Jakarta, Itech- Amadeus, penyedia solusi-solusi teknologi canggih bagi industri pejalanan global, mengungkap hasil riset mengenai tren dan keinginan para travelers (wisatawan) kaum millennial. Mereka makin smart dan banyak gunakan Teknologi Informasi (TI) untuk mendukung aktivitas wisata yang tak bisa diabaikan oleh para pelaku industri wisata.
Journey of Me Insights: What Asia Pacific Millennial Travelers Want, yang terbaru dari seri laporan Journey of Me yang pertama kali diluncurkan Amadeus di Agustus 2017, tahun ini mengungkap apa saja tren dan keinginan orang-orang berumur 18-35 tahun di Asia Pasifik dalam hal perjalanan wisata. Dilakukan lewat kolaborasi dengan YouGov di 14 negara Asia Pasifik, riset ini dilakukan terhadap 6.870 responden, 45% di antaranya dari millennial ketika data dikumpulkan.
“Generasi millennial sungguh merupakan generasi yang sangat menarik. Mereka bertumbuh dengan internet dan teknologi merupakan hal yang sangat biasa bagi mereka. Mereka memiliki keterbukaan terhadap pengalaman-pengalaman baru dan ingin mendobrak status quo.
Mereka menginginkan pengalaman berbeda ketika melakukan perjalanan, karenanya industri harus memberikan pelayanan yang berbeda. Penyedia perjalanan butuh mengadopsi teknologi baru, strategi baru, dan, terutama, cara berpikir baru jika ingin menangkap pikiran dan pangsa pasar millennial. Dengan mengerti apa yang mendorong millennial Asia Pasifik dan apa yang mereka hargai ketika melakukan perjalanan, dunia usaha akan lebih siap memenuhi kebutuhan generasi ini,” ujar Andy Yeow, General Manager, Amadeus Indonesia, dalam rilisnya (2/8), di Jakarta.
Disebutkan, saat ini millennial mewakili lebih dari 45% populasi Asia Pasifik, dan dengan lebih dari 60 % millennial dunia akan pegang peran yang makin dominan, sehingga kelompok ini tidak bisa diabaikan. Berbeda dari generasi-generasi yang ada sebelumnya, millennial kian banyak merangkul teknologi untuk pengalaman dan cara perjalanan baru. Sebanyak 42% millennial mengatakan mereka biasanya menggunakan aplikasi ride-sharing ketika melakukan perjalanan, dan 35% sering menggunakan layanan sharing economy untuk akomodasi.
Millennial di India khususnya sudah lebih banyak menganut sharing economy dibandingkan di negara-negara Asia Pasifik lainnya, dengan 75% menggunakan aplikasi ride-sharing dan 55% menggunakan aplikasi home-sharing. Sebaliknya, wisatawan millennial di Jepang merupakan yang paling sedikit menggunakan layanan-layanan tersebut, dengan lebih dari 90% mengatakan mereka tidak pernah atau jarang menggunakannya.
Menargetkan keinginan millennial untuk pengalaman-pengalaman baru merupakan peluang emas untuk penyedia perjalanan. Bahkan, riset ini menemukan bahwa setelah rekomendasi untuk membantu menghemat biaya (42%), millennial di Indonesia paling tertarik dengan rekomendasi yang bisa membuat perjalanan mereka lebih nyaman (35%), diikuti oleh rekomendasi yang dapat memberikan pengalaman baru bagi mereka (30%).
Mereka juga terbuka bagi penyedia perjalanan untuk mengirimkan rekomendasi-rekomendasi tersebut atau informasi lewat platform-platform alternatif. Ketika 31% millennial Asia Pasifik memilih menerima informasi lewat email, hanya 19% di Indonesia yang memilihnya. Sebaliknya, mayoritas millennial Indonesia memilih dihubungi lewat media sosial (34%), lebih tinggi secara signifikan dibandingkan rata-rata Asia Pasifik (23%). (Red-AC)














