Enterprise Resource Planning (ERP) sudah banyak dikenal karena manfaatnya meningkatkan efisiensi perusahaan dari berbagai bidang bisnis. Tak terkecuali bisnis konstruksi. Dengan banyaknya pekerjaan yang harus dilakukan secara bersamaan, bisnis konstruksi membutuhkan suatu sistem yang terintegrasi penuh untuk mempermudah perusahaan dalam menjalankan operasional.
Seperti yang dilakukan PT Total Bangun Persada, salah satu perusahaan konstruksi tertua yang telah berdiri sejak tahun 1970. Dalam beberapa tahun terakhir, pengembangan sistem ERP untuk mengotomasi proses bisnis telah menjadi fokus manajemen perusahaan.
“Visi utama implementasi teknologi informasi serta sistem ERP ini adalah mampu menjadikan PT Total Bangun Persada sebagai mitra bisnis yang strategis melalui teknologi informasi dan menyokong kebutuhan bisnis perusahaan. Jadi penerapan IT bukan hanya sekedar support tapi menjadi strategi perusahaan dalam operasi bisnis sehari-hari,” kata IT Head Department PT Total Bangun Persada Ernest Wijaya di sesi Presentasi dan Wawancara dengan Dewan Juri TOP DIGITAL Awards 2019 di Jakarta, Kamis 17 Oktober 2019.
Menurutnya, penerapan ERP yang mengedepankan integrasi antara fungsi dan real time transaction di seluruh lini bisnis perusahaan akan membuat seluruh program yang selama ini telah berjalan baik di PT Total Bangun Persada menjadi semakin meningkat. Disamping itu, dengan ERP, perusahaan akan lebih mudah melakukan perencanaan maupun pemantauan proses yang berjalan secara end-to-end.
“Dengan penerapan ERP kita ingin mewujudkan sistem informasi bisnis konstruksi yang terintegrasi. Harapan besarnya supaya bisa membantu meningkatkan integrasi pada seluruh sistem operasi bisnis, mulai dari proses procurement, material management, keuangan dan akuntansi, operasional proyek, dan juga sumber daya manusianya,” ujar Ernest.
Ernest mengungkapkan pengerjaan proyek pengembangan ERP di Total Bangun Persada dimulai sejak awal tahun 2017 meliputi 15 modul besar dan 200 sub modul.
“Produk dari proyek pengembangan sistem ERP ini kita sebut sebagai Total CIS singkatan dari Construction Integrated System atau Bisnis Konstruksi yang Terintegrasi. Total CIS kita bangun dengan tiga pilar yaitu Product Development yaitu bagaimana TI bisa membuat produk bisnisnya, lalu Knowledge Management yaitu bagaimana TI bisa meningkatkan kualitas SDM dan terakhir Change Management atau bagaimana TI bisa merubah pola kerja menjadi lebih cepat dan efisien,” jelas Ernest.
Ia menambahkan implementasi Total CIS dalam bisnis perusahaan memiliki 7 fungsi utama yakni; pertama, sebagai alat untuk perencanaan atau tools untuk melakukan planing mulai dari project schedule, budgeting, staff & equipment planning, hiradc, hingga quality plan.
“Karena integrasi diharapkan segala sesuatu menjadi lebih cepat dan terencana,” papar Ernest.
Kedua, dengan Total CIS diharapkan permintaan (demand) lebih cepat dan terencana. Permintaan-permintaan mulai dari material request, fund request, budget transfer, material out, material transfer, staff request dan equipment request bisa menjadi lebih cepat terpenuhi.
Ketiga, mengakomodir dinamika dan perubahan proyek seperti work order, site instruction, variation order, budget transfer, dan catch-up schedule.
Keempat, membantu mengambil keputusan lebih cepat dan tepat (early plan reminder, notifications, project dashboard & report).
Kelima, manajemen bisa melihat data secara real time, memonitor sejauh mana progress perkembangan proyek dan real time notification.
Keenam, menjadikan mekanisme approval atau persetujuan secara online via sistem mulai dari budget approvals, staff & equipment approvals, material request approvals, schedule approvals, hingga drawing approvals.
Ketujuh, sebagai alat inspeksi dan monitoring secara mobile mulai dari daily progress, work instruction, work in progress, hse inspection dan qhse non-conformance.
Penulis: Abi Abdul Jabar














