Jakarta, IT Works- Tuntutan transformasi digital bagi pelaku usaha menjadi keniscayaan yang tak bisa dihindari, tak terkecuali bagi pelaku usaha jasa transportasi dan logistik. Terlebih menghadapi era industri 4.0 yang sarat dengan penggunaan teknologi informasi, digitalisasi, internet of Things (IoT), mesin otomatis, artificial intelligence (AI)dan berbagai penggunaan teknologi terkait lainnya.
Karena itu, para pelaku usaha logistik dan jasa yang terkait, harus bisa cepat menyesuaikan diri agar tak terdisrupsi (tergerus) oleh tren perubahan yang kian cepat dari era digital ini. Dalam upaya memperkuat daya saing, pemanfaatan teknologi informasi secara lebih luas perlu terus didorong dalam sistem layanan logistik nasional, agar makin efisien dan berdaya saing tinggi. Dalam hal ini sinergi dan integrasi di antara pelaku usaha yang terkait dengan mata rantai sistem logistic, seperti pelabuhan, angkutan truck, shipping line (pelayaran), perlu lebih diperkuat melalui sistem layanan berbasis teknologi digital.
Setidaknya ini salah satu benang merah yang bisa ditarik dari diskusi bertema “Peluang dan Tantangan Digitalisasi Logistik” yang disampaikan sejumlah pembicara yang diadakan Forum Wartawan Maritim (Forwami) yang berlangsung, (5/3) di Hotel Swiss-Bel Inn Kemayoran, Jakarta.

Diskusi yang membahas mengenai pentingnya digitalisasi logistik dalam upaya meningkatkan daya saing, efektivitas dan efisiensi biaya dia era persaingan global ini, menghadirkan unsur pelaku usaha logistik, pelayaran, dan juga regulator (pemerintah). Di antaranya Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Pelayaran Nasional (INSA), Carmelita Hartoto, Ketua Umum DPP Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI), Yukki Nugrahawan Hanafi, Ketua Umum DPP ISAA (Indonesia Shipping Agencies Association) Juswandi, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (Aptrindo) Gemilang Tarigan, Kepala Otoritas Pelabuhan Tanjung Priok, Capt Hermanta, serta Kepala Sub Direktorat Sistem Informasi dan Sarana Prasarana Angkutan Laut, Ditjen Perhubungan Laut, Sukirno Dwi Susilo.
Dalam sambutannya, Direktur Jenderal Perhubungan Laut yang diwakili Kepala Sub Direktorat Sistem Informasi dan Sarana Prasarana Angkutan Laut, Sukirno Dwi Susilo mengatakan, peningkatan teknologi informasi menjadi salah satu arah kebijakan Kementerian Perhubungan (Kemenhub), teritama Direktorat Jenderal Perhubungan Laut (Hubla) tahun 2020. Dalam hal ini pihaknya akan terus mendorong upaya modernisasi layanan pelabuhan berbasis teknologi informasi, sebagai bagian dari strategi untuk meningkatkan daya saing logistik nasional .
Menurutnya, berbagai upaya yang dilakukan selama ini untuk meningkatkan daya saing logistic nasoinal, terus menunjukkan peningkatan. Berdasarkan Logistics Performance Index (LPI) tahun 2018, indeks kinerja logistik Indonesia menempati peringkat ke-46 atau naik dari peringkat sebelumnya tahun 2017 yang berada di posisi ke ke-63.”Untuk mencapai indeks kinerja yang baik, Pemerintah terus bekerja keras untuk mewujudkan sistem logistik yang efektif, transparan dan efisien melalui berbagai upaya. Mulai dari pembenahan sistem birokrasi, peningkatan kapasitas SDM di pelabuhan serta pemanfaatan Teknologi Informasi yang terintegrasi melalui Inaportnet,” ujarnya.
Inaportnet merupakan portal elektronis yang memfasilitasi pertukaran data dan informasi layanan kepelabuhanan antara instansi pemerintah terkait, badan usaha pelabuhan, dan pelaku industri logistik, seperti shipping lines, freight forwarder, container freight station, custom brokerage (PPJK), importir dan eksportir, depo kontainer, warehouse, dan inland transportation (truk, kereta api, tongkang).
Ditambahkan, salah satu bentuk nyata dari digitalisasi pelabuhan ialah melalui penerapan sistem Inaportnet versi 2.0 dan Delivery Order Online di pelabuhan. Saat ini Kementerian Perhubungan telah mengembangkan sistem Inaportnet di 16 pelabuhan dan ke depan sistem inaportnet juga akan diterapkan secara bertahap di pelabuhan-pelabuhan lain.“ Pada tahun 2019 ini, kami tengah mempersiapkan penerapan inaportnet pada 16 pelabuhan lain, yang terdiri dari dua pelabuhan kelas I, sebelas pelabuhan kelas II, dua pelabuhan kelas III dan satu pelabuhan kelas IV,” jelasnya.
Diharapkan dengan diperluasnya sistem Inaportnet dapat menurunkan biaya logistik di pelabuhan, meningkatkan kelancaran arus barang di pelabuhan, meningkatkan transparansi pelayanan, mempercepat waktu pelayanan sehingga pelayanan menjadi lebih murah dan mudah. “Saat ini kami juga tengah melakukan sinergi pertukaran informasi dengan Kementerian atau Lembaga terkait dengan mengintegrasikan semua sistem berbasis IT yang dimiliki oleh masing-masing sektor ke dalam satu aplikasi yang terintegrasi dengan semua sistem tersebut,” ujarnya. (AC)














