Jakarta, Itech – Amerika Serikat (AS) tidak akan kecolongan kedua kalinya setelah hacker Rusia berhasil mengobrak abrik server partai Demokrat untuk mencuri data dalam pemilihan presiden AS beberapa tahun lalu.
Badan Keamanan AS (NSA) pun memprediksi serangan siber Rusia itu akan terus menyerang AS di masa depan, mengingat kemungkinan perang siber lebih besar terjadi daripada perang fisik atau secara militer.
Karena itu, NSA membentuk satuan tugas khusus (satgas) atau task force untuk menghalau setiap serangan siber yang mengancam AS terutama serangan yang berasal dari Rusia.
Paul Nakasone (Kepala Komando Siber NSA) mengatakan pembentukan satgas itu sejalan dengan misi Badan Intelejen AS (CIA) sejak pemilihan presiden Amerika 2016. “Kami akan mencurahkan energi ekstra untuk mencegah terulangnya peretasan yang meluas dari dua tahun yang lalu,” katanya seperti dikutip Enagdget.
Nakasone mengatakan AS tidak akan tinggal diam dan hanya menyaksikan musuh-musuh digital seperti Rusia dan Tiongkok beraksi menebarkan ancaman karena sangat berisiko membiarkan mereka membentuk medan perang virtual.
“Mereka melemahkan pemilu, memicu ketegangan sosial dan mencuri info sensitif. Anda membutuhkan orang-orang yang dapat mengatasi ini secara terus-menerus,” kata Nakasone.
Nakasone merupakan tokoh penting dalam militer AS karena ia merupakan jenderal bintang empat Angkatan Darat yang membawahi NSA sekaligus Komando Siber yang baru-baru ini menjadi populer.
Nakasone cenderung fokus pada ancaman dari negara tertentu dan melihat gambaran keamanan online yang lebih besar.














