Jakarta, ItWorks- Implementasi dan pemanfaatan teknologi informasi komunikasi (TIK) di PT Bio Farma (Persero) sudah selangkah lebih maju, tak hanya di sistem manajemen dan proses bisnis, namun sudah terintegrasi di manufacturing atau area produksi. Hal ini sejalan dengan roadmap pengembangan TIK dalam memasuki era revolusi industri keempat (Industri 4.0) yang juga tengah menjadi fokus Bio Farma saat ini.
Dunia usaha dan industri, saat ini tengah berupaya memasuki era baru, revolusi industri keempat (era Industri 4.0). Tak terkecuali bagi pelaku usaha bidang farmasi, di mana hal ini menuntut mereka harus sigap melakukan inovasi dengan mengadopsi teknologi informasi dan digitalisasi dalam proses manufacturing. Beberapa teknologi yang bakal mendominasi seperti, artificial intelligence (AI), internet (Internet of Things /IoT), machine learning, sistem otomatisasi, robotic dan lainnya yang diintegrasikan software aplikasi digital.
Bio Farma sebagai BUMN produsen Vaksin dan Antisera, juga tak mau ketinggalan unuk mengejar era industri 4.0 melalui inovasi transformasi digital. Sesuai IT Masterplan kebijakan dan pengembangan solusi TI dalam jangka pendek maupun panjang, Bio Farma yang telah bertransformasi menjadi Lifescience, juga sudah melangkah ke sana melalui transformasi digital. Penggunaan teknologi Informasi di Bio Farma, kini tak hanya di sistem manajemen dan business process sebagai enabler, namun peran TI sudah meningkat di area produksi. Terutama untuk mendukunga proses produksi vaksin dan antisera yang menjadi core business-nya.
Hal ini terungkap dalam sesi Presentasi dan Wawancara PT Bio Farma di ajang penjurian “Top Digital Awards 2019” yang diselenggarakan oleh Majalah ItWorks, bekerjasama dengan lembaga riset independent dan sejumlah Asosiasi TI & Telco yang berlangsung (28/10), di Gedung WTC I, Jend Sudirman Jakarta. Presentasi dan wawancara penjurian disampaikan oleh Kadiv TI PT Bio Farma (Persero), Ema Asmarawati. Saat presentasi bertajuk “Kebijakan dan Solusi Teknologi Bio farma 2018-2019″, dia juga didampingi tim dari divisi TI, di antaranya Rahmat Hariyanto sebagai Kabag Pengembangan Sistem TI, dan Amin B Kanda, selaku Kabag Infrastruktur.
“Dalam rangka memasuki era Industri 4.0, PT Bio Farma juga sudah melakukan transformasi secara menyeluruh di semua lini melalui implementasi tenologi informasi dan digitalisasi, baik disi sistem menajemen, bisnis proses, maupun produksi. Peran IT di area produksi sudah diiimplementasikan sejak Juli 2018 dan ini menjadi salah kebanggaan tersendiri, selain bisa meningkatkan kinerja juga untuk memenuhi kualifikasi dan standar internasional. Ini sangat penting mengingat produk Vaksin Bio Farma tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan nasional dalam negeri, namun juga banyak di ekspor ke berbagai negara,” ujar Ema Asmarawati di depan tim dewan juri yang dimoderatori Toddy Siburian, konsultan TI dari Forti BUMN.
Dikataan, dalam hal implementasi TI, PT Bio Farma (Persero) juga telah memiliki kebijakan tata kelola TI yang dibuat sejak tahun 2006 yang saat ini sedang dan terus disempurnakan, terutama untuk integrasi dengan sistem mutu produk. Selain itu tahun 2008 juga diperkuat dengan penyusunan IT Master Plan yang lebih terarah.
Kerangka penyusunan tata kelola TI di antaranya mengacu gabungan COBIT, ITIL, ISO 27001, GAMP, CPOB, WHO TRS 937 & 996, Peraturan Menteri BUMN No- 03/MBU/02/2018. Antara lain menyangkut: GAMP (Good Automated Manufacturing Practices): petunjuk pengelolaan ataupun validasi sistem komputerisasi yang diakui sebagai good practice untuk produsen dan pengguna di industri farmasi. CPOB (Cara Pembuatan Obat yang Baik) Aneks 7. WHO -TRS (Technical Report Series) dari badan kesehatan dunia terkait Computer System Validation dan Data Manajemen.
Dalam upaya akselerasi implementasi dan inovasi sistem TI, juga dikeluarkan kebijakan/keputusan Direksi sebagai acuan pengembangannya. Di antaranya melalui surat penetapan sasaran TI oleh Direksi pada bulan Oktober 2018. Terutama untuk mendukung pencapaian dari 17 Goal Goal Business yang terdapat dalam Dokumen COBIT 4.1.
Beberapa sasaran yang ingin dicapai, di antaranya dalam perspektif keuangan, memberikan ROI untuk investasi bisnis yang didukung TI.
Meningkatkan tata kelola dan transparansi level korporasi. Dalam perspektif pelanggan, di antaranya menawarkan produk dan layanan yang kompetitif, menciptakan ketangkasan (agility) dalam menanggapi perubahan kebutuhan bisnis, serta mencapai optimalisasi biaya penyampaian layanan. Selain itu, dalam perspektif internal terutama meningkatkan sistem manajemen, serta meningkatkan kinerja perusahaan dalam mengelola fungsi business processing (proses bisnis).
Beberapa solusi TI lain yang dinilai cukup membanggakan. Di antaranaya e- CRF (Case Report Form), IoT untuk pengamanan ruang penyimpanan bibit vaksin, Product Quality Control Analysis menggunakan bioinformatics, serta Instalasi Infrastruktur Jaringan Data Redundansi Fasilitas Data Center dan Disaster Recovery Center (DRC).
Berbagai inovasi solusi TI sejauh ini juga bisa meningkatkan kinerja perusahaan. Misalnya implementasi aplikasi e- CRF dapat mengefisiensikan dan memudahkan perancangan, pembuatan, penggunaan, pengawasan dan penilaian data yang tercatat dalam Case Report Form. Mempercepat proses pengolahan data uji klinis. Data tersimpan di server sehingga mempercepat Time to Market Product. Mampu meningkatkan layanan customer/mitra. Outcome dari Solusi IT ini juga meningkatkan pengolahan data uji klinis secara elekronik.
Sedangkan penerapan Internet of Things (IoT) untuk pengamanan ruang penyimpanan bibit vaksin, juga mampu mendukung proses bisnis dan asspek security. Dengan aplikasi ini, data yang tersimpan bisa dilakukan data log untuk aktifitas ruangan di basis data cloud yang berada di luar kendali perusahaan. Hal ini penting, mengingat aset yang tersimpan dalam ruangan adalah aset penting yang terbatas. Sehingga diperlukan sebuah pengamanan yang lebih komprehensif yang dikendalikan secara private di lingkungan internal Bio Farma. Dengan aplikasi ini, pemenuhan regulasi dan keamanan produk menjadi lebih terjamin. Layanan customer/ mitra, bisa memenuhi regulasi WHO dan BPOM. Bagi divisi atau direktorat perusahaan, hal ini juga memudahkan monitoring di Direktorat Produksi.
Dampak lain atau outcome dari berbagai solusi IT yang dikembangkan Bio Farma juga mampu meningkatkan performa bisnis secara keseluruhan. Hal ini semakin memperkuat perjalanan panjang Bio Farma hingga kini telah bertransformasi menjadi produsen vaksin dan antisera kelas dunia. Transformasi ini mencerminkan semangat dan optimisme untuk menuju industri vaksin berkelas global yang selalu adaptif dalam mengantisipasi trend bisnis dan teknologi di bidang vaksin dan antisera. (AC)














