Jakarta, Itech – Di balik kecanggihan dan kemajuan pertumbuhan Internet di Indonesia, ada banyak penjahat siber dan predator online yang bertebaran dan senantiasa mengintai para mangsanya di dunia maya.
Predator online kerap menyamar sebagai seseorang yang ramah dan berusaha menjadi teman para pengguna Internet yang mengincar anak-anak dan remaja. Biasanya para predator online beroperasi di chat room atau situs jejaring sosial macam Facebook dan MySpace untuk meraih kepercayaan dari calon korbannya.
Predator online pun kerap menyamar sosok yang tampan dan keren, layaknya impian para remaja wanita. Banyak calon korban yang termakan buju rayu si predator online untuk memuaskan hasrat seksual pelaku. Mulai dari diminta untuk mengirimkan foto atau berpose tak senonoh via webcam hingga diajak untuk kopi darat untuk melakukan hubungan intim.
Misal, predator online yang sudah berumur 30 tahun tetapi ia mengaku sebagai remaja ABG berumur 17 tahun di chat room. Bahkan, predator online tak segan-segan menyamar dan memasang foto remaja 17 tahun yang tampan.
Berikut beberapa tips supaya orang tua dalam menjaga buah hatinya dari predator online:
1. Bicaralah dengan anak Anda tentang sepak terjang, ancaman dan modus predator online serta cara menghadapi rayuan dari predator online. Tegaskan kepada anak untuk tidak takut memblokir pengguna Internet yang membuat mereka tidak nyaman dan sopan.
2. Pastikan forum interaksi anak-anak di dunia maya sudah termasuk dalam pengawasan orang tua dan meminta anak-anak untuk segera melaporkan sesuatu yang tidak menyenangkan saat mereka online.
3. Hati-hati dengan informasi di account Facebook dan MySpace. Pastikan bahwa profil atau halaman situs jejaring sosial anak Anda dalam kontrol sistem keamanan tinggi.
4. Jangan pernah men-download gambar-gambar dari sumber yang tidak dikenal, karena berpotensi mengandung materi-materi berbau seksual.
5. Orang tua bisa menggunakan layanan penyaring e-mail.
6. Jangan pernah menampilkan informasi personal (termasuk usia dan gender) atau informasi tentang keluarga mereka kepada siapa saja di dunia maya.
7. Hentikan kontak e-mail dan pesan instan jika sudah menjurus pada pertanyaan personal atau berkonotasi seksual.
8. Tempel aturan online yang disepakati keluarga di dekat komputer sehingga anak bisa melihat dan membacanya setiap saat mereka online.














