Dengan Socio Partnership Perhutani, Lestari Hutannya, Sejahtera Masyarakatnya

Penulis redaksi

Reporter: Nurdian Akhmad

Editor: Teguh Imam S.

Transformasi digital terus dijalankan oleh manajemen Perum Perhutani guna mendukung peran strategis perusahaan dalam pelestarian hutan. Dua dorongan besar Perhutani melakukan transformasi digital, pertama, adanya ketidakpastian dari ekosistem bisnis, baik terkait politik, sosial, ekonomi, lingkungan dan regulasi dari pemerintah.

Dorongan kedua, tren global industri 4.0 yang menjadi  satu keniscayaan, sehingga secara korporat Perum Perhutani mau tidak mau harus mengadopsi teknologi digital.

“Digitalisasi di Perum Perhutani  diimplementasikan mulai dari proses planning dan budgeting, kemudian persemaian dan penanaman, produksi, industri, penjualan, sampai ke pelanggan, masyarakat dan mitra,”  kata Hasto Widodo, Kepala Divisi IT, Perum Perhutani dalam Penjurian TOP DIGITAL Awards  2020 yang dilakukan secara daring oleh Majalah IT Works, Rabu (18/11/2020).

ERP di Perhutani

Kepada dewan juri Hasto menjelaskan, digitalisasi di Perum Perhutani  untuk backbone-nya sudah mengimplementasikan ERP, modul-modulnya mulai dari logistik sampai sales. Ujungnya ke depan akan dibangun solusi untuk marketplace.

Dengan digitalisasi tersebut, terang Hasto, proses-proses  bisnis yang selama ini masih silo-silo, manual atau terpisah-pisah diupayakan jadi terintegrasi. “Yang kita integrasikan end to end. Kita mengintegrasikan entitas kustomer, komunitas, partner termasuk juga industri.  Entitas tersebut juga teintegrasi dengan proses dan juga inventori, entah fisik maupun administasi,” ujar Hasto.

Terkait Industri 4.0, menurut Hasto, Perum Perhutani sudah memiliki IT Master Plan dari tahun 2020-2024 yang di dalamnya terdapat tahapan-tahapan untuk digitalisasi proses bisnis.

“IT master plan kita sebenarnya terkait dengan bisnisnya. Saat dia ber-impact terhadap bisnis, atau meng-improve pendapatan, itu kita masukkan. Kita sudah bikin rencana jangka panjang yang sudah sejalan dengan industri 4.0,” kata dia.

Untuk tahun 2020 ini, Perum Perhutani sudah merencanakan Smart Manufacture dengan penggunaan beberapa sensor di fasilitas industri milik perusahaan. Perum Perhutani juga akan mengimplementasi big data, terutama untuk pelanggan-pelanggan wisata.

“Jadi kita tangkap profiling dari pengunjung-pengunjung wisata. Mereka harus registrasi ke Wifi, tapi teknologi big data ini baru akan kita implementasikan pada tahun 2023.”

“Dari big data kemudian kita akan mulai mengimplementasikan artificial intelligence atau AI. Kita sampai tahun 2021 masih fokus pada digitalisasi di proses utamanya dulu, jadi dominan di ERP dan CRM, baru kemudian peran teknologi,” tutur Hasto.

Hasto mengakui, transformasi digital di Perhutani yang memiliki background bisnis di industri kehutanan tidak mudah. Tantangannya adalah mentransformasikan pegawai yang selama ini kurang familier dengan teknologi digital.

“Sebab itu, selama dua tahun terakhir, 2019-2020, kami secara massif mengenalkan teknologi digital ke 18 ribu pegawai tetap dan sekitar 700 tenaga kontrak. Karena mereka yang akan jadi ujung tombak.”

“Industri 4.0 jadi konsideran utama kita, selain dari sisi eksternal ada masalah di politik, ekonomi dan sosial,” ujarnya.

Perum Perhutani dalam Penjurian TOP DIGITAL Awards 2020 yang dilakukan secara daring oleh Majalah IT Works, Rabu (18/11/2020). (Dokumentasi: IT Works).

Solusi TI di Perhutani

Menurut Hasto, salah satu tugas utama Perhutani adalah menjaga kelestarian hutan yang ada di Pulau Jawa dengan luas mencapai 2,4 juta hektare. Di lahan hutan tersebut, ada tiga kategori hutan lestari yakni hutan produksi, hutan adaptif, dan hutan lindung.

“Hutan adaptif adalah hutan-hutan yang interaksi dengan masyarakatnya tinggi. Itu yang menyebabkan hutannya jadi gundul, karena mereka menebang pohon dan merusak hutan. Solusinya kita tidak memagari hutan, tapi kita bekerja sama. Petani kita ajak kerja sama melalui sistem, yakni Socio Partnership,” tutur dia.

“Prosesnya, petani penggarap harus registrasi dulu ke sistem Socio Partnership agar mereka menjadi eligible dan terdaftar. “Yang tadinya penggarap tanamnya asal-asalan, kalau bekerja sama dengan kita, aturan mainnya kita sepakati. Misalnya kita tanamnya tumpang sari, sehingga tanaman hutannya tetap terjaga.”

“Untuk mengikatnya, masyarakat  atau petani penggarap berkumpul dalam lembaga masyarakat di sekitar hutan. Kita sekarang punya kelompok-kelompok tani penggarap, jadi dengan kerja sama ini kita bisa memastikan kelestarian kawasan hutan termasuk juga memastikan kesejahtera petani penggaraap sekitar hutan,” papar dia.

Saat ini, menurut Hasto, masyarakat yang terlibat di lahan Perhutani ada sekitar 2 juta orang. Dari jumlah tersebut, yang sudah masuk ke sistem Socio Partnership ada 300 ribu petani penggarap dengan 17 produk agro yang dihasilkan. Dengan aplikasi ini, pihaknya bisa mengetahui nilai manfaat dari lahan hutan adaptif yang digarap petani. “Kontribusi Perhutani yang selama ini tidak terlihat, sekarang ini bisa tercatat,” Hasto mengklaim.

Permasalahannya, menurut dia, masyarakat penggarap ini sangat tradisional dan sangat terikat dengan pengijon. Hal itu karena penggarap mendapat dana awal untuk saprotan dari pengijon, sehingga harga panen tergantung pengijon. Sebab itu, melalui Socio Partnership, Perhutani menjadi off taker atau pembeli dari hasil hutan petani penggarap yang tergabung di aplikasi.

Untuk menampung hasil panen petani, Perum Perhutani menjajaki kerja sama dengan platforme-commerce yakni iGrow dan PaDI UMKM yang dikembangkan PT Telkom.

“Jadi harga jual hasil panen dari penggarap sekarang lebih bagus, termasuk kami menyediakan pendanaannya.  Perhutani telah bekerja sama dengan beberapa bank untuk memberikan pendanaan kepada petani penggarap,” ujar dia.

Perum Perhutani juga sudah menerapkan sistem Geographic Information System (GIS) secara parsial untuk memastikan tutupan hutan. Untuk memetakan secara spasial dari kondisi hutan, pihaknya sudah memiliki 5 drone fixed wing yang bisa menjangkau total 2,4 juta hektar lahan hutan.  “Sekarang untuk data spasial ini masih terpisah, Kita akan membuat platform geospasial menjadi single platform pada 2023,” ujar Hasto.

Kemudian, Perum Perhutani sejak empat tahun terakhir sudah memiliki platform e-comerce untuk menjual kayu gelondongan (log) dengan nama tokoperhutani.com.  “Ini salah satu e-commerce kita yang beberapa kali dapat penghargaan karena omset penjualannya yang cukup tinggi mencapai Rp 1,7 triliun per tahun,” tutup dia.

Baca: Perhutani dan Telkom Kick Off Implementasi ERP Trembesi

Baca: Solusi Perhutani 4.0 untuk Transformasi Digital

BACA JUGA

Leave a Comment