digital Awards 2024 yaitu “Business Solutions, Generative AI, and Cyber Security for Excellence Business and Services”, Agust pun memaparkan insiatif pemanfaatan TI yang telah dijalankan LPDP dalam beberapa tahun terakhir.
LPDP memanfaatkan teknologi big data untuk melakukan data analytics yaitu memprediksi risiko keterlambatan lulus penerima beasiswa LPDP. “Data analitik untuk memprediksi risiko keterlambatan lulus penerima beasiswa menggunakan machine learning catboost classifier,” kata Agust.
Melalui sistem ini, memudahkan bagian monitoring dan evaluasi beasiswa untuk melakukan pengelompokan para penerima beasiswa berdasarkan risiko keterlambatan kelulusannya ke dalam tiga klasifikasi, yakni Risiko Tinggi, Risiko Sedang dan Risiko Rendah.
Sistem dilengkapi dashboard risiko keterlambatan yang menghimpun berbagai data penerima beasiswa, mulai dari data nilai hingga latar belakang mereka secara detail dan terperinci, sehinga dapat diprediksi peluang keterlambatan kelulusannya. Dashboard juga memuat informasi jumlah penerima beasiswa, jumlah negara tujuan dan jumlah kampus penerima.
“Dampaknya, untuk memonitor dan memprediksi penerima beasiswa yang risiko keterlambatan waktu kelulusannya tinggi. Sehingga bisa dilakukan upaya mitigasi dan preventif untuk meningkatkan ketepatan waktu kelulusan mereka,” Agus menjelaskan.
Melalui pemanfaatan teknologi big data, Agust mengungkapkan bahwa LPDP dapat meningkatkan persentase ketepatan waktu kelulusan para penerima beasiswa. Dari sebelumnya di tahun 2023 tercatat 69,94% menjadi 79,02% per Oktober 2024.
“Harapannya, capaian positif ini terus meningkat dengan kita memanfaatkan teknologi dan melakukan pembimbingan tentunya,” tuturnya.
Inovasi Digital eRISPRO
Pemanfaatan teknologi big data oleh LPDP juga terlihat dalam penyaluran pendanaan riset dan budaya. Inovasi teknologi aplikasi layanan yang dikembangkan mandiri oleh LPDP yaitu eRISPRO.
“Inovasi digital eRISPRO adalah aplikasi administrasi pendanaan riset dan budaya yang bersifat end-to-end. Ini mencakup proses seleksi, perjanjian kontrak, pencairan dana, monitoring dan evaluasi, hingga evaluasi dampak,” ujar Agust.
“Apabila mengakses dan menggunakan eRISPRO, seluruh output dan outcome proyek yang didanai akan tampil seluruhnya pada dashboard portofolio. Terdapat pula data analytics dan analisis Service Level Agreement (SLA) terkait waktu pencairan dana, analisis kesalahan administrasi termasuk prediksi kelulusan proposal riset.”
Menurut Agust, platform eRISPRO dirancang untuk memudahkan pengguna, seperti para periset dan pelaku budaya, karena dilengkapi berbagai modul pedoman seperti berbagai buku panduan penggunaan, FAQ, video tutorial, dan lainnya. “Hingga saat ini, eRISPRO mengelola lebih dari 870 ribu baris data,” ungkap Agust.
Sebagai aplikasi administrasi riset, eRISPRO menawarkan kelengkapan fitur dan kemudahan penggunaan. Itu sebagaimana aplikasi serupa di level Internasional, seperti Research Fish di Inggris, Grants Gov dari Amerika Serikat, FBI Digital Transformation, dan banyak lagi.
Keamanan Siber
Dalam kesempatan yang sama, Kingkin Rahayu Ningsih, Kepala Divisi Pengelolaan SDM dan TI LPDP menjelaskan bahwa terkait Keamanan Siber, LPDP telah menerapkan sistem keamanan berstandar ISO 27001:2022
“Itu sebagaimana tertuang dalam Keputusan Direktur Utama LPDP (KEP-88/LPDP/2024) tentang Pedoman Keamanan Informasi, Keamanan Siber, dan Pelindungan Data Pribadi di Lingkungan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan,”’ ia menjelaskan kepada dewan juri.
Selain itu, lanjut Kingkin, sistem keamanan data LPDP juga dikelola oleh Kemenkeu yang telah memiliki tata kelola keamanan tingkat empat (Tier 4).
Kepala Subdivisi Teknologi Informasi LPDP, Esa Pawenang Panjiwa Putra menambahkan bahwa tata kelola IT instansinya juga telah menerapkan WAF (web application firewall) hingga tersedianya DRC (data recovery center).
Editor: Teguh IS.














