Puncak Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (Hakteknas) ke-19 tahun 2014 akan digelar pada 10 Agustus 2014. Pemilihan tanggal tersebut karena dimulainya Indonesia menerbangkan pesawat yang dibuat oleh putera Indonesia sendiri, yaitu penerbangan perdana N-250 Gatotkaca di Bandung.
Dalam peringatan Hakteknas bertema inovasi pangan, energi, dan air untuk daya saing bangsa atau yang disebut Food, Energy and Water, tersebut akan ditampilkan pameran hasil produk-produk teknologi hasil pengembangan anak bangsa, kemudian ada seminar, musrenbangnas iptek, dan penggalangan kerjasama internasional. Keseluruhan hasilnya akan dilaporkan kepada Presiden SBY dalam acara puncak 10 Agustus 2014 nanti.
Tujuan dari peringatan Haktenas adalah menumbuhkembangkan kesadaran masyarakat tentang perlunya budaya iptek dalam kehidupan sehari-hari. Mendorong kreativitas dan inovasi iptek dalam diri masyarakat dalam meningkatkan daya saing masyarakat yang pada akhirnya akan memajukan bangsa. Selain itu, juga untuk mensosialisasikan iptek kepada masyarakat, termasuk pelajar dan mahasiswa, mensosislisasikan kebijakan-kebijakan pemerintah yang berkaitan dengan pengembangan iptek, serta terbangunnya kebersamaan antara pemangku kepentingan iptek. Demikian dikemukakan Menristek pada acara peluncuran Hakteknas ke-19 di Jakarta, Rabu (11/6).
Dari ketiga tema tersebut, Food, Energy and Water, Menristek menyoroti bahwa Indonesia sebenarnya sudah mampu membuat energi biodiesel atau bioetanol, hanya saja, setelah diproses harganya di atas Rp10 ribu, padahal bensin harganya hanya Rp6.500. Kalau mau biodiesel yang diberi subsidi, misalnya subsidi BBM yang hampir Rp300 triliun dipindahkan ke biodiesel, harganya tentu akan lebih murah dan pasti orang akan berlomba-lomba beralih.
Perlu diketahui, bahwa bioenergi ini lestari, kalau habis nanti bisa tanam lagi, dan proses lagi, tapi kalau BBM kemungkinan 15 tahun lagi sudah akan habis. “Jadi kalau mau nanti kebijakannya seperti itu,kita dorong pembuatan bioenergi, dan secara umum iptek untuk itu saya kira sudah ada,” pungkasnya.
Sementara itu, terkait tema Food, Menristek mengungkapkan hasil rata-rata nasional padi 5 ton per hektar, tapi varietas padi unggul hasil litbangyasa Batan sudah bisa menghasilkan 9-10 ton per hektar. “Jadi dengan pengembangan iptek kita bisa menyediakan padi, dan kedelai kita juga sudah siap bibit sebetulnya, tapi yang jadi masalah kenapa kedelai tetap kurang,” tutupnya. (red/ju/IP)














