ItWorks.id- Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menegaskan komitmennya memperkuat implementasi keuangan berkelanjutan dan pengembangan bursa karbon sebagai bagian dari upaya mendukung transisi menuju ekonomi rendah karbon sekaligus memperkuat daya saing Indonesia dalam arsitektur keuangan global.
Komitmen tersebut disampaikan Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi, saat menghadiri rangkaian London Climate Action Week 2026 yang berlangsung pada 22–25 Juni 2026 di London, Inggris.
Dalam berbagai forum internasional, Friderica menegaskan bahwa keberhasilan transisi menuju ekonomi rendah karbon membutuhkan ekosistem pembiayaan yang kredibel, transparan, dan mampu menjaga kepercayaan investor. “OJK akan terus memastikan agenda keuangan berkelanjutan dan pembiayaan transisi tidak berhenti sebagai kerangka kebijakan, tetapi benar-benar menjadi mekanisme pasar yang kredibel,” ujarnya dilansir dalam siaran pers, baru-baru ini.
Menurut Friderica, OJK terus memperkuat arsitektur keuangan berkelanjutan melalui berbagai kebijakan, seperti penyempurnaan Taksonomi Keuangan Berkelanjutan Indonesia (TKBI), penguatan pelaporan keberlanjutan, penerapan Climate Risk Management and Scenario Analysis (CRMS), hingga penyusunan revisi regulasi penerapan keuangan berkelanjutan yang ditargetkan terbit tahun ini.
Selain itu, OJK juga memperkenalkan platform blended finance Satu Karsa kepada investor global untuk mendukung proyek karbon berbasis alam, termasuk reforestasi, agroforestri, pemulihan lahan kritis, serta pengembangan kredit karbon berkualitas tinggi.
Dalam forum yang membahas pasar karbon, OJK menegaskan pentingnya menjaga integritas perdagangan karbon melalui tata kelola yang transparan, kualitas data yang andal, serta sistem verifikasi yang kredibel. Sejak diluncurkan pada 2023, Bursa Karbon Indonesia telah membukukan transaksi sekitar dua juta ton CO₂ ekuivalen dengan nilai lebih dari Rp93 miliar, mencerminkan meningkatnya minat pelaku pasar terhadap mekanisme perdagangan karbon nasional.
Di sela-sela kegiatan, OJK juga menggelar sejumlah pertemuan bilateral dengan berbagai lembaga internasional, termasuk London School of Economics and Political Science melalui Centre for Economic Transition Expertise (CETEx) serta The Network for Greening the Financial System. Pembahasan difokuskan pada penguatan kerja sama di bidang pembiayaan transisi, pengelolaan risiko iklim, pengawasan prudensial, dan pengembangan standar keuangan berkelanjutan.
Melalui kolaborasi dengan regulator, pemerintah, pelaku usaha, akademisi, dan mitra internasional, OJK berharap sektor jasa keuangan dapat menjadi katalis dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional yang lebih hijau, tangguh, inklusif, dan berkelanjutan.














