ItWorks,id- Ancaman abrasi pantai yang terus menggerus wilayah pesisir tidak hanya menghilangkan daratan, tetapi juga mengancam keberlangsungan tambak budidaya yang menjadi sumber penghidupan masyarakat. Menjawab tantangan tersebut, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Universitas Pancasakti Tegal mengembangkan solusi terpadu yang menggabungkan rehabilitasi ekosistem mangrove dengan teknologi digital berbasis Internet of Things (IoT) untuk mendukung budidaya perikanan yang lebih berkelanjutan.
Peneliti Pusat Riset Teknologi Hidrodinamika (PRTH) BRIN, Alin Fithor, menjelaskan bahwa pendekatan tersebut diterapkan pada kawasan pesisir Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, yang mengalami kerusakan akibat abrasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rehabilitasi mangrove yang dipadukan dengan sistem pemantauan kualitas air berbasis IoT mampu meningkatkan ketahanan tambak sekaligus menjaga produktivitas budidaya.
“Keberadaan mangrove dapat memperbaiki kualitas habitat sehingga produktivitas perikanan berlangsung lebih berkelanjutan. Namun, menjaga mangrove saja belum cukup karena tambak di wilayah pesisir masih menghadapi perubahan kualitas air akibat pasang surut, intrusi air laut, dan perubahan cuaca yang sulit diprediksi,” ujar Alin belum lama ini yang dirilis Humas BRIN melalui portal web pada (16/07/2026).
Guna mengatasi tantangan tersebut, kata Alin, tim peneliti mengembangkan sistem pemantauan kualitas air yang memanfaatkan sensor berbasis IoT, teknologi LoRa, dan Arduino Weather Station. Sensor tersebut mengukur parameter penting seperti suhu dan tingkat keasaman (pH) air, kemudian mengirimkan data secara real time kepada pengguna sehingga petambak dapat segera mengambil langkah penanganan apabila terjadi perubahan kualitas air.
Berdasarkan hasil pengujian, sistem mampu memantau kualitas air secara akurat dengan kisaran pH 7,96-8,31 dan suhu 29,25-29,87°C, yang masih berada dalam kondisi ideal untuk pertumbuhan udang vaname.
Pemanfaatan teknologi IoT tidak hanya meningkatkan efisiensi budidaya, tetapi juga berfungsi sebagai sistem peringatan dini terhadap perubahan lingkungan di kawasan pesisir yang rentan abrasi. Pemantauan yang dilakukan secara berkelanjutan membantu mengurangi risiko kematian udang akibat perubahan kualitas air sekaligus meningkatkan produktivitas tambak.
Ia menambahkan bahwa penanganan abrasi tidak cukup hanya mengandalkan pembangunan infrastruktur fisik. Pemulihan ekosistem mangrove perlu berjalan beriringan dengan penerapan teknologi yang mendukung kemampuan masyarakat beradaptasi terhadap perubahan lingkungan.”Pendekatan ini menunjukkan bagaimana riset mampu menghadirkan solusi yang saling melengkapi. Rehabilitasi mangrove menjaga keseimbangan ekosistem pesisir, sementara teknologi IoT memastikan aktivitas budidaya tetap produktif melalui pengelolaan kualitas air yang lebih presisi,” jelasnya.
Temuan tersebut membuka peluang penerapan model serupa di berbagai wilayah pesisir Indonesia yang menghadapi tantangan abrasi dan dampak perubahan iklim. Melalui sinergi inovasi ekologis dan teknologi digital, BRIN bersama mitra menunjukkan bahwa kawasan pesisir yang terdampak abrasi dapat dipulihkan sekaligus memberikan manfaat ekonomi yang berkelanjutan bagi masyarakat pesisir.














