Red Hat baru-baru ini mengumumkan inovasi besar pada Red Hat Ansible Automation Platform yang dirancang untuk mengoperasionalkan agen-agen AI dalam skala enterprise. Dengan menghadirkan lapisan eksekusi tepercaya bagi operasional IT di era agentic ini, Red Hat menyediakan penghubung kelas industri yang menghubungkan kecerdasan AI dengan tindakan IT yang nyata.
Otomatisasi merupakan fondasi yang krusial bagi pengadopsian AI. Saat organisasi mulai beralih dari tahap eksperimen AI menuju tahap produksi, mereka membutuhkan cara yang andal untuk menghubungkan output model AI dengan infrastruktur yang sudah ada. Red Hat Ansible Automation Platform 2.7 dan automation orchestrator terbaru (pratinjau teknologi) dirancang khusus untuk menjembatani koneksi tersebut, dengan menyediakan tata kelola berbasis kebijakan dan tingkat presisi mumpuni yang dibutuhkan untuk mengubah AI menjadi penggerak tindakan operasional yang nyata.
“Seiring AI mengubah skala dan kecepatan ITOps secara pesat, Red Hat menghadirkan fondasi otomatisasi dengan tata kelola yang jelas, yang mengubah kecerdasan menjadi tindakan yang tepercaya,” ujar Sathish Balakrishnan, Vice President and General Manager, Ansible, Red Hat, dalam keterangan resmi yang diterima redaksi ItWorks, hari ini (1/7/2026).
“Ansible Automation Platform berfungsi sebagai control plane untuk otomatisasi multi-langkah yang berbasis peristiwa (Event-driven), dan berbasis AI. Hal ini memungkinkan pergeseran fokus dari otomatisasi deterministik ke orkestrasi berbasis hasil (outcome-based) yang komprehensif. Dengan mengorkestrasi secara cerdas kapan harus menggunakan penalaran berbasis AI dan kapan harus menggunakan otomatisasi deterministik yang telah teruji, kami membantu pelanggan memaksimalkan efisiensi dan inovasi, sembari tetap mengelola biaya token AI dan komputasi secara efektif,” sambungnya.
Apa yang Baru pada Ansible Automation Platform?
Evolusi Ansible Automation Platform memungkinkan berbagai tim mengorkestrasi alur kerja AI yang kompleks dengan mengintegrasikan pengawasan manusia dan insight cerdas guna mewujudkan hasil yang lebih andal dalam skala besar. Berbagai penyempurnaan terbaru ini membuka potensi AI untuk operasional IT generasi berikutnya:
- Menerapkan AI yang sadar konteks (context-aware AI): Menghasilkan respons AI yang lebih kontekstual melalui automation intelligent assistant dengan cara memasukkan informasi spesifik organisasi melalui fungsi bring-your-own-knowledge.
- Membangun jembatan AI universal: Menyederhanakan otomatisasi berbasis AI menggunakan server Model Context Protocol (MCP) untuk Ansible Automation Platform, supaya dapat menghubungkan tools AI dan otomatisasi secara mulus tanpa memerlukan pengintegrasian tersendiri.
- Mengakselerasi AIOps dalam skala besar: Menggunakan panduan solusi terarah (opinionated solution guides) untuk mitra ekosistem seperti IBM Instana, ServiceNow, dan Splunk guna menyederhanakan implementasi AIOps.
- Menyederhanakan pemanfaatan otomatisasi: Meningkatkan skala dan pemanfaatan otomatisasi secara lebih efisien di berbagai tim melalui alur kerja yang disederhanakan pada portal otomatisasi untuk membuat dan mengemas konten.
- Mendorong pengambilan keputusan berbasis data: Dapat melihat langsung metrik kinerja dan ROI di dashboard otomatisasi untuk mengukur dampak otomatisasi di enterprise.
- Menghadirkan orkestrasi multi-mode: Menghubungkan otomatisasi deterministik, berbasis peristiwa (event-driven), dan berbasis AI melalui orkestrator otomatisasi terbaru. Kanvas alur kerja tunggal (single workflow canvas) ini memanfaatkan data bersama dan logika alur kerja tingkat lanjut untuk memperluas kemampuan platform di era agentic.
Mengapa Ini Penting
Berbagai inovasi ini menandai evolusi signifikan bagi Ansible Automation Platform, sekaligus memosisikannya sebagai platform otomatisasi definitif bagi organisasi yang mengoperasionalkan AI dalam operasional IT. Organisasi tidak perlu memulai segalanya dari awal untuk mengadopsi AI. Sebaliknya, mereka dapat mendayagunakan pustaka playbook tepercaya yang sudah ada sebagai fondasi dengan tata kelola yang jelas, sehingga agen-agen AI dapat menyelidiki dan merekomendasikan tindakan, yang kemudian dieksekusi melalui alur kerja deterministik yang telah disetujui oleh manusia.
Tim infrastruktur kini berada di garda terdepan dalam peralihan menuju lingkungan agentic yang berdensitas tinggi. Menurut IDC, “pada tahun 2027, 85% organisasi Global 500 akan menerapkan AI agentic untuk operasional cloud IT otonom guna memantau, menganalisis, dan memulihkan masalah secara terus menerus dalam skala besar, dengan intervensi manusia yang minimal.” Dalam lanskap baru ini, nilai dari agen-agen AI sepenuhnya bergantung pada sistem yang mengeksekusi tujuan mereka. Ansible Automation Platform menawarkan kecepatan dan efisiensi yang dibutuhkan operasi IT berbasis AI, sekaligus menghadirkan tata kelola dan presisi yang dituntut oleh sistem produksi. Hal ini memberdayakan berbagai tim untuk mengadopsi inovasi AI sesuai dengan kendali mereka sendiri, sembari berupaya menjaga stabilitas lingkungan produksi.
Dalam komentarnya, Jevin Jensen, Research Vice President, IDC, mengatakan “Tantangan bagi para pemimpin IT bukan sekadar menghasilkan insight dari AI, melainkan bagaimana memindahkan proyek-proyek percontohan tersebut menjadi beban kerja yang siap produksi, secara aman dan hemat biaya.”
“Sebuah orkestrator otomatisasi bertindak sebagai jembatan yang krusial, dengan menyediakan lapisan eksekusi tepercaya yang memungkinkan agen-agen AI berinteraksi dengan infrastruktur yang kompleks melalui alur kerja tunggal yang terkelola dengan baik. Kemampuan ini sangat penting bagi organisasi yang ingin melangkah lebih jauh dari sekadar eksperimen AI menuju operasional otonom yang sesungguhnya,” tandasnya.














