ItWorks- Di acara tahunan Huawei Connect, perusahaan global ini memperkenalkan perubahan paradigma untuk transformasi digital di sektor industri, dengan tujuan menumbuhkan ekosistem yang kuat dan mendorong dikembangkannya solusi-solusi untuk skenario spesifik bagi masyarakat Asia Pasifik melalui sinergi teknologi.
Huawei Connect merupalkan acara tahunan unggulan yang diselenggarakan oleh Huawei untuk industri TIK global. Pergelaran ini merupakan ajang bagi Huawei dalam mengungkapkan strategi utamanya yang terus mengalami dinamika pada setiap tahunnya.
Paradigma baru yang diketengahkan yakni dengan mengutamakan ekosistem digital yang mampu menciptakan serta berbagi nilai untuk industri, melalui sinergi lintas konektivitas, komputasi, Cloud, Artificial Intelligence (AI), dan aplikasi industri.
Pada kesempataan itu, Huawei Rotating Chairman Guo Ping menyampaikan pidato sambutannya yang bertajuk “Menciptakan Nilai Baru melalui Sinergi di Lima Domain Teknologi”. Guo mengatakan, seiring dengan makin banyaknya pemerintahan dan perusahaan yang melakukan transformasi digital dan membutuhkan serta menerapkan sistem yang cerdas, pihaknya melihat potensi sektor TIK untuk terus tumbuh pun sangat besar. “Untuk itu, kami berharap dapat membuka babak baru penuh potensi ini bersama dengan para mitra kami,” ujarnya.
Dalam sambutannya, Guo Ping juga berbagi kisah sukses Huawei dalam membantu membangun perusahaan, kampus, dan kota cerdas, melalui pengintegrasian teknologi TIK dengan kebutuhan industri, serta memberikan solusi khusus dalam berbagai skenario untuk menciptakan nilai-nilai yang mampu mendukung optimalisasi program-program penting pemerintah maupun bisnis utama perusahaan. Pada fase berikutnya, Huawei akan bekerja dengan mitranya untuk menerapkan teknologi TIK ke industri, membantu perusahaan mengembangkan bisnis mereka dan membantu pemerintah mencapai tujuan strategis untuk meningkatkan industri dalam negeri, memberi manfaat kepada konstituen, dan meningkatkan tata kelola secara keseluruhan.
Huawei juga akan terus berinvestasi di domain bisnis dan telah mengusulkan konsep konektivitas cerdas yang bertujuan untuk menghadirkan jaringan hiper-otomatis yang menawarkan pengalaman deterministik dan akses gigabit di mana saja, serta memampukan peningkatan sistem bisnis utama pemerintah maupun perusahaan secara cerdas. Pada domain komputasi, Huawei berkomitmen untuk menyediakan daya komputasi yang beragam kepada pelanggan, memisahkan perangkat lunak dari perangkat keras untuk menyesuaikan komputasi dengan kebutuhan pemrosesan yang berbeda.
Pada domain layanan Cloud, Huawei telah membangun 23 region di seluruh dunia dan telah mampu menarik minat lebih dari 1,5 juta pengembang untuk memanfaatkannya.
Pada domain AI, Huawei bertujuan untuk lebih mengintegrasikan AI ke dalam sistem bisnis utama pemerintah dan perusahaan, menggunakan pengetahuan dan data untuk membangun kompetensi inti sistem AI.
Saat ini, konektivitas, komputasi, Cloud, dan AI sangat mirip kondisinya dengan teknologi listrik pada 100 tahun yang lalu, di mana aplikasi-aplikasi industri ibarat seperti peralatan rumah tangga yang saat itu membutuhkan listrik untuk menggerakkannya.
Huawei percaya bahwa sinergi di lima domain teknologi ini tidak hanya akan menghadirkan peluang bagi Huawei. Namun yang lebih penting lagi, sinergi-sinergi tersebut akan menciptakan peluang untuk berbagai sektor. Huawei berharap untuk dapat mengembangkan keseluruhan sinergi tersebut dengan mitranya agar para mitra dapat memperoleh manfaat dari rantai nilai baru dengan optimal.
“Seiring dengan telah diluncurkannya 5G dalam skala global, pada 2020, konektivitas, Cloud, AI, komputasi, dan aplikasi industri hadir bersama-sama dan bersinergi untuk menciptakan peluang-peluang yang belum pernah terjadi sebelumnya bagi transformasi digital Asia Pasifik,” kata Jay Chen, Vice President Huawei Asia Pasifik, melalui siaran pers (28/09) yang diterima ItWorks, di Jakarta.
Menurutnya, sinergi dari lima domain teknologi akan mengubah semua industri, baik itu transportasi, keuangan, ataupun energi, dan menciptakan nilai baru untuk wilayah Asia Pasific ini.
Pada kesempatan yang sama di Huawei Connect 2020 ini, Prof. Ir. Nizam, M.Sc, DIC, Ph.D., Dirjen DIKTI, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, Republik Indonesia mengutarakan, saat ini Indonesia tengah menghadapi Revolusi Industri ke-4 dan berbagai disrupsi di semua sektor yang kemuncullannya didorong oleh kreativitas serta teknologi. Setiap individu diharapkan memiliki peluang untuk dapat mengakses teknologi guna peningkatan kompetensi.
Menurutnya digitalisasi telah membukan peluang untuk pendayagunaan teknologi kecerdasan artifisial atau AI untuk membantu menjadikan pekerjaan atau produktivitas dapat dilakukan dengan lebih mudah dan efisien, serta menciptakan peluang-peluang bagi lahirnya inovasi-inovasi di dunia kesehatan, smart city, birokrasi cerdas, hingga menciptakan lapangan kerja baru di masa depan.
Prof. Nizam menambahkan, bersama Kementerian Riset dan Inovasi, Kementerian Pendidikan Tinggi telah membuat cetak biru untuk 5 tahun ke depan, termasuk tujuan pengembangan AI. Tujuannya terdiri dari mempersiapkan AI talent pool yang sesuai dengan kebutuhan industri, sehingga menciptakan lapangan kerja baru, meningkatkan kompetensi SDM Indonesia di bidang AI agar mampu bersaing secara global, serta mempersiapkan ekosistem pembelajaran dan inovasi AI yang baik.
“Kami akan menerapkan studi AI di universitas-universitas di Indonesia untuk menekankan pentingnya AI di sektor pendidikan. Kami juga akan membangun iklim baru digitalisasi pendidikan untuk mendorong terwujudnya kampus yang lebih cerdas dan lingkungan belajar yang lebih baik. Oleh karena itu, sangat penting bagi pendidikan tinggi dan industri untuk bekerja sama membangun wadah pembinaan bagi SDM masa depan, serta mengembangkan R&D untuk mendukung pengembangan AI di semua sektor. Ini merupakan fokus kerja sama kami, Dijen Dikti, dengan Huawei. Kami mengapresiasi dukungan penuh komitmen yang diberikan oleh mitra kami, Huawei, dan kami berharap kolaborasi ini dapat mendukung peningkatan kompetensi SDM AI di Indonesia sekaligus mempercepat penerapan teknologi AI di dunia pendidikan tinggi di Indonesia,” ujarnya. (AC)














