ItWorks.id- Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) berupaya mengembangkan berbagai teknologi tepat guna (TTG) di sektor pertanian dan pangan, yang diarahkan untuk mendukung program Makan Bergizi Gratis (MBG). Inovasi teknologi terutama untuk memperpanjang masa simpan bahan pangan dan meningkatkan nilai tambah produk pertanian.
“Salah satu inovasi yang kita kembangkan yaitu teknologi drum dryer, suatu alat pengering berbentuk silinder yang bisa digunakan untuk memproduksi tepung telur instan sebagai sumber protein hewani, dan tepung ubi jalar ungu yang mengandung komponen bioaktif antosianin sebagai antioksidan,” kata Kepala Pusat Riset Teknologi Tepat Guna (PRTTG) BRIN, Achmat Sarifudin, (05/08) pada Rapat Kerja dan Silaturahmi Sivitas PRTTG dengan Organisasi Riset Pertanian dan Pangan (ORPP), di Kawasan Sains dan Teknologi B.J. Habibie, Serpong, dirilis Humas BRIN melalui portal web ((08/08/2025).
Disebutkan, peralatan drum dryer telah diimplementasikan pada Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) di Desa Sembawa, Kecamatan Jalaksana, Kabupaten Kuningan Jawa Barat, yang memproduksi tepung ubi jalar ungu sebagai bahan baku aneka produk pangan. Dikatakan, dari dukungan ini, sudah ada permintaan ekspor tepung ubi jalar ungu ke luar negeri sebanyak dua ton per bulan, yang belum bisa terpenuhi oleh UMKM tersebut.
Selain drum dryer, teknologi yang telah dikembangkan untuk mendukung program MBG antara lain spray dryer. Peralatan ini digunakan untuk menghasilkan susu bubuk instan.Ada juga teknologi retort, yaitu alat untuk mensterilkan makanan dalam kemasan kaleng. “Makanan yang dikemas dalam retort pouch, akan memiliki daya simpan relatif lebih panjang. Diharapkan nantinya dapat diimplementasikan untuk program MBG, khususnya di daerah-daerah terpencil, pada saat distribusi MBG disalurkan ke sekolah,” terangnya.
Ditambahkan, bahwa perkembangan TTG di Indonesia tidak hanya berfokus pada teknologi canggih, tetapi juga dapat diimplementasikan pada masyarakat, kelompok petani, dan UMKM. Sehingga, berdampak pada peningkatan perekonomian di daerah, dengan adanya indikator sebelum dan setelah TTG diterapkan pada komunitas tersebut.
Hal ini sejalan dengan Program Asta Cita yang ke-5, yaitu Hilirisasi dan Industrialisasi untuk Nilai Tambah Ekonomi, dan Asta Cita ke-6, yaitu Pembangunan dari Desa untuk Pemerataan Ekonomi.














