Tren bekerja jarak jauh (remote working) akan terus meningkat meski Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) telah memasuki masa transisi. Dengan mengadopsi teknologi cerdas, karyawan kini dapat berkolaborasi dan tetap produktif.
Dalam studi terbaru Lenovo yang berjudul “Technology and Evolving World of Work“, terungkap bagaimana karyawan di seluruh dunia merespon “normal baru” setelah mayoritas dari responden (72%) mengonfirmasi perubahan dinamika pekerjaan sehari-hari mereka dalam tiga bulan terakhir.
Bahkan, menurut Bain & Company, kebijakan kerja dari rumah menjadi permanen di beberapa organisasi ternama, dengan 60% perusahaan besar akan menerapkan lingkungan kolaboratif virtual-fisik yang fleksibel pada tahun 2021.
Dalam siaran pers, 19/8, Budi Janto, General Manager, Lenovo Indonesia menyatakan “2020 akan dikenang sebagai tahun saat dunia mengalami transisi cara kerja baru dengan sebagian besar masyarakat bekerja dari rumah. Pandemi global mengubah bisnis untuk memindahkan operasionalnya secara online dan beradaptasi dengan cara kerja baru; tenaga kerja yang tersebar.”
“Sayangnya, ketika karyawan tetap produktif selama masa transisi ini, begitu pula para penjahat siber. Ketidakpastian yang membayangi karyawan tentang keadaan global yang rumit dan dinamis, dikombinasikan dengan ketidaktahuan mereka dengan pengaturan cara kerja baru, menciptakan banyak peluang untuk serangan dunia siber. Penjahat siber memanfaatkan situasi ini untuk meluncurkan serangan mengatasnamakan COVID, upaya phishing, dan menyebarkan berita palsu. “
Menghindari hal itu, Lenovo memaparkan beberapa hal yang perlu dipahami organisasi untuk melindungi keamanan karyawan dan perusahaan, sekaligus mendukung karyawan agar tetap produktif.
Bekerja secara fleksibel: Apa artinya dan apa yang perlu organisasi ketahui?
Perhatikan blind spot anda.
Dengan karyawan mengakses data rahasia dari berbagai perangkat, lokasi, dan jaringan tidak aman, ini membuka lebih banyak end point dan kerentanan untuk serangan siber. Dalam dunia serba digital dan seluler, keamanan perangkat keras menjadi semakin penting, karena di seluruh dunia, setiap orang memiliki setidaknya 6,58 perangkat yang terhubung ke jaringan pada tahun 2020. Ini berarti bahwa jaringan, database, dan dokumen rahasia organisasi dapat diakses dari VPN yang tidak aman, jaringan tidak dikenal, dan akses keamanan yang rentan.
Mengadopsi pola pikir Zero Trust
Tenaga kerja yang tersebar menghilangkan kemewahan identifikasi dan validasi tatap muka. Ini berarti bahwa organisasi harus meningkatkan upaya mereka dalam tata kelola kredensial dan akses, serta terus mengedukasi karyawan untuk mengidentifikasi dan menyingkirkan penipuan, peniruan identitas dan upaya phishing. Seiring kecanggihan peretas, organisasi dan karyawan harus mengambil sikap Zero Trust dan menganut pola pikir ‘bersalah sampai terbukti tidak bersalah’ dalam hal keamanan siber.
Memberdayakan tenaga kerja yang tersebar dengan keamanan siber
Transisi ke lingkungan kerja yang terdesentralisasi membuat tim TI harus memperluas visibilitas platform dan ekosistem digital organisasi untuk mengidentifikasi dan mengurangi potensi ancaman dengan lebih cepat. Organisasi juga harus menerima risiko yang menyertainya dan menerapkan tindakan dan solusi yang tepat untuk menciptakan lingkungan yang aman dan kokoh bagi karyawan untuk beroperasi.
Sehingga, perlu ditekankan pentingnya peningkatan keamanan yang dibangun ke dalam perangkat keras, perangkat lunak, dan layanan karyawan (termasuk penerapan, penyiapan, dan pemeliharaan) secepat mungkin dalam lingkungan kerja jarak jauh seperti sekarang ini.














