Perlombaan menjadi “aplikasi super” sedang berlangsung di Asia Tenggara karena e-commerce berbasis seluler membuat terobosan di kawasan ini, kata para ahli.
“Ini adalah perlombaan untuk menjadi aplikasi super di ASEAN,” kata Varun Mittal, dari lembaga konsultasi EY, pemimpin pasar global Fintech, dalam diskusi panel di Credit Suisse Asian Investment Conference di Hong Kong pada hari Selasa (26/3). Dia merujuk pada ASEAN, sebuah kelompok politik dan ekonomi regional.
Sebuah aplikasi super memungkinkan pengguna untuk mengakses beberapa layanan dari satu aplikasi seluler, seperti memungkinkan mereka melakukan transaksi keuangan, dan memesan makanan atau naik kendaraan.
Baca: Jutaann turis Cina memacu pertumbuhan mobile payment di luat negeri
“Semua orang menjadikan payment sebagai langkah pertama untuk masuk ke jasa keuangan lainnya,” kata Mittal, menambahkan bahwa “menghasilkan uang dari pembayaran saja bukanlah bisnis yang layak.”
Tapi untuk menjadi sukses, penyedia jasa payment harus fokus pada membangun kepercayaan dan menunjukkan bahwa apa yang mereka tawarkan dapat meningkatkan mata pencaharian melalui menghubungkan orang-orang yang terpinggirkan dengan ekonomi yang lebih luas, menurut diskusi panel itu.
Ekonomi internet Asia Tenggara nilainya diperkirakan akan melebihi US$ 240 miliar pada tahun 2025, menurut sebuah penelitian yang dirilis pada bulan November oleh Google dan Temasek Holdings Singapura. Laporan itu mengatakan bahwa ketika internet seluler menjadi lebih terjangkau, itu akan mendorong pertumbuhan di sektor-sektor seperti ride-hailing dan e-commerce.
Baca: Perusahaan mobile payment ‘berjuang’ menurunkan penggunaan uang tunai di Asia Tenggara
Ekonomi internet kawasan Asia Tenggara diperkirakan mencapai sekitar US$ 72 miliar pada akhir tahun lalu, naik 37 persen dari tahun sebelumnya, yang diukur dengan gross merchandise value – yang merupakan metrik industri utama yang mengukur total nilai dolar dari barang dagangan yang dijual secara online, ungkap studi ini.
Perusahaan harus menunjukkan bahwa tujuan dari data yang mereka kumpulkan bukan untuk “mengambil informasi,” Mittal menekankan. “Lebih dari itu, kami berusaha untuk mendukung Anda, kami ingin membantu Anda menjadi bagian dari perekonomian ini, mari kita bekerja sama untuk membantu Anda sukses.”
Sektor ride-hailing, yang termasuk pemesanan transportasi di internet dan pengiriman online, telah meroket di kawasan ini, dipimpin oleh perusahaan termasuk Go-Jek Indonesia dan Grab Singapura.
Pekan lalu, unit Financial Grab mengatakan akan meluncurkan beberapa layanan keuangan di seluruh wilayah Asia Tenggara. Layanan itu termasuk sistem checkout online yang memungkinkan penjual menerima layanan pembayaran digital Grab yaitu GrabPay.
Baca: Prediksi e-commerce Indonesia di Tahun 2019
Tetapi menurut konsultan manajemen McKinsey and Company, 99 persen transaksi berdasarkan volume di Indonesia – yang merupakan ekonomi terbesar di Asia Tenggara – masih dilakukan secara tunai.
Anthony Thomas, presiden dan CEO Mynt, e-payment dan fintech yang berbasis di Filipina dari Globe Telecom, Ant Financial dan Ayala, mengatakan aplikasi super tersebut harus dapat membantu orang-orang menjalani kehidupan sehari-hari dengan lebih lancar. Seperti sekarang, teknologi kini dapat membantu orang yang tidak memiliki akses dasar ke hal-hal yang dianggap biasa di tempat lain, seperti akses kredit.
“Masalah di Filipina benar-benar masalah akses ke layanan keuangan formal karena dua dari tiga orang Filipina tidak memiliki akses ke rekening bank,” katanya di konferensi Credit Suisse. “Dan mungkin sembilan dari 10 tidak memiliki akses ke kredit formal.”
Sumber: cnbc.com














