Jakarta, ItWorks- Kaspersky Lab mendeteksi tahun lalu (2018) menjadi tahun yang menantang bagi dunia siber, termasuk di Indonesia di mana sepanjang periode Oktober-Desember 2018, berhasil mendeteksi 29.865.064 insiden kejahatan siber di komputer para pengguna Kaspersky Security Network (KSN) di Indonesia. Secara keseluruhan, 53,7% pengguna di Indonesia diserang oleh ancaman lokal, dan ini menempatkan negara Indonesia di peringkat ke-62 kerentanan serangan di seluruh dunia.
“Kalau kita lihat dari data ini, sebenarnya ini juga mencerminkan bahwa kesadaran akan pentingnya proteksi terhadap kejahatan siber di Indonesia sudah makin membaik. Sebelumnya posisi Indonesia itu selalu berada di posisi bawah, artinya tergolong sangat rawan dari ketahanan serangan penjahat siber karena kesadaran yang juga masih rendah,” ungkap Dony Koesmandarin, Territory Channel Manager untuk Indonesia di Kaspersky Lab Asia Pasifik dalam acara media gathering (7/2), di Jakarta.
Disebutkan adanya komitmen dari pemerintah untuk memaksimalkan sistem keamanan siber bagi masyarakat, mulai dari perubahan kebijakan hingga perlindungan infrastruktur menjadi indikasi positif. Dengan adanya komitmen memasuki era Industri 4.0, kian menjadi pemicu yang akan mendorong Indonesia untuk beradaptasi dengan kemajuan teknologi yang semakin dinamis.
Namun, di sisi lain landsekap infrastruktur digital, termasuk untuk perangkat mobile yang makin banyak penggunanya, juga diikuti dengan ancaman keamanan yang mengintai. Berdarkan ulasan ancaman Kaspersky Lab untuk kuartal terakhir tahun 2018 mengungkapkan bahwa di Indonesia 28% pengguna computer terkena serangan berbasis web, dan lebih dari setengahnya (53,7%) menjadi sasaran ancaman lokal, seperti perangkat USB yang terinfeksi. Hal ini menjadikan Indonesia negara dengan risiko paling tinggi ke 34 di dunia dalam hal ancaman kejahatan siber.
“Dengan meningkatnya tren transformasi digital dan penggunaaa internet termasuk adopsi IoT dan penggunaan perangkat mobile seperti smartphone yang makin tinggi, tingkat ancamanny kecahatan cyber di 2019 ini makin tinggi,” ujarnya.
Ancaman Online
Serangan melalui browser adalah metode paling utama untuk menyebarkan program berbahaya ke pengguna yang tidak menaruh curiga. Hal ini juga tercermin dari periode Oktober-Desember 2018, di mana produk Kaspersky Lab mendeteksi 10.943.947 ancaman cyber-borne Internet yang berbeda pada setiap computer pengguna KSN di Indonesia (yaitu sebanyak 28%). Fakta ini akhirnya menempatkan Indonesia di peringkat ke-35 di seluruh dunia dalam hal bahaya yang timbul dari penjelajahan web
Sedangkan metode yang paling sering digunakan oleh pelaku kejahatan siber untuk menembus sistem, di antaranya :
1. Memanfaatkan kerentanan di browser dan plugin (unduhan drive-by). Dalam insidenseperti ini, pelaku kejahatan siber memanfaatkan bug dalam perangkat lunak browser atau plugin popular untuk menginfeksi pengguna yang mengunjungi situs web yang disusupi. Infeksi terjadi tanpa intervensi dari pengguna dan tanpa sepengetahuan mereka. Banyak yang menggunakan pendekatan ini untuk menargetkan serangan pada korban. Dalam beberapa kasus mereka juga menggunakan malware ‘tanpa file’, yang sulit dideteksi dan dihapus.
2. Rekayasa sosial.
Metode distribusi lain yang banyak digunakan untuk menularkan serangan melalui web adalah rekayasa sosial. Serangan-serangan ini membutuhkan partisipasi dari pengguna, dengan target yang dikelabui untuk mengklik tautan dan mengunduh file berbahaya ke computer mereka.
Serangan siber bisa datang darimana saja setiap saat melalui jaringan internet di web, termasuk dari local. Selain melalui system ini, Worms dan dokumen bervirus juga bisa menjadi penyebab sebagian besar insiden berbasis komputer, dengan infeksi sering terjadi melalui drive USB yang dapat dilepas, CD dan DVD, serta metode “offline” lainnya.
“Dengan semakin banyaknya start-up dan banyaknya inovasi digital dalam perekonomian Indonesia, semua orang mulai dari pemerintah hingga bisnis dan konsumen perorangan wajib menyadari dan beradaptasi dengan kemungkinan ancaman di dunia siber. Saya berharap, pada tahun 2019, orang Indonesia akan menjadi lebih baik dalam mengamankan diri mulai dari identitas, privasi, dan uang mereka secara online,” ujarnya. (AC)














