Jakarta, Itech – Saat ini masyarakat Indonesia terutama di kota besar mulai menjadikan layanan ride-sharing sebagai moda transportasi alternatif selain kendaraan pribadinya. Hampir di setiap smartphone orang Indonesia yang tinggal di kota besar pasti memiliki aplikasi ride-sharing seperti Go-Jek, Grab, atau Uber.
Konsultan data dan digital analytics ilmuOne menyampaikan laporan “Go-Jek vs Grab vs Uber: Who’s Winning”. Laporan itu mengupas demografi pengguna Go-Jek, Grab, dan Uber.
Pada Desember 2017, comScore mencatat jumlah pengguna Go-Jek di Indonesia sebanyak 9,7 juta orang, Grab memiliki 9,6 juta pengguna dan Uber hanya mengantongi 2 juta pengguna, turun 300 ribu dari jumlah pengguna sebelumnya hanya 2,3 juta pengguna.
Dari survei, Go-Jek dan Grab berbagi pengunjung sebesar 4,2 juta orang atau setengah dari total pengguna sering menggunakan Go-Jek maupun Uber. Bahkan, banyak pengguna Uber yang menggunakan Go-Jek (49,1 persen) dan Grab (65,7 persen).
Jika dilihat dari usia pengguna, rata-rata Go-Jek dikunjungi pengguna berusia 25-34 tahun dengan persentase 37,8 persen dan rata-rata mereka menggunakan Go-Jek selama 69,5 menit per pengguna.
Sebaliknya, Grab lebih banyak dikunjungi oleh pengguna usia 35 tahun ke atas dan rata-rata mereka menggunakan Grab selama 64,4 menit per pengguna. Uber paling banyak dikunjungi oleh pengguna yang berusia 25-34 dan Uber paling lama dipakai oleh pengguna berusia 35 ke atas dengan durasi 83,8 menit perpengguna.
Jumlah pengguna perempuan Go-Jek mencapai 58,9 persen dari total pengunjungnya, Grab sebanyak 53 persen, dan Uber 62,3 persen dari total pengunjung. Total pengguna Go-Jek, Grab, dan Uber di perangkat Android mencapai 15,7 juta orang.














