Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LD FEB UI) menggelar riset bertajuk “Peran Ekosistem Gojek di Ekonomi Indonesia Sebelum dan Saat Pandemi COVID-19″. Riset itu mengungkap peran positif Gojek ke perekonomian Indonesia.
Dr. Paksi C.K Walandouw, Wakil Kepala LD menjelaskan pada 2019 kontribusi mitra GOJEK dari lima layanan (GoRide, GoCar, GoSend, GoFood dan GoPay) ke perekonomian Indonesia mencapai Rp 104,6 triliun, meningkat karena kenaikan kontribusi mitra, terutama GoFood, dan perluasan ekosistem.
Angka itu naik dibandingkan kontribusi di tahun 2017 dan 2018. Kontribusi ekonomi dihitung dari selisih pendapatan mitra sebelum dan sesudah bergabung ke dalam ekosistem Gojek.
Bila dihitung menggunakan metode pendapatan domestik bruto (PDB), ekosistem digital Gojek nilai produksinya setara dengan 1 persen PDB nasional.
Angka tersebut terdiri dari sumbangan langsung dari mitra GoRide dan GoCar di sektor transportasi darat, dan sumbangan tidak langsung dari UMKM, GoFood, GoPay, GoSend, dan efek multiplier yang digerakkan oleh ekosistem Gojek. Sumbangan ini secara relatif besar bila dibandingkan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) untuk beberapa Provinsi di Indonesia.
Keberadaan Gojek di sebuah kota juga menimbulkan efek domino di sektor lainnya. Dampak multiplier, atau kontribusi tidak langsung keberadaan Gojek pada ekonomi Indonesia di tahun 2019, mencapai Rp 17,5 triliun.
Hal itu dihitung dari selisih pendapatan UMKM di luar ekosistem Gojek (seperti bengkel yang digunakan mitra pengemudi, atau pedagang pasar yang menjual bahan baku ke mitra GoFood) sebelum dan setelah Gojek beroperasi di sebuah kota.
“Mayoritas (86 persen) UMKM di luar ekosistem Gojek seperti bengkel dan pedagang pasar mengalami peningkatan volume transaksi setelah ada Gojek di kotanya. Yang menarik adalah, lebih dari sepertiga UMKM (33 persen) mengaku bisa membuka cabang usaha baru setelah ada Gojek di kotanya,” kata Paksi.
“Ini artinya keberadaan platform digital di sebuah kota bisa membuat roda ekonomi bergerak semakin cepat,” jelas Paksi.
Riset LD FEB UI ini dilakukan di Jabodetabek, Medan, Palembang, Bandung, Jogja, Semarang, Surabaya, Bali, Makassar dengan menggunakan metode kuantitatif melalui wawancara tatap muka. Sedangkan untuk riset di masa pandemi COVID-19 dilakukan melalui survei online di wilayah yang sama.














